alexametrics
Minggu, 13 Jun 2021
radarsolo
Home > Features
icon featured
Features

Tri Dewo Putro, Setiap Hari Racik Obat Herbal Gratis bagi Masyarakat

Tak Mau Dibayar, Bahagia Lihat Pasien Sembuh

08 Juni 2021, 10: 22: 04 WIB | editor : Fery Ardy Susanto

BERJIWA SOSIAL: Tri Dewo Putro melayani masyarakat dengan obat herbal yang diramu sendiri.

BERJIWA SOSIAL: Tri Dewo Putro melayani masyarakat dengan obat herbal yang diramu sendiri. (A. CHRISTIAN/RADAR SOLO)

Share this      

PERNAH menderita kanker dan sembuh dengan ramuan racikan obat sendiri, membuat Tri Dewo Putro “berutang”. Kini dia mengabdikan diri untuk membantu pengobatan orang-orang yang menderita beragam penyakit dengan sukarela.

A. CHRISTIAN,Solo, Radar Solo

Pria berambut gondrong ini sedang asik merebus ramuan herbal di koridor rumah orang tuanya yang disulap menjadi dapur. Jawa Pos Radar Solo sempat menunggu di teras rumah yang dijadikan lapak wedangan. Di depan teras rumah yang beralamat di  RT 03 RW 04  Jalan Bromantakan No 22 Kelurahan Punggawan, Kecamatan Banjarsari ini terpasang spanduk bertuliskan nDalem Rempah.

Baca juga: Pahlawan Mochtar

Terdapat gerobak khas wedangan, namun isinnya beragam herbal dalam bentuk serbuk siap seduh. Di dinding terdapat etalase, tersusun rapi ratusan toples berisi herbal kering. Ada yang namanya tak asing di telinga seperti kayumanis, laos, temulawak, daun sirsat dan beragam lainnya. Adapula yang dirasa masih asing seperti rumput mutiara, pasak bumi, dlingo, hingga telur kodok.

"Ada sekitar 186 jenis bahan herbal. Ada jamur, daun, batang, akar, biji, buah, umbi-umbian, dan masih banyak lagi. Ini masih ada 50 bahan baru, masih di Bandung baru dikirim minggu depan," ujar Tri Dewo membuka obrolan ketika Jawa Pos Radar Solo asyik melihat tulisan pada toples.

Untuk herbal kering, lanjut Tri, biasanya diberikan kepada mereka yang mau dibawa pulang, sedangkan jenis serbuk untuk diminum di tempat agar mempersingkat waktu. "Ini semua gratis, tidak bayar. Kenapa? Saya selalu bilang sama mereka, saya buat ini ikhlas, dan rezeki pasti ada gantinya. Karena doa mereka ini yang membuka pintu rezeki saya yang lain. Jadi cukup bayar doa," ujar Tri.

Baru setahun dia membuka warung herbal gratis ini. Tepat kala pertama virus Covid-19 mulai merajalela. Pria yang dulunya sehari-hari bekeja sebagai konsultan keuangan di Ibu Kota Jakarta ini sepi job. Karena tak ada pekerjaan, dia memilih pulang kampung.

"Di sini, dia lantas bertemu dengan teman-teman lamanya semasa kuliah. Karena sudah berumur, rata-rata sudah memiliki beragam penyakit. Seperti diabetes, asam urat, terus kolesterol, hipertensi, dan macam-macamlah. Biasa penyakit orang tua," kelakar Tri.

Saat berkumpul, acap kali teman-temannya ini lantas diminta agar dibuatkan ramuan herbal oleh Tri. Memang di kalangan rekan-rekannya, Tri dikenal ahli meramu jamu. "Awalnya untuk saya sendiri, karena dulunya saya menderita kanker. Zaman dulu pengobatan kanker kan mahal. Belum ditanggung BPJS seperti sekarang. Karena tidak kuat bayar biaya pengobatan ya saya cari pengobatan lain. Akhirnya saya buat obat sendiri dari herbal. Alhamdulillah sembuh,” paparnya.

Keahlian Tri ini lantas menyebar dari mulut ke mulut. Banyak orang datang ke rumahnya agar dibuatkan ramuan herbal dari rempah-rempah tradisonal. "Dari situ, saya jadi semakin banyak belajar. Oh, diabetes itu herbalnya ini, kalau kolesterol herbalnya itu, dan lain sebagainya," katanya.

Dia juga tidak sembarangan membuat ramuan obat. Setiap pasien yang datang selalu ditanya soal latar belakang penyakitnya. "Biasanya kalau ada yang datang, misal dia sakit diabetes, gitu, saya tanya penyebabnya diabetes itu apa, kemudian kalau hipertensi itu kenapa. Jadi ketika saya buat ramuan biar pas. Jadi selain mengobati penyakitnya, saya juga mengobati penyebabnya," ungkap Tri.

Lama-kelamaan, nama Tri semakin dikenal. Banyak orang luar kota yang menghubungi dia untuk dibuatkan obat herbal. Padahal, orang tersebut tidak pernah sama sekali berhubungan, bahkan kenal dengan Tri. "Katanya kenal dari A, kenal dari B. Saya masih saudaranya si C. Tetap saya layani, saya tanya keluhannya apa, dan lain sebagainya," ujarnya.

Bagi pasien luar kota biasanya dikirim lewat ekspedisi. Biaya kirimnya dia yang tanggung. Banyak yang mau mengganti biaya kirim itu dia tolak semua. "Saya bantu mereka itu sudah senang. Saya pernah sakit kanker dan bisa sembuh itu bahagia sekali. Rasa senang mereka itu sudah cukup untuk saya. Biasanya yang saya kirim sehari bisa sekitar 15," tambah Tri.

Sebelum mengkonsumsi ramuan dari Tri, biasnaya dia selalu memberi pesan agar percaya kalau setelah meminum ramuan tersebut akan sembuh. "Karena semua penyakit itu obatnya 70 persen kita percaya dulu. Kemudian sisanya percaya kepada Sang Maha Kuasa, pasti sembuh," ujarnya.

Dalam sehari, bisa lima sampai 15 orang yang datang ke rumahnya untuk dibuatkan ramuan herbal dengan beragam penyakit. Mulai dari kasusnya ringan sampai penyakit berat seperti kanker dan HIV. "Kalau sekarang yang paling banyak keluhanya kanker payudara. Ada yang masih stadium 1, ada juga yang pascaoperasi," katanya. (*/bun)

(rs/atn/fer/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news