alexametrics
Minggu, 13 Jun 2021
radarsolo
Home > Features
icon featured
Features

AR Sugeng Riyadi, Pencetus Ide Mobil Casamo Assalaam

Klaim Keempat di Indonesia, Share Astronomi

09 Juni 2021, 16: 25: 48 WIB | editor : Fery Ardy Susanto

LEBIH CANGGIH: AR Sugeng Riyadi dan mobil Casamo Assalaam

LEBIH CANGGIH: AR Sugeng Riyadi dan mobil Casamo Assalaam (MANNISA ELFIRA/RADAR SOLO)

Share this      

AHLI astronomi AR Sugeng Riyadi memiliki obsesi membumikan astronomi kepada santri dan masyarakat. Caranya dengan membuat Club Astronomi Santri Assalaam Mobile Observatory (Casamo).  Mobil khusus astronomi untuk edukasi. Seperti apa idenya?

MANNISA ELFIRASukoharjo, Radar Solo

DI tengah kesibukan dia sebagai kepala Pusat Astronomi Pondok Pesantren Modern Islam (PPMI) Assalaam, AR Sugeng Riyadi masih menyempatkan diri berbincang dengan Jawa Pos Radar Solo di ruang humas PPMI Assalaam, Senin kemarin (7/6).

Baca juga: Promo Makanan Picu Kerumunan, Tim Sparta Terpaksa Bubarkan Antrian

Pria kelahiran Semarang, 1 Desember 1972 ini bercerita, sebenarnya ada banyak ide dibenaknya. Mulai dari observatorium, planetorium, casamo, dan peralatan astronomi lainnya. Satu per satu idenya ini mulai terwujud.

Berawal terbentuknya Club Astronomi Santri Assalaam (Casa) pada 2005, sejak saat itu mulai ada kegiatan berkaitan dengan astronomi. Namun, pada 2005 hingga 2007 kegiatannya hanya menggunakan teleskop manual. Lalu pada 2008, mulailah keluar ke Pantai Parangtritis Jogja.

“Nah, 2010 yayasan (Ponpes Assalaam) mulai membangun observatorium. Pada 2011, observatorium selesai dibangun dan perdana digunakan untuk melihat gerhana bulan total. Kemudian pada 2012, ada fenomena langka gerhana planet venus. Yang terjadinya 105 tahun lagi setelah 2012. Selama setahun  berjalan, mulailah diizinkan beli telesekop. Saat ini kami punya 20 lebih teleskop kecil, besar, hingga rangkaian,” jelasnya.

Perizinan bertahap tujuannya agar semuanya terbiasa dulu mengoperasikan peralatan astronomi. Kemudian ponpes baru tertarik dengan Casamo pada 2016 atau 2017. Saat Sugeng mengeluarkan majalah astronomi pertamanya. Di majalah tersebut Sugeng menampilkan gambar mobil dan tulisannya.

“Tantangannya ya kesabaran. Bagaimana cara meyakinkan yayasan (ponpes) untuk menerima ide saya. Ternyata jurus jitunya lewat majalah.  Kemudian saya diminta mulai mempresentasikan lalu membuatnya,” ujarnya.    

Mempersiapkannya mulai 2019,  ponpes baru benar-benar menerima ide itu pada 2020. Mobil Casamo ini direncanakan selesai setengah tahun. Namun, pandemi keburu melanda saat itu. Akhirnya sempat terkendala hingga akhirnya berhasil diselesaikan.

“Untuk desain mobil, saya sendiri yang mengambar dan mewarnai. Sedangkan karoserinya kami bawa ke Magelang prosesnya tiga sampai empat bulan,” tambahnya.

Soal Casamo ini Sugeng terinspirasi dari perpustakaan keliling. Jadi akan lebih mudah menjangkau masyarakat kecil yang belum tersentuh langsung ilmu astronomi. Dengan Casamo ini santri dapat membuktikan apa yang bisa dilakukan oleh ilmu pengetahuan dan teknologi terhadap kehidupan beragama.

Sugeng menjelaskan, spesifikasi Casamo berupa mobil Mithsubishi F71 atau angkel. Yakni beroda empat namun kekuatannya seperi truk. Ada kaki empat juga selain ban. Agar tidak terjadi goyangan. Mobil ini dilengkapo AC, alat-alat, souvenirsoftware, LCD, serta genset yang digunakan saat tour di tempat tanpa listrik.

Kemudian terdapat empat teleskop, digital dan manual. Masing-masing dua. Satu teleskop terbesar dan permanen bermerek Hobym Crux 200 Harmonic Drive Mount yang bisa dinaikkan ke rooftop mobil. Lalu ada semacam teleskop pembalik pakai cermin delapan inchi. Fungsinya untuk memotret sampai nebula atau galaksi yang jauh. Ada juga teleskop kecil yang bisa melihat matahari atau bulan. Sehingga tata surya bisa diamati. Termasuk teleskop manual yang bisa dioperasikan masyarakat. Mereka tinggal mengamati lewat LCD.

Tidak banyak lembaga yang memiliki mobil astronomi ini. Sugeng mengklaim Casamo merupakan yang keempat di Indonesia. Setelah Planetorium Jakarta dan dua miliki Nahdlatul Ulama (NU).

“Setelah Casamo nanti mudah-mudahan bisa mewujudkan planetarium. Di dalam planetarium ini cukup ada operator yang menyalakan seperti film dalam layar berbentuk kubah. Jadi kita melihat planet benar-benar seperti nyata,” harapnya. (*/bun)

(rs/bram/fer/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news