alexametrics
Minggu, 13 Jun 2021
radarsolo
Home > Ekonomi & Bisnis
icon featured
Ekonomi & Bisnis

Tol Padat, Indikator Ekonomi di Kota Solo Bergeliat

10 Juni 2021, 10: 26: 29 WIB | editor : Fery Ardy Susanto

LANCAR: Kendaraan melintas di Tol Solo-Ngawi belum lama ini.

LANCAR: Kendaraan melintas di Tol Solo-Ngawi belum lama ini. (RADAR SOLO PHOTO)

Share this      

SOLO - Bank Indonesia (BI) Solo optimistis aktivitas ekonomi di Kota Bengawan mulai menggeliat. Itu ditunjukkan saat Ramadan hingga Lebaran lalu. Kendati ada pembatasan mudik, namun permintaan uang kartal meningkat. Bahkan traffic jalan tol di Solo cukup padat.

“Permintaan uang kartal dari tahun lalu hanya Rp 3 triliun. Sekarang jadi Rp 4,2 triliun. Traffic keluar masuk jalan tol di Solo juga sudah tinggi. Inilah alasan kami optimistis Kota Solo secara ekonomi sudah memasuki zona positif dan tinggi," ungkap Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Solo Nugroho Joko Prastowo, Rabu (9/6).

Diterangkan Nugroho, secara historis, tingkat ekonomi di Kota Bengawan dan sekitarnya selalu lebih tinggi dari Jateng dan dan nasional. Optimisme ini didukung faktor based tahun lalu yang rendah, minus 5,3 persen, sedangkan triwulan II tahun lalu, pertumbuhan ekonomi di Solo rendah, negatif 5 persen.

Baca juga: Kisah Waton Ngakak Band Hibur Pasien Covid di Asrama Haji Donohudan

“Sehingga kalau pun pertumbuhan ekonominya positif 2 persen, Karena dulu negatif 5 persen, maka pertumbuhannya sekitar 7 persen. Maka triwulan II prediksinya akan positif dan tinggi sekitar 7 persen bahkan lebih," urai dia.

Soal kredit, Nugroho menyebut angka kredit di Kota Bengawan masih positif. Jika dibandingkan secara nasional yang angka kreditnya negatif 11 persen pada tahun lalu, di Kota Solo masih positif. Kendati mengalami penurunan, namun tidak sampai negatif. Biasanya bisa mencapai di atas 10 persen.

“Sekarang mulai naik lagi. Beberapa kredit mulai meningkat. Salah satunya kredit kendaraan bermotor karena banyak insentif," ucapnya.

Lebih lanjut diterangkan Nugroho, permasalahan ekonomi selalu berkaitan dengan soal kesehatan. Jika ada lonjakan kasus Covid-19, pasti ada kebijakan pembatasan sosial yang berpengaruh pada aktivitas ekonomi.

“Jadi ekonomi ini dampak. Bukan penyebab. Peningkatan jumlah vaksin yang membuat tingkat kasus menurun. Itu sumber konfiden aktivitas ekonomi," pungkasnya. (aya/wa/dam)

(rs/aya/fer/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news