alexametrics
Minggu, 13 Jun 2021
radarsolo
Home > Klaten
icon featured
Klaten

Hadapi Kemarau, Warga Desa Balerante Andalkan Pamsimas

10 Juni 2021, 11: 09: 51 WIB | editor : Fery Ardy Susanto

TERBANTU: Warga Balerante tak lagi kekurangan air bersih.

TERBANTU: Warga Balerante tak lagi kekurangan air bersih. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Share this      

KLATEN – Warga Desa Balerante, Kecamatan Kemalang di lereng Merapi tak perlu khawatir ketika memasuki musim kemarau. Mengingat sejak 2020, kebutuhan air bersihnya sudah tercukupi melalui program penyediaan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat (Pamsimas).

Beberapa tahun sebelumnya Desa Balerante menjadi salah satu daerah rawan bencana kekeringan ketika musim kemarau tiba. Bahkan warganya sempat harus membeli air bersih untuk bisa mencukupi kebutuhan sehari-harinya. Tetapi cerita itu kini sudah tidak ada lagi karena air sudah teraliri hingga di rumah masing-masing.

"Sampai Juni 2021 ini aman terkait suplai air bersih ke rumah warga, semenjak ada program pamsimas. Memanfaatkan sumber dari mata air Bebeng yang ada di wilayah Sleman. Total ada 560 rumah di Balerante yang sudah memiliki sambungan air bersih dengan pipanisasi," jelas Kepala Urusan (Kaur) Perencanaan Pemerintah Desa Balerante, Jainu, kemarin (9/6).

Baca juga: Klaster Plosoarum Tersisa 4 Pasien, Lockdown Pun Dibuka

Jainu menambahkan, sebelum 2020, sebenarnya warga Balerante sudah memanfaatkan sumber mata air Bebeng. Hanya saja saat itu baru bisa mencukupi warga yang berada di daerah atas. Sedangkan warga yang tinggal bawah tidak tercukupi sehingga harus membeli air bersih.

Kondisi tersebut membuat pihak desa membangun jaringan untuk bisa menyuplai air bersih ke seluruh warga Balerante. Memanfaatkan anggaran dari APBD 2019 sebesar Rp 800 juta dan ditambah dana desa Rp 200 juta. Akhirnya sejak 2020 warga Balerante tidak harus membeli air bersih lagi karena tercukupi.

"Untuk kebutuhan air bersih bagi rumah tangga biasa dalam sebulan sekitar 15 ribu liter hingga 20 ribu liter. Sedangkan kalau bagi warga untuk kebutuhan air bersih ditambah untuk ternak pastinya membutuhkan lebih dari itu," jelas Jainu.

Dia mengungkapkan, pengelolaan air bersih yang terdistribusikan ke seluruh rumah warga itu dibentuk kepengurusan khusus. Warga yang menggunakan air bersih itu cukup membayarkan sebesar Rp 2.000 per meter kubik. Iuran tersebut digunakan untuk mendukung perawatan hingga pengelolaan pendistribusian air bersih itu.

"Kalau berkaca pada 2020 kemarin ketika musim kemarau tiba memang ada beberapa warga yang tetap membeli air bersih. Khususnya mereka yang tinggal di bawah tetapi tidak lebih dari 10 tangki. Apalagi dengan program pamsimas ini memberikan manfaat kepada 600 Kepala Keluarga (KK) atau sekitar 2028 jiwa," ucapnya.

Salah seorang warga Desa Balerante, Jalono, 25 mengaku, semenjak adanya program pamsimas itu sangat terbantu. Terutama untuk memenuhi kebutuhan air bersih ketika musim kemarau tiba karena dirinya juga memiliki ternak sapi sebanyak enam ekor.

"Adanya pamsimas ini tentunya sangat menghemat sekali. Rata-rata per bulan hanya membayarkan Rp 50 ribu per bulan. Kebutuhan air bersih sudah pasti tercukupi," ucap Jalono.

Dia mengungkapkan, sebelum ada program pamsimas itu dirinya harus merogoh kocek ratusan ribu untuk membeli air bersih guna mencukupi kebutuhan sehari-hari terutama di musim kemarau. Tetapi kini dirinya tidak khawatir lagi karena desanya sudah terbebas dari daerah rawan bencana kekeringan. (ren/adi/dam)

(rs/ren/fer/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 
Follow us and never miss the news