alexametrics
23.3 C
Surakarta
Wednesday, 17 August 2022

Mengeroyok Sang Filsuf di Musim Baru Premier League

Sejak melatih Manchester City pada 2016–2017 atau dalam enam musim terakhir, Pep Guardiola berhasil mempersembahkan empat gelar Premier League.

Capaian yang tidak akan dibiarkan berlanjut oleh para koleganya, khususnya tactician big six lainnya.

Memenangi Community Shield akhir pekan lalu (31/7) menjadikan Jurgen Klopp sebagai pelatih dengan koleksi gelar komplet di sebuah klub Premier League.

Sebelumnya, Klopp sudah membawa Liverpool FC memenangi Premier League, Piala Liga, Piala FA, Liga Champions, Piala Super Eropa, hingga Piala Dunia Antarklub.

Meski begitu, Klopp bukan pelatih yang have to beat di Premier League. Predikat itu menjadi milik Pep yang notabene rival intens Klopp dalam empat musim terakhir.

Musim ini (2022–2023), Pep mengusung misi hat-trick juara. Misi yang juga sudah menjadi target Sang Filsuf pada 2019–2020.

Tapi, kala itu Klopp berhasil menggagalkannya sekaligus melepas puasa gelar bagi LFC di era Premier League sekaligus titel perdana selama 30 tahun.

Berkaca dari kemenangan 3-1 atas City di Community Shield, Klopp memang ancaman serius bagi misi Pep. ”Sejak dulu aku memang penggemar sosok Pep.

Namun, sekarang, aku juga melihat Klopp me-manage skuadnya sama seperti yang Pep lakukan di City,” kata Glen Johnson, mantan bek kanan LFC yang kini menjadi pandit, kepada BetWay.

Menurut Johnson, Klopp membangun skuad yang kompetitif untuk bersaing tak hanya di ajang prioritas seperti Premier League dan Liga Champions, tetapi juga Piala FA dan Piala Liga.

”Momen ketika Klopp memilih tim dengan banyak pemain muda yang ingin mencari pengalaman sudah tidak ditemukan lagi (di LFC, Red),” beber bek kanan timnas Inggris di Piala Dunia 2010 dan 2014 serta Euro 2012 itu.

Bukan hanya Klopp, empat tactician dari big six menjadikan Pep sebagai parameter mengukur kekuatan tim mereka.

Artinya, kalau bisa mengalahkan City, berarti tim mereka layak jadi penantang gelar. Seperti yang diungkapkan tactician Tottenham Hotspur Antonio Conte.

Musim lalu, Spurs menjadi satu-satunya tim yang mampu men-double (dua kali mengalahkan) City di Premier League.

Salah satunya ketika Conte sudah menangani Hugo Lloris dkk dengan kemenangan 3-2 di Etihad Stadium (20/2). Pelatih berjuluk The Godfather itu memang termasuk yang memberi atensi lebih terhadap laga-laga kontra big six.

”Targetku adalah, ketika pelatih lain menghadapi Spurs, mereka merasakan kecemasan hebat. Kini, aku punya komposisi tim yang bisa mewujudkan itu,’’ ujar Conte kepada Daily Mail.

Memiliki mantan anak asuh Pep juga bisa jadi bekal Mikel Arteta (Arsenal) maupun Thomas Tuchel (Chelsea) unggul saat beradu taktik dengan Sang Filsuf.

Arteta berhasil mendapatkan Gabriel Jesus dan Oleksandr Zinchenko, sedangkan Tuchel memiliki Raheem Sterling.

Tantangan berbeda dirasakan Erik ten Hag sebagai pelatih newbie di Premier League.

Apalagi, Ten Hag memiliki tugas untuk membangkitkan lagi performa Manchester United sebelum beradu dengan Pep bersama City yang sudah mapan.

Sejak melatih Manchester City pada 2016–2017 atau dalam enam musim terakhir, Pep Guardiola berhasil mempersembahkan empat gelar Premier League.

Capaian yang tidak akan dibiarkan berlanjut oleh para koleganya, khususnya tactician big six lainnya.

Memenangi Community Shield akhir pekan lalu (31/7) menjadikan Jurgen Klopp sebagai pelatih dengan koleksi gelar komplet di sebuah klub Premier League.

Sebelumnya, Klopp sudah membawa Liverpool FC memenangi Premier League, Piala Liga, Piala FA, Liga Champions, Piala Super Eropa, hingga Piala Dunia Antarklub.

Meski begitu, Klopp bukan pelatih yang have to beat di Premier League. Predikat itu menjadi milik Pep yang notabene rival intens Klopp dalam empat musim terakhir.

Musim ini (2022–2023), Pep mengusung misi hat-trick juara. Misi yang juga sudah menjadi target Sang Filsuf pada 2019–2020.

Tapi, kala itu Klopp berhasil menggagalkannya sekaligus melepas puasa gelar bagi LFC di era Premier League sekaligus titel perdana selama 30 tahun.

Berkaca dari kemenangan 3-1 atas City di Community Shield, Klopp memang ancaman serius bagi misi Pep. ”Sejak dulu aku memang penggemar sosok Pep.

Namun, sekarang, aku juga melihat Klopp me-manage skuadnya sama seperti yang Pep lakukan di City,” kata Glen Johnson, mantan bek kanan LFC yang kini menjadi pandit, kepada BetWay.

Menurut Johnson, Klopp membangun skuad yang kompetitif untuk bersaing tak hanya di ajang prioritas seperti Premier League dan Liga Champions, tetapi juga Piala FA dan Piala Liga.

”Momen ketika Klopp memilih tim dengan banyak pemain muda yang ingin mencari pengalaman sudah tidak ditemukan lagi (di LFC, Red),” beber bek kanan timnas Inggris di Piala Dunia 2010 dan 2014 serta Euro 2012 itu.

Bukan hanya Klopp, empat tactician dari big six menjadikan Pep sebagai parameter mengukur kekuatan tim mereka.

Artinya, kalau bisa mengalahkan City, berarti tim mereka layak jadi penantang gelar. Seperti yang diungkapkan tactician Tottenham Hotspur Antonio Conte.

Musim lalu, Spurs menjadi satu-satunya tim yang mampu men-double (dua kali mengalahkan) City di Premier League.

Salah satunya ketika Conte sudah menangani Hugo Lloris dkk dengan kemenangan 3-2 di Etihad Stadium (20/2). Pelatih berjuluk The Godfather itu memang termasuk yang memberi atensi lebih terhadap laga-laga kontra big six.

”Targetku adalah, ketika pelatih lain menghadapi Spurs, mereka merasakan kecemasan hebat. Kini, aku punya komposisi tim yang bisa mewujudkan itu,’’ ujar Conte kepada Daily Mail.

Memiliki mantan anak asuh Pep juga bisa jadi bekal Mikel Arteta (Arsenal) maupun Thomas Tuchel (Chelsea) unggul saat beradu taktik dengan Sang Filsuf.

Arteta berhasil mendapatkan Gabriel Jesus dan Oleksandr Zinchenko, sedangkan Tuchel memiliki Raheem Sterling.

Tantangan berbeda dirasakan Erik ten Hag sebagai pelatih newbie di Premier League.

Apalagi, Ten Hag memiliki tugas untuk membangkitkan lagi performa Manchester United sebelum beradu dengan Pep bersama City yang sudah mapan.

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/