Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Ini Isi Pembahasan Pertemuan Suporter dengan Manajemen Persis Solo dan Kaesang Pangarep: Pasoepati, Surakartans hingga Ultras 1923 Utarakan Kritik Pedas

Niko auglandy • Senin, 12 Januari 2026 | 19:00 WIB
Owner Persis Solo Kaesang Pangarep bertemu dengan perwakilan suporter, Jumat (9/1/2026)
Owner Persis Solo Kaesang Pangarep bertemu dengan perwakilan suporter, Jumat (9/1/2026)

RADARSOLO.COM - Manajemen Persis Solo menggelar pertemuan tertutup dengan elemen suporter pada Jumat (9/1/2026). Pertemuan ini menjadi ruang dialog menyusul rentetan hasil buruk yang dialami Laskar Sambernyawa pada paruh musim Super League 2025/2026.

Dalam forum tersebut, suporter secara terbuka menyampaikan kekecewaan, kemarahan, hingga tuntutan tegas kepada manajemen klub.

Mereka menilai performa Persis bukan lagi sekadar soal nasib, melainkan cerminan kegagalan sistemik dalam pengelolaan tim.

Sekretaris Jenderal DPP Pasoepati M. Isnaini membacakan tuntutan resmi aksi suporter.

Dia menegaskan bahwa permainan Persis Solo dinilai tanpa arah, minim mental bertanding, dan jauh dari target yang telah dicanangkan.

Kondisi tersebut dianggap mencederai sejarah dan harga diri klub.

Suporter juga menyoroti kinerja manajemen yang dinilai gagal dalam merancang tim kompetitif, mengambil keputusan strategis, serta membangun komunikasi yang jujur dengan pendukung.

Selain itu, proses rekrutmen pelatih dan pemain disebut tidak sesuai kebutuhan tim dan tanpa visi jangka panjang.

Masalah lain yang disorot adalah kegagalan manajemen dalam menarik dan mengelola sponsor, padahal Persis Solo memiliki basis suporter yang besar.

Atas dasar itu, suporter menuntut evaluasi total jajaran manajemen, perombakan sistem rekrutmen pemain, serta transparansi kepada publik dan suporter.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Utama Persis Solo Ginda Ferachtriawan mengakui adanya masalah komunikasi dan performa tim.

Dia menyebut seluruh tuntutan telah dicatat dan akan menjadi bahan evaluasi.

Namun demikian, manajemen membutuhkan waktu untuk melakukan perbaikan menyeluruh.

“Kalau ganti pelatih bisa kapan pun, tapi untuk pergantian pemain harus menunggu paruh musim. Masalah utama saat ini adalah mental pemain karena kekalahan yang terus berulang,” ujar Ginda.

Komisaris Persis Solo Ditya Rimbo turut menyampaikan permintaan maaf kepada suporter.

Dia menegaskan bahwa manajemen sedang bekerja keras dan mengakui sistem klub menjadi persoalan utama yang harus segera dibenahi.

Sementara itu, Owner Persis Solo Kaesang Pangarep juga hadir dan menyampaikan permohonan maaf secara langsung.

Ia mengakui kinerja manajemen belum maksimal, terlebih dengan kesibukannya di Jakarta yang berkaitan dengan aktivitas politik.

“Saya tidak mungkin ingin Persis degradasi. Saya sudah mengeluarkan uang banyak. Secara kepemilikan saya masih pegang kendali,” kata Kaesang.

Ia pun menegaskan komitmennya untuk tidak mencampuradukkan politik dengan sepak bola, sekaligus meminta kejujuran dari suporter apakah masih menginginkan dirinya bertahan sebagai pemilik klub.

Presiden DPP Pasoepati Jodi menambahkan bahwa mayoritas suporter masih ingin Persis Solo dipimpin Kaesang Pangarep.

Pertemuan ini, kata dia, bertujuan menjawab berbagai stigma yang berkembang di media sosial serta mendorong evaluasi manajemen secara langsung.

Perwakilan Surakartans meminta Kaesang lebih sering hadir, setidaknya menyaksikan pertandingan atau latihan.

Dia menilai kondisi tim sudah sangat memprihatinkan, mulai dari kontrol bola, kesalahan operan, hingga kegagalan striker dalam situasi satu lawan satu.

“Yang kami inginkan sederhana, tim bermain dengan fighting spirit. Kalah pun kami bisa menerima,” ujarnya.

Dari pihak manajemen, Yahya Alkatiri mengakui proses rekrutmen pemain Persis tidak mudah dan menyebut kegagalan analis menjadi salah satu penyebab.

Ia menyatakan akan melakukan perombakan besar, serta telah menjalin negosiasi dengan beberapa pemain asing.

Perwakilan Ultras 1923 menegaskan, pihaknya masih percaya kepada Kaesang Pangarep. Namun dia menekankan pentingnya komunikasi yang solid dari level atas hingga bawah, serta perlunya emergency plan yang jelas demi menyelamatkan Persis di sisa kompetisi. Target bertahan di Liga 1 disebut sebagai harga mati.

Dalam tanggapan penutup, Ginda Ferachtriawan menyatakan sepakat terkait perlunya emergency plan. Evaluasi menyeluruh akan dilakukan, termasuk menilai kontribusi dan nilai pemain.

Sementara Kaesang Pangarep menilai lemahnya kontrol manajemen menjadi catatan penting, dan ia berencana menunjuk satu orang penghubung khusus agar laporan masalah bisa diterima secara langsung.

Pertemuan ini menjadi sinyal kuat bahwa tekanan terhadap manajemen Persis Solo semakin besar, sementara suporter berharap perubahan nyata segera terwujud demi menyelamatkan Laskar Sambernyawa dari keterpurukan. (nik) 

Editor : Niko auglandy
#surakartans #persis solo #pasoepati