RADARSOLO.COM - Persis Solo berada dalam situasi krusial. Dibukanya jendela transfer pemain sejak 10 Januari 2026 menjadi momentum penting bagi Laskar Sambernyawa untuk melakukan pembenahan menyeluruh, menyusul performa yang jauh dari harapan sepanjang putaran pertama.
Pernyataan resmi klub yang menjanjikan evaluasi total dan perbaikan di putaran kedua kini ditunggu realisasinya oleh suporter.
Dukungan disertai tuntutan tegas datang dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Pasoepati. Presiden DPP Pasoepati, Arif Djodi Purnomo, mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan komunikasi langsung dengan manajemen Persis Solo, termasuk menyampaikan kekecewaan suporter kepada pemilik klub, Kaesang Pangarep.
Menurut Pasoepati, perombakan tidak hanya dibutuhkan dari sisi pemain, tetapi juga menyentuh aspek internal manajemen.
Penampilan tim sepanjang putaran pertama dinilai belum mampu menyuguhkan permainan yang layak ditonton dan tidak mencerminkan kualitas pemain profesional.
“Terkait perombakan itu merupakan salah satu tuntutan dari DPP Pasoepati, baik dari segi pemain maupun internal manajemen, saat kami bertemu dengan Mas Kaesang selaku owner Persis,” kata Djodi kepada Radar Solo.
Ia menilai banyak pemain belum menunjukkan kompetensi yang sepadan dengan status dan lisensi profesional yang dimiliki. Karena itu, Pasoepati berharap manajemen tidak lagi asal-asalan dalam merekrut pemain pada bursa transfer pertengahan musim.
“Kami merasa pemain tidak bisa menyuguhkan pertandingan yang enak dilihat. Banyak yang terlihat tidak kompeten. Kalau ada perombakan pemain, kami sangat berkenan, dan semoga perekrutannya tidak lagi asal-asalan,” tegasnya.
Pasoepati juga menyoroti minimnya kontribusi sejumlah pemain asing.
Menurut Djodi, kondisi ini seharusnya bisa menjadi momentum bagi Persis Solo untuk memberi ruang lebih besar kepada pemain akademi dan talenta lokal, khususnya dari wilayah Solo Raya.
“Dari DPP Pasoepati hanya berharap Persis Solo bisa menggandeng talenta-talenta muda dan pemain asli Soloraya. Produk lokal tidak kalah dengan produk asing, bahkan proses rekrutmennya lebih mudah dan biayanya tidak semahal pemain asing,” ujarnya.
Lebih lanjut, Pasoepati menegaskan harapan agar evaluasi yang dijanjikan manajemen benar-benar direalisasikan, bukan sekadar wacana.
Meski berada di zona degradasi, suporter tetap memilih bersikap optimistis Persis Solo mampu bertahan di kasta tertinggi sepak bola nasional.
“Harapan saya, kita tetap optimistis Persis bisa bertahan di BRI Super League musim ini. Pembenahan yang dilakukan jangan sekadar omong kosong. Kami akan selalu menjadi penyemangat dan membersamai Persis Solo di mana pun bertanding,” pungkas Djodi.
Seiring bergulirnya bursa transfer, rumor kedatangan pemain pun kian menguat. Sejumlah nama besar dikabarkan masuk radar Persis Solo, seperti Febri Hariyadi, Stefano Lilipaly, Nilson Junior, Marin Ljubic, hingga Terens Puhiri. Namun hingga kini, manajemen Persis masih memilih bungkam terkait kabar tersebut.
Secara statistik, performa Persis Solo di putaran pertama memang jauh dari kata memuaskan. Dari 17 pertandingan, tim asal Kota Bengawan itu hanya mampu mengoleksi 10 poin, hasil yang menempatkan mereka di zona degradasi.
Situasi ini memicu kekecewaan suporter yang berharap Persis bisa tampil lebih kompetitif dan segera menjauh dari ancaman turun kasta.
Menanggapi kondisi tersebut, manajemen Persis kembali menegaskan komitmen untuk berbenah dan mengajak seluruh elemen klub bersatu menghadapi putaran kedua.
“Pada sisa-sisa laga yang masih harus diperjuangkan, tersemat segenap harap agar klub dan semua elemen bisa saling beriringan demi taji Sambernyawa, sekaligus bersatu melawan kemustahilan,” tulis pernyataan resmi klub. (nik)
Editor : Niko auglandy