Daging Anjing di Solo Mulai Beralih Dijual Sembunyi-Sembunyi via Online


SOLO, Radar Solo – Perdagangan daging anjing di Kota Solo dinilai belum sepenuhnya teratasi. Meski Pemkot Surakarta telah menerbitkan surat edaran terkait peredaran dan konsumsi daging anjing, praktik tersebut disebut masih berlangsung secara tersembunyi, termasuk melalui platform daring.
Persoalan itu menjadi salah satu sorotan dalam pembahasan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Penyelenggaraan Peternakan dan Kesehatan Hewan. Regulasi yang tengah dimatangkan DPRD Kota Solo tersebut diharapkan tidak hanya mengatur sektor peternakan, tetapi juga memperkuat perlindungan kesehatan masyarakat serta pengawasan lalu lintas hewan.
Koordinator Dog Meat Free Indonesia (DMFI) Mustika mengapresiasi langkah DPRD Solo yang memasukkan aspek kesehatan masyarakat dalam Raperda. Menurutnya, perdagangan daging anjing menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian serius.
Baca Juga: Harga Kijang Innova 2013 Bensin Bekas Terbaru, Ini Kelebihan Toyota yang Bikin Menarik
“Kami sangat mengapresiasi DPRD dan perda yang sudah dibuat di Kota Solo. Karena Solo menjadi kekhawatiran kami nomor satu terkait perdagangan daging anjing dan kucing yang mulai merebak,” ujar Mustika.
Mustika mengatakan, Pemkot Solo sebelumnya telah menerbitkan surat edaran untuk mengatur persoalan tersebut. Namun, keberadaan SE dinilai belum cukup menghentikan praktik perdagangan karena sebagian pedagang disebut mengubah pola penjualan menjadi lebih tertutup.
“Dari SE ini tidak bisa menanggulangi pedagang yang masih tetap nekat berjualan. Bahkan mereka beralih menjadi bisnis online dan memakai cara yang lebih tersembunyi,” ungkapnya.
Karena itu, DMFI mendorong agar Raperda memuat ketentuan dan sanksi yang lebih tegas. Sanksi dinilai diperlukan untuk memberikan efek jera sekaligus mencegah perdagangan dilakukan kembali secara sembunyi-sembunyi.
Menurut Mustika, persoalan perdagangan daging anjing tidak hanya menyangkut konsumsi, tetapi juga aspek kesehatan masyarakat dan citra pariwisata Solo.
“Perdagangan ini tidak hanya soal konsumsi, tetapi juga berisiko bagi ekonomi Kota Surakarta. Kita mengharapkan pendatang dari kota lain hadir untuk pariwisata maupun kuliner, tetapi mereka akan menjadi waswas karena perdagangan daging anjing,” katanya.
Mustika juga menyinggung hasil investigasi yang dilakukan pihaknya. Dia mengklaim menemukan pedagang yang secara terbuka menjual jenis daging lain, tetapi tetap menyediakan olahan daging anjing secara tersembunyi bagi konsumen tertentu.



