Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Kiprah Para Abdi Dalem Generasi Milenial Keraton Surakarta

Damianus Bram • Senin, 21 Juni 2021 | 16:25 WIB
GENERASI BUDAYA: Para abdi dalem muda menikmati peran sesuai tugas mereka di Keraton Surakarta. (CITRA AYU/RADAR SOLO)
GENERASI BUDAYA: Para abdi dalem muda menikmati peran sesuai tugas mereka di Keraton Surakarta. (CITRA AYU/RADAR SOLO)
BELUM tentu generasi milenial mengenal tradisi dan budaya keraton. Menyadari ini, Keraton Surakarta mulai melibatkan kaum muda dalam berbagai upacara adat keraton. Ini sudah dilakukan sejak satu dekade terakhir.

Loyalitas seorang abdi dalem keraton memang tak perlu dipertanyakan lagi. Mau kapan pun, dimana pun, dan bagaimana pun mereka yang mengemban semangat pengabdian ini selalu siap telibat dalam berbagai upacara adat yang digelar Kasunanan Surakarta. Pengabdian seperti ini gampang ditemukan pada generasi dahulu. Namun di era milenial ini untuk mencari generasi penerus estafet tradisi pengabdian ini tidaklah mudah.

"Dalam satu dekade terakir ini keraton memang banyak melakukan regenerasi abdi dalem. Hampir semua bagian abdi dalem sudah terlihat proses regenerasinya. Jumlahnya sangat banyak, saya kurang hafal. Tapi kalau untuk abdi dalem pengerawit ada lebih 20 orang," ujar Wibisono Prasetyo, 35, salah seorang generasi muda abdi dalem Keraton Kasunanan Surakarta.

Ketertarikan generasi milenial untuk terlibat aktif dalam berbagai kegiatan keraton hingga akhirnya mau untuk mengemban tugas sebagai abdi dalem tentu sangat beragam. Menariknya, perpaduan antara generasi muda dan generasi tua itu mampu menciptakan komposisi yang makin lama makin baik dalam segala aspeknya.

"Alasannya tentu beragam, namun jelas untuk melestarikan seni tradisi dan budaya asli keraton. Kalau saya sendiri awalnya ya ikut guru-guru, kemudian diminta membuat lamaran karena kala itu banyak pengrawit yang sudah sepuh," terang pria yang sudah 16 tahun mengabdi sebagai abdi dalem pengerawit itu.

Kendati demikian, semua sepakat bahwa menabuh gamelan di dalam lingkungan keraton terasa sangat berbeda dengan pentas-pentas gamelan pada umumnya. Mulai dari hal sederhana yang  bisa ditangkap dengan mata telanjang, hingga berbagai hal lainnya yang berkaitan dengan rasa.

"Menabuh di dalam dan di luar keraton tentu sangat berbeda. Bukan hanya dari notasi yang dimainkan atau cara menabuhnya, bahkan cara duduk pun ada aturannya. Ini yang unik," kata Wibi.

Para abdi dalem milenial yang sudah mulai meneruskan estafet kebudayaan ini memiliki beragam latar belakang berbeda. Sebagian dari mereka ada yang pelaku seni tradisi, pegiat teater modern, bahkan ada yang berstatus sebagai tenaga pendidik di lingkungan Dinas Pendidikan Kota Surakarta.

"Bahkan ada yang pekerja swasta, mahasiswa atau baru lulus sekolah. Kebetulan kalau saya sendiri guru di SMKI (sekolah menengah kesenian Indonesia) Solo," sambung Arif Abdul Aziz, 28.

Meski memiliki kesibukan lain di luar keraton, mereka tidak merasa kewalahan untuk membagi waktu. Buat mereka semua ada porsinya masing-masing. Namun ketika titah raja meminta kesanggupan diri untuk terlibat, dengan senang hati mereka akan memilah-milah hal-hal lain di luar keraton.

"Ya pintar-pintar atur waktu saja. Kalau saya lebih mengutamakan terlibat dalam acara keraton. Bukannya mengesampingkan kewajiban sebagai pendidik, saya juga merasa punya kewajiban melestarikan tradisi leluhur yang turun-temurun ini. Dari sini ilmu yang saya dapat bisa disalurkan ke generasi selanjutnya. Saya yakin kawan-kawan lain juga memiliki pemikiran yang sama soal ini," jelas Aziz.

Berbagai kegiatan itu mereka jalankan dengan senang hati tanpa ada paksaan sedikit pun. Abdi dalem generasi milenial ini ikhlas menjalankan peran pengabdiannya masing-masing. Namun, ada benang merah yang menyambungkan ketertarikan mereka dengan keraton. Kenangan masa lalu itulah yang membawa langkah mereka menjadi abdi dalem yang mau mengucap janji setia kepada Keraton Kasunanan Surakarta.

"Rata-rata kami yang terpanggil menjadi abdi dalem di keraton ini memang sudah memiliki kenangan khusus yang membuat kami terpesona dengan gaya Keraton Kasunanan. Saya kebetulan hidup dan tumbuh di lingkungan dekat keratin. Banyak warganya yang mengabdikan diri sebagai abdi dalem," ujar Oke Atikkana, 30, salah satu abdi dalem generasi baru lainnya yang sudah delapan tahun menjadi abdi dalem pengrawit.

Tak hanya rasa ingin tahu dan ketertarikan yang sedemikian besar untuk menyimpulkan berbagai kisah yang mereka paparkan. Bahkan ada sejumlah pengalaman unik bagi mereka saat memainkan seperangkat gamelan milik keraton yang notabene sudah berusia ratusan tahun namun tetap sempurna dalam notasinya.

"Yang paling berbeda itu keseluruhan suasana saat gamelan ditabuh. Di pentas biasanya paling hanya tinggal menghapal notasinya, kalau di keraton tidak bisa hanya sebatas itu. Ada laku ritualnya," timpal Farit Yusnia Hasanudin, 27 yang baru tiga tahun ini aktif sebagai pengerawit keraton.

Misalnya proses latihan untuk mengiringi tari Bedaya Ketawang itu dilakukan selama tujuh hari berturut turut dan pentasnya hanya pada Selasa Kliwon. Kemudian sebelum dan sesuah menabuh itu ada sembahnya. Pantangannya tidak boleh melangkahi gamelan karena di keraton gemelan itu pusaka.

"Mengabdi itu keikhlasan. Jadi bukan soal uang atau berapa besar gaji yang diterima abdi dalem. Buat kami itu ada hal-hal lain yang bisa kami dapat dari mengabdikan diri kepada keraton," ujarnya.

Keraton itu memiliki fungsi konservatif dalam pelestarian seni, tradisi, dan budaya lokal. Baik dari segi etika maupun estetikanya. Memang tidak semua anak muda yang mendalami ilmu karawitan terpanggil untuk mengabdikan diri di keraton. Namun, selama ada informasi yang diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya pasti tidak akan punah.

"Nah, ini perlu ada generasi muda yang merasa terpanggil mendalami ini," tutur Nanang Bayu Aji, 27, yang juga mengabdikan diri sebagai abdi dalem pengrawit dalam sembilan tahun ini. (ves/bun)

  Editor : Damianus Bram
#abdi dalem muda keraton #Pengrawit Keraton #Keraton Surakarta Hadiningrat #keraton kasunanan surakarta