“Solo itu punya ratusan titik life music saat malam hari. Hanya saja memang segmented dengan lokasi yang tidak begitu besar. Misalnya penggemar musik Koes Plus di hotel tertentu dan banyak lagi di lokasi lain seperti di kafe-kafe. Begitu juga jenis musik lainnya menempati ruang kreatif yang kecil-kecil dan tersebar di setiap sudut kota. Tapi jumlahnya ratusan,” jelas Kepala Dinas Pariwisata Kota Surakarta, Hasta Gunawan, Minggu (8/3).
Khusus untuk ruang publik yang ramah bagi semua genre, seperti THR Sriwedari itu memang pernah kita dorong ke Lokananta. Hanya saja memang belum berjalan dengan baik karena penerimaan di masyarakat pun tidak setinggi seperti di THR dulu. Dan dominasinya kalah dengan musik-musik di kafe dan hotel.
Setelah Lokananta, TSTJ juga dibidik untuk menjadi ruang kreatif pengganti THR. Hanya saja antusias masyarakat di sana memang tidak setinggi harapan selama ini. “Belum ada pihak swasta yang berani branding di dua lokasi itu. Sebetulnya pemkot selalu mendorong mereka tampil di lokasi lain seperti di Benteng Vastenburg, halaman balai kota, Dalem Joyokusuman, Dalem Mulyosuman, dan beberapa lokasi lainnya,” kata dia.
Ada juga public space milik swasta yang juga naik daun seperti Gedung Juang 45, Balai Soedjatmoko, dan lainnya. Soal lokasi yang dibidik sebagai pengganti THR Sriwedari, pemkot punya incaran Lokananta dan TSTJ. Pemkot masih menunggu pihak profesioanl yang berani masuk untuk kembali mempopulerkan musik seperti di THR.
“Saat THR itu tutup, komunitas ini bukannya hilang tapi malah menyebar ke berbagai lokasi dan menciptakan ruang kreasinya sendiri. Bedanya jika dulu menyeluruh kalau saat ini memang segmented,” papar Hasta.
Wali Kota Surakarta F.X. Hadi Rudyatmo siap memaksimalkan potensi Lokananta maupun lokasi lain untuk ketersediaan ruang kreatif. Khusus untuk Lokananta, meski statusnya adalah BUMN, pemkot siap untuk berkolaborasi untuk memaksimalkan potensinya. Mengingat banyak sekali unsur sejarah yang tertoreh di tempat itu seperti pidato Bung Karno, perekaman lagu Indonesia Raya, dan banyak lainnya.
Bangunan cagar budaya ini juga melahirkan musisi terkenal seperti almarhum Gesang, Waldjinah dan banyak lainnya. “Makanya Lokananta ini harus dimunculkan kembali sebagai aset negara di ranah budaya. “Warisan budaya bangsa ini harus kita optimalkan,” jelas dia.
Selain Lokananta dan TSTJ, pemkot juga masih memiliki banyak potensi ruang kreatif seperti Sriwedari. Rudy optimistis jika seluruh pembangunan klir akan sangat bermanfaat pada masyarakat. Kalaupun sekarang ada yang mempersoalkan Sriwedari itu milik rakyat. Ini bisa dibuktikan lewat pengadilan.
“Setelah THR hilang masih banyak lokasi yang bisa dioptimalkan. Syaratnya pengelolaannya harus profesional. Kalau Benteng Vastenburg bisa diakusisi negara maka bisa dijadikan Opera House. Saya sudah minta ke pak presiden, PR-nya cuma satu, akusisi Benteng Vastenburg,” tegas Rudy. (ves/bun) Editor : Perdana Bayu Saputra