Ketua Takmir Masjid Agung Surakarta Muhtarom mengatakan, BPCB Jateng telah melakukan kajian terkait Masjid Agung Solo sebagai bangunan cagar budaya. Dari hasil kajian selama dua tahun itu, ditemukan sejumlah kerusakan yang dinilai butuh penanganan secara menyeluruh. Salah satunya pada material kayu pada konstruksi utama masjid monumental itu.
"Pasca perbaikan (rehabilitasi) tiang utama dua tahun lalu muncul indikasi kalau kerusakannya melebar. Akhirnya, kami bekerja sama dengan BPCB untuk melakukan kajian konservasi bangunan utama secara menyeluruh," beber Muhtarom saat bertemu dengan Wali Kota Surakarta Gibran Rakabuming Raka di balai kota kemarin (4/11).
Kerusakan lain pada sejumlah bagian masjid baru diketahui pasca pengkajian dilakukan. Melalui alat khusus, BPCB dapat melihat bagian-bagian mana saja yang butuh penanganan lanjutan. Hasilnya pun menunjukkan yang memerlukan penanganan bukan hanya fisik bagian luar, melainkan hingga bagian konstruksi bangunan.
Dari situ pengurus Masjid Agung tahu bahwa kayu-kayu yang telah berumur ratusan tahun itu telah rusak dimakan rayap. Hal ini kemudian dikonsultasikan kepada pemkot agar segera mendapat penanganan.
"Kelihatan dari fisiknya memang tidak ada masalah tapi di dalamnya seperti itu (dimakan rayap, Red). Saya tidak bisa menyampaikan bagian apa saja, tapi kerusakannya pada bangunan utama," papar Muhtarom.
Selain kayu rusak dimakam rayap, pengurus Masjid Agung juga menyampaikan wacana penataan kawasan secara menyeluruh agar suasana sekitar masjid semakin tertata dan tidak merusak keindahan masjid.
"Kami juga ingin kawasan bangunan juga ikut ditata agar makin tampak dari luar, aksesnya mudah, termasuk penataan jaringan listrik pada bangunan utama masjid," beber dia.
Wali kota menerima seluruh masukan pengurus Masjid Agung dan siap mengakomodasi rencana revitalisasi sesuai kajian yang dipaparkan itu. Kendati demikian, pemkot masih memerlukan waktu untuk mendalami persoalan itu, mengingat perbaikan secara menyeluruh bisa menguras anggaran yang cukup besar.
"Kajiannya saya bawa dulu. Kalau pakai APBD (anggaran pendapatan belanja daerah) tentu membutuhkan biaya yang sangat besar sebab pembangunannya juga tak bisa parsial, harus secara menyeluruh karena cagar budaya. Nanti kami carikan solusi dan jadi salah satu prioritas," tutur Wali Kota. (ves/bun/dam) Editor : Damianus Bram