Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Rutan Solo Kembali ke Tampilan Zaman Kolonial

Perdana Bayu Saputra • Senin, 2 Maret 2020 | 21:28 WIB
PEREMAJAAN: Bagian depan pintu masuk Rutan Klas IA Surakarta.
PEREMAJAAN: Bagian depan pintu masuk Rutan Klas IA Surakarta.
SOLO – Tahun ini, Rumah Tahanan (Rutan) Klas IA Surakarta mengubah tampilan. Kedepan, wajah rutan bakal dikembalikan seperti bentuk zaman kolonial. Hal ini menyelaraskan program Pemkot Surakarta, dimana bangunan-bangunan di jantung Kota Bengawan berkonsep heritage.

Hal ini diungkapkan Kepala Rutan Klas IA Surakarta Soleh Joko Sutopo. Dia mengatakan program ini dimulai sejak awal tahun kemarin, atau bertepatan saat Soleh mulai menjabat. "Rencananya, akan dikembalikan seperti bentuknya dahulu. Seperti bentuk-bentuk kolonial," ujarnya.

Saat ini, pihaknya tengah mempercantik di bagian depan Rutan. Bangunan tambahan yang awalnya menjadi ruang galeri dan ruang tunggu akhirnya dikepras atau dihilangkan, sehingga nantinya bagian depan akan terlihat rata. Untuk mempercantik tampilan, nantinya juga disediakan bangku-bangku lawasan dari kayu jati dan lampu khusus.

"Nanti tampilan depannya akan dicat putih. Sehingga memperkuat tampilan seperti di zaman dahulu. Harapan kami nanti masyarakat bisa nongkrong di depan jadi spot swafoto. Jadi kesan seram dari rutan akan pudar. Kalau memungkinkan, jika nanti sudah jadi kami akan koordinasi dengan Dispar (Dinas Pariwisata). Jadi ketika bus tingkat atau sepur Jaladara lewat, bisa berhenti di depan rutan,"  jelas Soleh.

Disinggung soal pedagang kaki lima (PKL) yang mangkal di depan rutan ketika malam hari, Soleh mengaku akan mencoba berkomunikasi dengan para pedagang. "Tetap berjualan, tapi mungkin posisinya agak digeser. Kami minta agak ke samping, tidak di depan pas," ucapnya.

Tak hanya tampilan luar semata, Soleh mengaku sistem yang diterapkan di Rutan Solo juga akan dirombak secara total. Jika dulunya pemeriksaan pengunjung dan barang bawaan dilaksanakan secara bersamaan, maka ke depan akan dipisahkan.

"Kami pisahkan, sehingga lebih spesifik dan tidak akan ada barang ilegal yang bisa masuk,” jelas Soleh.

Lalu, bagaimana dengan bagian kamar tahanan? Mengingat kapasitasnya yang tidak sebanding dengan jumlah penghuni. Soleh mengatakan akan mencoba membicarakan dengan pusat. Sebab untuk perombakan butuh biaya banyak, serta aspek keamanan penghuni selama proses renovasi berlasung.

"Termasuk status bangunan, apakah bangunan ini masuk cagar budaya atau tidak. Tapi saya sudah mencoba bertanya pada bagian urusan TU rutan, tidak ada dokumen yang menerangkan kalau bangunan ini masuk BCB, tapi tetap akan kami pastikan dulu," pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Pengamanan Rutan (KPR) Andi Rahmanto mengatakan, penerapan dalam sistem pemasyarakatan saat ini tidak lagi berorientasi pada pemenjeraan. Melainkan, pembinaan pada warga binaan dengan mengedepankan perlakuan humanis berdasarkan Hak Asasi Manusia (HAM).

”Sekarang sudah berubah total. Warga binaan di sini dibina dan dibekali kemampuan agar tidak melakukan kejahatan serupa yang mengantar mereka kembali ke balik jeruji besi," katanya. (atn/nik) Editor : Perdana Bayu Saputra
#solo #rutan #kolonial