Co-Founder KomuniKota Visual Basnendar Herry Prilosadoso menjelaskan, tujuan terselenggaranya aksi kolaborasi tersebut untuk memberikan pemahaman pada masyarakat awam. Tepatnya bahwa gamelan sebagai budaya Indonesia telah mendapatkan pengakuan dari UNESCO.
“Harus dirayakan, karena gamelan itu milik kita, dan bisa dinikmati oleh masyarakat. Kenapa pantomim?, Karena secara visual mudah diterima dan di setiap gerakannya ada pesan yang disampaikan,” ujarnya.
Di tengah-tengah pertunjukan pantomim, seniman asal Aceh Rasyidin Wig Maroe juga melakukan beberapa adegan dengan mengajak sejumlah masyarakat yang menyaksikan untuk memainkan gamelan. Menurutnya, diakuinya gamelan oleh UNESCO dapat membuka peluang untuk menarik wisatawan berkunjung ke Indonesia.
“Walaupun satu ketukan, mereka sudah mewakili seluruh elemen masyarakat bahwa gamelan milik kita secara sah. Tentu kita harus memperlakukannya dengan istimewa,” harapnya.
Dengan adanya pengakuan dari UNESCO, seluruh dunia akan mengetahui bahwa gamelan adalah milik Indonesia. Gamelan bukan hanya milik orang-orang seni, tapi juga milik seluruh kalangan masyarakat Indonesia. Rasyidin menyebutkan bahwa gamelan bisa dikolaborasikan dengan seni apapun termasuk seni pantomim.
“Kami mencoba merespons bagaimana pasang surutnya gamelan yang sempat diklaim oleh negara lain. Dengan adanya kasus itu, pemerintah mulai peduli dan merespons lebih dalam. Sekarang sudah menjadi tanggung jawab kita sebagai warga Indonesia untuk juga melestarikannya,” ujarnya. (mg7/mg9/ian/nik) Editor : Damianus Bram