Pengageng Perentah Keraton Kasunanan Surakarta KGPH Dipokusumo membenarkan, benerapa waktu lalu Putra Mahkota KGPH Purboyo telah menyerahkan daftar bangunan dan prioritas revitalisasi keraton kepada wali kota. Namun dia memastikan daftar itu masih belum final, mengingat sebelumnya juga ada detail engineering design (DED) revitalisasi pada 2015 dan 2016 yang memiliki persamaan dan perbedaan pada sejumlah itemnya. Sebab itu, DED 2015 dan 2016 serta daftar baru itu perlu ditinjau ulang untuk menghasilkan daftar yang lebih valid sebagai pijakan dalam revitalisasi nanti.
"Nanti di-review lagi dan akan disinkronkan lagi termasuk dengan kajian-kajian cagar budaya yang selama ini sudah dilakukan," kata dia.
Selanjutnya pihak keraton bersama Pemkot Surakarta dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) akan membentuk tim kecil guna memperlancar komunikasi program revitalisasi. Mengingat revitalisasi itu akan memyasar sejumlah bangunan milik keraton secara bersamaan atau dalam waktu berdekatan.
"Nanti di-setting sedemikian rupa sampai ke pembentukan panitia revitalisasi (tim kecil). Dari sana nanti akan ditentukan mana-mana saja yang jadi skala prioritas," papar adik kandung raja yang akrab disapa Gusti Dipo itu.
Soal pembentukan tim kecil, salah satu keluarga keraton lainnya GKR Wandansari Koes Moertiyah masih menunggu undangan dari pemerintah terkait pembentukan tim kecil. Mengingat keraton tidak bisa diwakili segelintir orang saja. Namun, harus melinatkan pihak lain guna pertimbangan-pertimbangan yang lebih luas.
Soal adanya DED 2015 dan 2016 lalu, perempuan yang akrab disapa Gusti Moeng itu merasa harus dilakukan peninjauan ulang antara DED dan kondisi terkini. Sebab, kerusakan pada bangunan cagar budaya itu pasti sudah bertambah dalam kurun waktu itu. Belum lagi adanya sejumlah bangunan yang telah dibenahi berdasarkan DED itu.
"Saya menunggu saja dari wali kota untuk mengundang kami dalam hal pembentukan tim kecil. Secara pribadi saya sangat mendukung. Hanya saja memang ada pihak-pihak yang harus dilibatkan dalam revitalisasi agar tidak ada masalah dikemudian hari," ujar ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang juga adik kandung PB XIII Hangabehi itu.
Senada, Prameswari Dalem SISKS PB XIII Hangabehi, GKR Paku Buwono mengaku belum mengetahui kelanjutan revitalisasi ke depan. Dia memilih menunggu koordinasi dari pemerintah selalu pihak yang akan menangani revitalisasi tersebut secara langsung. "Belum tahu saya. Nanti ikut rencana Mas Gibran saja," papar dia.
Di bagian lain Wali Kota Surakarta Gibran Rakabuming Raka mengatakan, pemkot telah mengkalkulasi sejumlah anggaran dari dana hibah pemerintah Uni Emirat Arab (UEA) agar bisa dialokasikan untuk menunjang sejumlah prioritas pembangunan yang akan digarap pada tahun ini. Salah satunya menyuntikkan sejumlah dana segar untuk percepatan revitalisasi keraton.
"Kemarin saya dari kementerian, sudah saya tambahi lagi dana hibahnya, ada yang tak geser ke keraton. Tidak usah disebut nominalnya. Lumayan, cukup untuk fase pertama," terang Gibran.
Sebelumnya Gibran membeberkan sejumlah revitalisasi yang akan di lingkungan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Tahap awal akan dimulai dari penataan gapura Gladak, alun-alun, hingga Panggung Sangga Buwana. Kemudian revitalisasi Masjid Agung Surakarta. Keduanya dibiayai dari pos anggaran berbeda di Kementerian PUPR. Selain itu, penataan kawasan kumuh di wilayah Baluwarti dengan dana hibah UEA. Semuanya akan dikerjakan pada 2023 ini.
"Sudah kami koordinasikan. Senin (13/2/2023) kemarin kami kirim proposalnya ke kementerian (untuk penggeseran anggaran, Red)," kata dia. (ves/bun/dam) Editor : Damianus Bram