Berdasarkan saksi mata Daniel Kristian, sekitar pukul 12.00 WIB, kondisi kawasan masjid itu hujan deras disertai angin kencang. Selang 30 menit kemudian, tenda yang berada di sisi selatan langsung roboh.
"Tidak ada aktivitas (di tenda, Red). Tidak ada yang teriak. Tidak ada yang dengar suara ambruk, posisinya anginnya gede. Tahu-tahu ambruk," jelasnya.
Beruntung tidak ada korban atas ambruknya tenda tersebut. Hal itu dipastikan oleh Asisten Direktur Operasional Join Committee Indonesia Bagus Sigit Setiawan.
"Tidak ada korban karena waktu robohnya itu setelah salat Jumat. Jadi jamaah putri memang ketika hari Jumat itu tidak ada. Dan itu tenda (yang roboh, Red) diperuntukkan untuk pembagian takjil untuk putri. Jadi tidak ada korban," jelasnya.
Lebih lanjut, Bagus menjelaskan setelah ini tenda langsung dibenahi. Agar besok jamaah bisa nyaman untuk iftar di tenda itu lagi.
Dengan ambruknya tenda selatan tidak membuat pembagian takjil di Masjid Zayed berhenti. Sore ini, masyarakat masih boleh datang dan berbuka bersama.
"Buka bersama sore ini tetap jalan. Pembagiannya tetap jalan. Dimaksimalkan di tenda yang masih ada yakni utara dan selasar," tambah Bagus.
Sementara itu, Member Imam Besar Join Committee Masjid Raya Sheikh Zayed Solo Mokhamad Zainal Anwar juga mengatakan hal yang sama.
"Insya Allah prinsipnya bahwa masjid tetap buka. Membagikan iftar, dan jika hujan boleh makan di selasar," ujarnya. (nis/ria) Editor : Syahaamah Fikria