Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner

World Dance Day, ISI Gelar 24 Jam Menari

Damianus Bram • Sabtu, 29 April 2023 | 03:45 WIB
LUWES: Widi Mulia saat latihan menari dengan para aktor tari ISI Surakarta. (DOK.PRIBADI)
LUWES: Widi Mulia saat latihan menari dengan para aktor tari ISI Surakarta. (DOK.PRIBADI)
RADARSOLO.COM – Sempat vakum selama tiga tahun karena pandemi Cocid-19, Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta kembali menggelar World Dance Day (WDD) 24 Jam Menari. Mengusung tema ”Menari Imaji dan Relasi”, WDD digelar di berbagai venue lingkungan Kampus ISI Surakarta mulai Sabtu (29/4/2023) pukul 06.00 hingga Minggu (30/4/2023) besok pukul 06.00.

Wakil Ketua I World Dance Day ISI Surakarta Soemaryatmi menyampaikan, sebanyak 140-an lebih kelompok peserta tari dari berbagai wilayah Indonesia sudah mendaftar untuk memeriahkan WDD. Tidak hanya dari dalam negeri, peserta tari WDD 24 Jam Menari ISI Surakarta juga datang dari Malaysia. Mereka akan dipergelarkan secara bergantian di lima venue selama 24 jam nonstop.

”Sebanyak 122 karya tari akan dipertunjukkan dalam pagelaran spektakuler ini. Untuk openingnya di depan rektorat dan closing di Teater Kapal ISI Surakarta,” ucapnya, Jumat (28/4/2023).

Agenda WDD 2023 menjadi lebih spesial dengan menghadirkan dua karya pada pertunjukan primetime, Garda the Musical karya Eko Supriyanto dan pergelaran empat keraton keturunan Kerajaan Mataram di Jawa. Yakni Kasunanan Surakarta, Kasultanan Jogjakarta, Pura Mangkunegaran Surakarta, dan Pura Pakualam Yogyakarta. Pertunjukan “Garda the Musical” akan digelar di Teater Besar ISI Surakarta hari ini pukul 19.30.

”Pertunjukan ini kerjasama antara Jurusan Tari Fakultas Seni Pertunjukan ISI Surakarta dengan Ekos Dance Company Solo. Didukung oleh penari dan aktor mahasiswa dari dua fakultas, FSP dan FSRD ISI Surakarta serta diperkuat oleh tiga artis multitalenta, Dwi Sasono, Widi Mulia, dan Beyon Destiano,” imbuhnya seniman yang kerap dipanggil Bu Mamik tersebut.

Ibu Mamik menjelaskan, karya Garda the Musical tersebut terilhami oleh kehidupan dunia burung yang ada di nusantara. Gagasan garap karya ini adalah memanusiakan burung, artinya manusia tidak meniru seperti burung. Tetapi memberi nilai kepada karakter-karakter burung untuk menyuarakan kemanusiaan.

”Semua dilakukan oleh mahasiswa, termasuk penari opening dan closing. Pada saat opening, mahasiswi akan menari bersama seniman tari berbakat Nini Thowok. Sebagai gongnya yakni, pagelaran Garda the Musical karya Eko Supriyanto,” tegasnya. (ian/adi/dam) Editor : Damianus Bram
#Menari Imaji dan Relasi #world dance day #isi surakarta #WDD 2023 #24 Jam Menari #World Dance Day ISI Surakarta