Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner

Solo 24 Jam Menari Tak Sekadar Pertunjukan

Damianus Bram • Minggu, 30 April 2023 | 17:21 WIB
JAGA BUDAYA: Rektor ISI Surakarta I Nyoman Sukerna memukul gong di halaman gedung rektorat kampus setempat menandai dimulainya event Solo 24 Jam Menari, Sabtu (29/4/2023). (DANIEL ART FOR RADAR SOLO)
JAGA BUDAYA: Rektor ISI Surakarta I Nyoman Sukerna memukul gong di halaman gedung rektorat kampus setempat menandai dimulainya event Solo 24 Jam Menari, Sabtu (29/4/2023). (DANIEL ART FOR RADAR SOLO)
RADARSOLO.COM – Memperingati Hari Tari Dunia atau World Dance Day, Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta menggelar Solo 24 Jam Menari dengan tema Menari; Imaji dan Relasi, Sabtu-Minggu (29-30/4/2023). Event ini menegaskan bahwa tari bukan hanya gerak di atas panggung.

Tema tersebut menandaskan bahwa imajinasi adalah substansi yang sangat penting dari tari. Imajinasi dalam tari akan menjadi kekuatan yang luar biasa apabila berhubungan dan bersinergi dengan berbagai disiplin kehidupan.

Pantauan Jawa Pos Radar Solo, event akbar kali ke-17 ini dipusatkan di halaman Rektorat ISI Surakarta. Diawali tarian Umbul Donga dilanjutkan pengalungan bunga kepada lima penari yang akan menari selama 24 jam nonstop.

Setelah itu, secara berkesinambungan, digelar pertunjukan tari oleh sejumalah kelompok di lima titik, yaitu mulai dari halaman rektorat, pendapa GBH Djoyokusumo, Teater Kecil, Teater Besar dan Teater Kapal ISI Surakarta.

Adi Putra Cahya Nugraha, salah seorang penari yang ikut dalam gelaran tersebut mengaku bangga, karena Solo Menari 24 Jam membuktikan bahwa seni tari berikut pekerja seninya tak lekang zaman.

"Apalagi tadi kita lihat bersama, anak-anak banyak juga yang ikut acara ini. Seni tari di Indonesia tetap eksis,” ujar pria asal Jombang, Jawa Timur itu.

Adi membawakan tari Remo gaya boletan yang menggambarkan perjuangan sebagai pembangkit dan pengobar semangat melawan penindasan. Gerak tariannya lebih santai, namun tegas dan kuat.

"Ini memberikan gambaran terutama kepada generasi muda bagaimana bersikap lembut dan tegas, serta ketenangan dalam menghadapi sesuatu," tutur alumni ISI Jogjakarta tersebut.

Ketua Umum Solo 24 Jam Menari ISI Surakarta Eko “Pece” Supriyanto menjelaskan, banyak pihak yang ingin terlibat langsung dalam event spektakuler itu. Tapi, setelah diseleksi, menyisakan 99 grup sanggar maupun perorangan yang tampil dengan total 130 pertunjukan.

"Tidak hanya dari Solo, namun juga Kendari, Jawa Barat, Jawa Timur, NTT, NTB bahkan ada yang dari Malaysia," ungkapnya.

Ditambahkan Eko Pece, tahun ini, pihaknya ingin mengulang kemeriahan pesta tari dengan hastag #gegaramenari pada 2019 lalu.

“ISI berusaha menjadi Badan Layanan Umum (BLU), bukan lagi satuan kerja. Dari situ, jaringan relasi semakin ditingkatkan oleh rektor dan pimpinan kampus dengan menggandeng banyak pihak. Seperti platform digital, pemerintah daerah, dan elemen lainnya," beber Eko.

Terkait tantangan bagi pekerja seni di era digital saat ini, Eko menyebut harus berhadapan dengan komersialisasi, tuntutan pasar dan industri.

“Ini yang harus disikapi sekarang. Melakukan persiapan secepatnya dari sisi manapun, dan lini manapun. Termasuk ISI Surakarta yang mau menjadi BLU harus siap dengan publik dan industri. Siap dengan sisi-sisi komersial. Ini butuh di-sengkuyung bareng menyiapkan masa depan, termasuk digitalisasi dan industrialisasi seni," urainya

Strategi yang harus dilakukan, lanjut Eko, adalah memperbanyak event di bidang seni. "Tapi sekali lagi, ini tidak bisa bekerja sendiri. Membutuhkan support dari semua pihak untuk saling berkolaborasi," ucapnya.

Sementara itu, Rektor ISI Surakarta I Nyoman Sukerna menuturkan, selama tiga tahun terakhir, Solo 24 Jam Menari terpaksa digelar secara daring akibat pandemi Covid-19.

Nah, tahun ini, seiring melandainya kasus Covid-19 dan dicabutnya pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM), event serupa dapat digelar lebih semarak.

Untuk mengoptimalkan pertunjukan seni, rektor ISI Surakarta meminta dilakukan seleksi bagi pihak yang ingin terlibat dalam Solo 24 Jam Menari.

"Memang dari panitia melaporkan ke saya banyak kelompok maupun perorangan yang ingin ikut memeriahkan acara ini. Tapi saya minta untuk dilakukan seleksi. Kami berusaha memberikan yang terbaik kepada seluruh penonton. Menggelorakan bahwa tari bukan sekadar gerak di atas panggung. Tapi ada penjiawaan dan pemaknaan yang mengangkat isu-isu, relasi, hingga semangat kebersamaan toleransi," tuturnya.

Ke depan, lanjut Sukerna, event seperti ini akan terus diuri-uri. Bukan hanya tari, namun juga konsentrasi seni lainnya. “Mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi pembentukan karakter bangsa kita. Sekaligus pelestarian dan pengembangan seni tradisi kita,” pungkasnya. (atn/wa/dam) Editor : Damianus Bram
#Hari Tari Dunia #world dance day #isi surakarta #menari #Solo 24 Jam Menari