"Mungkin sekilas tak terlihat. Tapi nyatanya mereka ada di antara kita. Adanya kebutuhan hubungan seksual sesama jenis yang kemudian memicu munculnya komunitas ini," ungkap Sosiolog Universitas Sebelas Maret (UNS) Argyo Demartoto, Sabtu (20/5/2023).
Menurutnya, komunitas LGBT sangat tertutup, sehingga sulit terdeteksi. Yang mengetahuinya hanya orang-orang tertentu. Dalam kehidupan sehari-hari, mereka tidak ada bedanya dengan masyarakat lainnya.
"Jaringan komunitas mereka tidak hanya lokal. Tapi sudah antarkota. Ditambah adanya sejumlah aplikasi untuk berkomunikasi. Tapi saya kurang tahu, apakah aplikasi tersebut masih aktif atau sudah di-take down oleh pemerintah," bebernya.
Dari komunitas LGBT tersebut, lanjut Argyo, berdampak pada munculnya prostitusi hubungan sesama jenis. Bukan sekadar mencari pasangan, namun masuk pada faktor ekonomi.
"Orientasi seksual adalah faktor pendorong mereka mau melakukan hubungan sesama jenis. Ada nonkomersil dan komersil. Komersiĺ inilah yang membentuk prostitusi itu, karena hasratnya bukan hanya pemuasan hawa nafsu, melainkan ekonomi," urai Argyo.
Dalam hubungan seksualitas LGBT, imbuhnya, ada yang menjadi top dan bottom. Top merupakan mereka yang berperan sebagai laki-laki atau yang melakukan penetrasi, sedangkan bottom sebagai wanita.
“Banyak risiko kesehatan menghantui pelaku LGBT. Karena tidak tahu, apakah mereka sehat atau tidak. Bisa saja memiliki riwayat infeksi seksual atau HIV. Itu baru dari sisi kesehatan," terangnya.
Pelaku LGBT juga rentan menjadi korban kekerasan dari pasangan sejenisnya. Bisa disiksa, bahkan dibunuh seperti kasus Ryan Jombang hanya karena cemburu. Atau dikuras hartanya. (atn/wa/dam) Editor : Damianus Bram