RADARSOLO.COM - Ada tiga pemaknaan batik. Yakni, teknik pembuatan, ragam hias, dan artefak. Merawat batik-batik peninggalam masa lampau merupakan salah satu cara pelestarian batik dari segi artefak agar tetap lestari dan bisa dipelajari oleh generasi di masa mendatang.
Karya seni yang disebut sebagai batik itu harus memenuhi unsur teknik pembuatan agar sah disebut sebagai batik. Baik batik tulis maupun cap, proses pembuatannya sama-sama menggunakan lilin panas. Inilah yang layak disebut sebagai batik. Kalau tidak melewati teknik pekerjaan seperti itu tidak layak disebut sebagai batik.
Sedangkan untuk ragam hias yang memuat motif, corak, dan pola yang menjadi titik berat dari UNESCO dalam pengakuan batik sebagai warisan budaya dunia merupakan batik-batik yang memiliki keterikatan dengan adat budaya masyarakat. Misalnya, motif Babon Angrem yang digunakan saat acara adat tujuh bulanan. Atau motif Sido Mulya yang digunakan saat ijab dan Sudi Mukti saat temu temanten. Bahkan motif Slobok yang hanya digunakan saat ada orang meninggal.
Saat dua hal ini sudah terpenuhi, barulah masuk dalam fungsi yang ketiga, yakni batik sebagai artefak yang memiliki nilai sejarah yang menyertainya. Dari segi keartefakan, batik akan memiliki nilai tinggi jika ditemukan dalam bentuk aslinya. Artinya masih dalam bentuk selembar kain entah itu jarik atau sejenisnya. Nilai tersebut akan berbeda jika batik yang berusia tua itu berbentuk menjadi sebuah baju atau jenis pakaian tertentu.
Untuk dikoleksi biasanya orang-orang lebih senang jika masih dalam bentuk kain. Keaslianya ini yang dijaga dan dilestarikan oleh para kolektor batik lama itu. Biasanya semakin tua usianya dan kaya nilai histori itu yang paling dicari para kolektor.
Sebagai contoh, karya batik tulis yang cukup banyak diminati masyarakat, salah satunya adalah batik-batik karya Praptini Partaningrat. Atau yang dikenal dengan istilah Batik Kanjengan oleh masyarakat. Karya-karya Praptini ini banyak dicari karena merupakan karya batik khas Pura Mangkunegaran. Tak hanya itu, batik-batik lain yang juga jadi buruan kolektor adalah Batik Tiga Negeri yang dibuat oleh Keluarga Tjoa yang terkenal karena kehalusan garapannya. Tak lupa batik-batik karya Go Tik Swan yang telah melegenda keindahannya.
Pencarian kolektor biasanya didasari atas beberapa hal. Sosok pembuatnya, keindahan karyanya, serta detail pengerjaan. Dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa dari segi keartefakan, batik-batik ini jadi barang koleksi karena memiliki cerita dan kesejarahannya masing-masing. Ini melengkapi daya tarik batik dari segi keindahan dan kerumitan pembuatannya dan motif-motif yang kaya filosofi.
Di Hari Batik Nasional ini bisa menjadi pengingat bagi generasi muda agar mengenal batik yang sebenarnya. Mereka perlu dikenalkan kepada karya yang benar-benar bisa dianggap sebagai batik. Dari sana mereka bisa belajar filosofi yang menyertainya seperti di batik motif klasik. Di mana ampai hari ini masih memiliki fungsi dalam segi adat dan kebudayaan orang Jawa. Semua harus ikut merawat warisan budaya dari nenek moyang kita ini. (Disarikan dari wawancara wartawan Radar Solo Silvester Kurniawan dengan Danang Priyanto, selaku Dosen Prodi Desain Mode Batik ISI Surakarta)
Editor : Damianus Bram