RADARSOLO.COM – Ratusan umat Konghucu menggelar prosesi tolak bala atau yang dikenal dengan istilah Pao Oen di Kelenteng Tien Kok Sie Pasar Gede, Minggu (28/1).
Ritual keagamaan yang digelar jelang Hari Raya Imlek itu merupakan tradisi yang dilakukan dalam rangka tolak bala agar tahun depan lebih baik dari sebelumnya.
Prosesi peribadatan dimulai dari pukul 08.00 dengan pembacaan doa-doa. Selanjutnya prosesi pelepasan ratusan burung mulai dilakukan di depan kelenteng setempat, sementara pelepasan ratusan bibit ikan lele dilakukan di Sungai Bengawan Solo pada waktu yang sama.
Ritual doa dan pelepasan burung dan ikan itu dipercaya sebagai cara memelihara alam dan lingkungan dan mampu memberikan karma baik baik umat penganut Tridharma (Konfusianieme, Buddhisme, dan Taoisme).
Pemilihan burung dan ikan mengandung filosofi yang cukup dalam. Sederhananya, burung dan ikan merupakan binatang yang biasanya dipelihara manusia sehingga memiliki hidup yang tidak bebas.
Dengan prosesi pelepasliaran burung dan ikan diharapkan memiliki kehidupan yang lebih bebas di alam.
“Bagi orang Tionghoa yang memiliki shio bertentangan dengan naga kayu akan melepasliarkan makhluk hidup agar mendapatkan karma baik atau tolak bala,” jelas Ketua Yayasan Klenten Tien Kok Sie, Sumantri Dana Waluya, Minggu (28/1/2024).
Usai pelepasan burung dan ikan, umat kembali melanjutkan prosesi doa bersama hingga pukul 11.30. Selanjutnya umat menjalankan prosesi siraman dengan air kembang dan memotong sebagian rambut masing-masing.
Prosesi mandi kembang itu ibarat pembersihan dari segala kesalahan, sementara memotong rambut yang kemudian dilarung adalah bagian dari upaya pemurnian dan membuang kesialan masa lalu.
“Ada 1.000 nama umat yang mengikuti Ritual Pao Oen, tapi yang datang hanya sebagian,” terang dia.
Ritual Pao Oen itu dipimpin oleh para bikkhu dengan pembacaan doa dan berbagai tahapan ritual bersama sejumlah umat Tridharma yang datang hari ini.
Adanya ritual ini menandakan jika seluruh umat Konghucu menyambut datangnya Hari Raya Imlek yang amat penting bagi kepercayaan mereka maupun dalam kehidupan sosial dan budaya.
“Ritual ini sebagai penanda dimulainya Imlek,” beber Sumantri. (ves/bun)
Editor : Damianus Bram