RADARSOLO.COM – Perekonomian Kota Solo mencatatkan pertumbuhan yang positif, yakni mencapai 5,57 persen pada 2023. Angka tersebut digadang-gadang melampaui pertumbuhan provinsi dan nasional.
"Kami melihat bahwa di Solo memiliki pertumbuhan yang tinggi yaitu 5,57 persen dan Solo Raya yaitu 5,41 persen. Ini capaian luar biasa, karena di atas Jawa Tengah yang pertumbuhannya ada di 4,98 dan ekonomi nasional ada 5,05 persen," papar Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Solo Dwiyanto Cahyo Sumirat, Senin (18/3).
Dwiyanto menguraikan, PDRB ekonomi Solo Raya didominasi oleh industri pengolahan yang berkontribusi sebanyak 31,05 persen. Untuk di Solo penyumbang paling dominan adalah sektor konstruksi. Mengingat banyak proyek strategis nasional yang tengah digarap pemerintah setempat.
Sektor akomodasi, makan, dan minum memiliki pertumbuhan paling tinggi. Yakni mencapai 11,6 persen pada 2023.
Meskipun porsi kontribusi akomodasi makan dan minum itu relatif kecil, yakni sekitar 3,97 persen dalam perekonomian Solo Raya. Ini hanya sebesar 7,03 persen di dalam perekonomian Solo, namun pertumbuhan sektor akomodasi makan dan minum ini sangat tinggi.
"Di 2022 saja pertumbuhan akomodasi ada di angka 42,62 persen pada pasca pandemi. Sedangkan di 2023 terus tumbuh di angka 11,6 persen," imbuhnya.
Lebih lanjut, Dwiyanto menjelaskan, potensi wisata di Solo turut mendorong pertumbuhan ekonomi pada sektor lainnya. Jika dibandingkan dengan kabupaten/kota lain, pendaptan per kapita di Solo paling tinggi. Yakni mencapai Rp 114,8 juta per orang.
Selanjutnya Dwiyanto tak menampik, laju inflasi juga naik seiring masifnya pertumbuhan ekonomi daerah. Terbaru, inflasi Solo menyentuh angka 2,82 persen pada Februari lalu. Menurutnya, angka tersebut diklaim masih aman.
"Namun meski begitu, ini tetap jadi kewaspadaan kami. Karena masih di awal bulan, inflasi sudah di titik tengah dari target," imbuhnya.
Dwiyanto menyebut, berbagai upaya dilakukan untuk menekan angka inflasi. Seperti menghadirkan program Gerakan Pangan Murah (GPM), kios mirunggan, bantuan cadangan beras pemerintah, dan sebagainya.
"Agar masyarakat bisa memperoleh kebutuhan bahan pokok dengan harga terjangkau. Kami juga berkolaborasi dengan bulog dan dinas terkait pembagian beras," bebernya.
Daging ayam, telur, aneka bawang, hingga beras menjadi komoditas penyumbang inflasi dalam lima tahun terakhir. Kenaikan harga pangan itu kerap terjadi saat peringatan hari besar, seperti Lebaran.
Dwiyanto menyebut, harga beras naik di masa Ramadhan ini sebab produksinya yang urung mencukupi. Sementara permintaan masyarakat meningkat.
Belum masanya panen tapi kebutuhan sudah meningkat pada saat Ramadhan dan Lebaran. Makanya harganya mengalami lonjakan.
"Namun ada hal baik, yang terungkap dari peternak bahwa pasokan ayam saat ini aman. Mudah-mudahan kondisi ini bisa menghantarkan harga untuk turun lagi," tukasnya. (ul/nik)
Editor : Niko auglandy