RADARSOLO.COM - Hening menyelimuti halaman dalam Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Minggu (2/11) pagi. Di balik tembok tebal peninggalan Mataram itu, aroma bunga dan wangi dupa bercampur dengan suasana duka yang pekat.
Kanjeng Sinuhun Ingkang Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Paku Buwono (PB) XIII Hangabehi, sang raja, berpulang.Kabar bahwa raja tengah menjalani perawatan intensif sudah terdengar sejak Sabtu (1/11).
Namun tak ada yang menyangka, keesokan paginya kabar duka itu benar-benar datang. Sejak itu, Keraton Kasunanan berubah menjadi lautan kesedihan. Di Kori Kamandungan, karangan bunga dan ucapan belasungkawa berdatangan tanpa henti.
Jenazah sang raja dibawa masuk ke dalam keraton, disambut para abdi dalem yang berbaris khidmat. Di Sasono Parasdyo, tempat persemayaman, keluarga, kerabat, dan pelayat datang silih berganti untuk memberikan penghormatan terakhir.
Dari barisan pelayat, terlihat Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Timoer Rumbai Kusuma Dewayani, putri sulung PB XIII, tak kuasa menahan air mata. Wajahnya sembab, suaranya bergetar saat mengenang sosok sang ayah.
“Sinuhun itu sejak muda sudah banyak prihatin. Beliau tidak pernah dispesialkan oleh orang tuanya, jadi sejak kecil sudah diajarkan hidup sederhana dan tahan ujian,” tutur GKR Timoer dengan nada lirih.
Sosok PB XIII, di matanya, bukan hanya seorang raja, tetapi juga ayah yang hangat dan penuh kasih. “Terakhir-terakhir itu, beliau sangat mengayomi kami. Sinuhun juga humoris, suka bercanda, dan dekat dengan anak-anaknya,” ucapnya sambil tersenyum kecil di sela tangis.
Kenangan paling dalam bagi GKR Timoer adalah masa-masa terakhir PB XIII di rumah sakit. Komunikasi di antara mereka nyaris tanpa suara—hanya lewat kedipan mata dan sorot pandang. Namun, dari setiap isyarat itu, ia merasa seperti masih bisa berbicara langsung dengan sang ayah.
“Kalau kami ajak pulang, bilang mau ke Bali, sinuhun ketip-ketip matanya—itu tandanya setuju. Tapi kalau tidak suka, beliau menteleng, matanya melotot,” ceritanya, tersenyum di tengah tangis.
Momen kecil itu menjadi bahasa cinta terakhir antara ayah dan anak. “Beliau tidak bisa bersuara, tapi kami tahu maksudnya. Dari kedipan dan tatapan itu, kami belajar arti kesabaran dan keikhlasan,” ujarnya pelan.
PB XIII meninggalkan enam anak. Yaitu, GKR Timoer Rumbai Kusuma Dewayani, GRAy Devy Lelyana Dewi, GRAy Sugih Oceania (alm), KGPH Mangkubumi, GRAy Putri Purnamaningrum, dan si bungsu Gusti Purboyo atau KGPAA Hamangkunegara Sudibya Rajaputra Narendra Mataram, sang putra mahkota.
Bagi mereka, kenangan tentang sang ayah bukan sekadar kisah pribadi, tapi juga pesan untuk menjaga persatuan keluarga dan kelangsungan keraton.
“Sinuhun itu ayah yang penuh kasih sayang. Beliau bahagia sekali kalau semua anaknya berkumpul. Harapan saya, kami semua harus rukun dan saling membantu untuk kemajuan keraton,” tutur GRAy Devy Lelyana Dewi dengan mata berkaca-kaca.
Di tengah duka, keluarga besar Kasunanan memilih untuk mengenang PB XIII dengan ketenangan dan cinta. “Beliau selalu mengajarkan untuk hidup prihatin tapi penuh kasih. Itu yang ingin kami teruskan,” ujar GKR Timoer. (ves/bun)
Editor : Kabun Triyatno