Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Gerindra Solo Tolak Wacana Budi Arie Gabung ke Partai: “Bisa Rusak Tatanan Internal”

Antonius Christian • Selasa, 11 November 2025 | 23:20 WIB
Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi usai bersilaturahmi ke kediaman Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, Jumat (24/10) siang.
Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi usai bersilaturahmi ke kediaman Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, Jumat (24/10) siang.

RADARSOLO.COM - Rencana Ketua Umum Relawan Projo Budi Arie Setiadi untuk bergabung ke Partai Gerindra menuai penolakan keras dari kader di daerah.

Salah satu penolakan datang dari DPC Partai Gerindra Kota Solo, yang secara tegas menyatakan keberatan terhadap niat mantan Menteri Koperasi dan UKM tersebut.

Sebagaimana diketahui, Budi Arie secara terbuka menyampaikan keinginannya bergabung ke Gerindra dalam Kongres ke-3 Projo di Jakarta, awal November lalu.

Dia menyebut bahwa arah politik Projo pasca-pemilu akan sejalan dengan langkah Presiden terpilih Prabowo Subianto, yang juga Ketua Umum Partai Gerindra. Namun, gagasan itu tak sepenuhnya diterima dengan baik oleh para kader partai berlambang kepala garuda.

Ketua DPC Gerindra Kota Solo Ardianto Kuswinarno menyatakan, pihaknya menolak keras jika Budi Arie maupun kelompok relawan Projo masuk ke struktur partai. Menurutnya, Gerindra telah memiliki basis kader militan dan loyal tanpa perlu bergantung pada kekuatan eksternal.

“Kalau Solo sendiri sama, kita juga tidak bisa menerima. Kami sebagai kader tidak bisa menerima baik itu Pak Budi Arie maupun anggota Projo bergabung ke Gerindra. Karena kita sudah punya kader militan, bahkan melebihi Projo malahan,” tegas Ardianto, Selasa (11/11).

Dia menilai, perbedaan kultur antara relawan dan partai politik bisa menimbulkan gesekan internal. Sebab, seorang relawan memiliki pola pikir yang berbeda dengan kader partai yang terikat oleh AD/ART dan garis komando organisasi.

“Kalau nanti Budi Arie masuk, bisa merusak tatanan partai. Karena dia sudah punya pola pemikiran yang berbeda dengan AD/ART Gerindra. Dia merasa punya power tinggi, lalu masuk ke partai — itu bisa merusak. Level relawan dan partai berbeda,” tegasnya.

Ardianto menambahkan, selama ini kader Gerindra di Solo bekerja keras membangun kepercayaan masyarakat melalui militansi dan kesetiaan terhadap pimpinan partai. Ia khawatir, masuknya figur eksternal yang dekat dengan kekuasaan justru menimbulkan kecemburuan dan perpecahan di tubuh kader yang sudah berjuang sejak awal.

“Kader-kader kita ini sudah terbukti loyal mendukung perjuangan Pak Prabowo dari awal. Jangan sampai semangat itu rusak karena ada orang luar yang tiba-tiba ingin masuk membawa pengaruhnya sendiri,” ujarnya.

Soal komunikasi dengan DPW atau DPP Gerindra, Ardianto menjelaskan bahwa pernyataannya merupakan aspirasi pribadi sekaligus cerminan suara kader di Solo.

“Ini pandangan saya pribadi, tapi kalau saya menolak, otomatis seluruh kader di Solo juga menolak. Kami satu suara. Kalau nanti dari pusat minta pandangan, kami sampaikan apa adanya,” katanya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa Gerindra tidak kekurangan figur potensial. Menurutnya, partai lebih baik memperkuat kaderisasi ketimbang membuka pintu bagi tokoh luar yang belum tentu sejalan dengan nilai-nilai partai.

“Gerindra punya sistem kaderisasi yang jelas. Kita bukan partai yang dibangun oleh kekuatan relawan, tapi dengan disiplin organisasi. Kalau relawan masuk dan pemikirannya berbeda, itu bisa ganggu stabilitas partai,” jelasnya.

Ardianto berharap agar DPP Gerindra tetap mempertahankan garis ideologis dan disiplin organisasi, tanpa tergoda oleh faktor popularitas semata. “Kami percaya Pak Prabowo sangat bijak. Beliau pasti tahu mana yang bisa memperkuat partai dan mana yang justru melemahkan. Kami di bawah hanya ingin menjaga semangat perjuangan dan kekompakan kader,” pungkasnya. (atn/nik)

Editor : Niko auglandy
#projo #partai gerinda #Budi Arie