RADARSOLO.COM – Museum Radya Pustaka menghadirkan suguhan spesial jelang libur panjang Natal dan Tahun Baru 2026.
Sejumlah koleksi mancanegara yang dimiliki museum tertua di Indonesia itu resmi dipamerkan hingga akhir tahun sebagai bagian dari pameran tematik penutup 2025.
Pameran yang dimulai sejak Jumat (28/11) ini menampilkan koleksi dari enam negara berbeda yang tersimpan di Radya Pustaka.
Salah satunya naskah kuno terbitan 1905 dari Belanda, bersama koleksi bersejarah lain dari berbagai negara.
Kepala UPT Museum, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Solo Bonita Rintyowati menjelaskan, pameran ini menjadi agenda khusus di penghujung tahun dan digelar di ruangan khusus yang didesain ulang.
“Kami siapkan satu ruangan untuk menjadi ruang pameran untuk event ini. Jadi ada salah satu ruangan yang sengaja kita desain ulang untuk kegiatan ini,” ujar Bonita, Minggu (30/11/2025).
Pameran mancanegara tersebut diharapkan dapat menjadi magnet wisata baru di Solo, terutama untuk mengejar target kunjungan museum.
Hingga saat ini, capaian kunjungan baru mencapai 63 persen dari target 12 ribu wisatawan pada 2025.
Museum Radya Pustaka buka Selasa–Minggu pukul 08.00–16.00 WIB, dengan harga tiket Rp 7.500–Rp 10.000 per orang, serta potongan harga untuk rombongan.
Sementara wisatawan mancanegara dikenai tiket Rp 50.000 per orang.
“Harapannya event terakhir ini bisa memaksimalkan kunjungan wisata, paling tidak bisa tutup target di akhir tahun nanti,” tambah Bonita.
Pembukaan pameran pada Jumat (28/11) turut dihadiri Wakil Wali Kota Solo Astrid Widayani, bersama Kepala Museum Jawa Tengah, Kepala BPK Wilayah X Jateng, kurator seni, dan budayawan.
Dalam sambutannya, Astrid menekankan pentingnya revitalisasi museum sebagai ruang budaya yang hidup.
Museum ini punya koleksi internasional yang menunjukkan kuatnya diplomasi budaya sejak masa lampau.
"Keistimewaannya bukan hanya dari usianya, tetapi dari keragaman koleksi yang berasal dari periode dan wilayah berbeda. Seperti naskah dari Belanda, porselen dan biola dari Prancis, keramik dari Tiongkok, guci dari Jepang, wayang dari Thailand, hingga senjata tradisional dari Filipina,” tutur Astrid.
Dia menegaskan perlunya menjadikan museum sebagai destinasi yang relevan bagi generasi muda.
“Mari kita hidupkan museum sebagai ruang belajar, ruang dialog, dan pusat peradaban yang membanggakan,” ucapnya. (ves/nik)
Editor : Niko auglandy