Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Grebeg Sudiro 2026: Tak Peduli Hujan Lebat, Ramai-Ramai Berebut 5.000 Kue Keranjang

Silvester Kurniawan • Minggu, 15 Februari 2026 | 17:51 WIB
Masyarakat berebut kue keranjang di Grebeg Sudiro  kawasan Pasar Gede, kemarin (15/2). (M Ihsan/Radar Solo)
Masyarakat berebut kue keranjang di Grebeg Sudiro  kawasan Pasar Gede, kemarin (15/2). (M Ihsan/Radar Solo)

RADARSOLO.COM – Kawasan Pasar Gede Solo berubah menjadi lautan manusia saat Karnaval Budaya Grebeg Sudiro 2026 digelar pada Minggu (15/2) siang. Meski hujan deras sempat mengguyur, ribuan warga tetap bertahan untuk menyaksikan potret nyata kebhinekaan, di mana busana adat Nusantara bersanding apik dengan atribut khas Tionghoa.

Dimulai pukul 14.30, perhelatan ini dibuka dengan aksi memukau Barongsai dan Liong yang disusul oleh defile puluhan kelompok peserta. Menariknya, tahun ini karnaval tidak hanya diikuti warga lokal, tetapi juga belasan perwakilan mancanegara yang turut memeriahkan suasana.

Visualisasi kebhinekaan tampak jelas pada setiap langkah defile. Ada kelompok yang tampil anggun dengan kebaya dan Ageman Jawi Jangkep, sementara di barisan lain tampak busana merah merona khas negeri Tiongkok.

"Bagus sekali. Cita-citanya memang menonjolkan akulturasi budaya. Busana adat dan kesenian tradisional asli Indonesia benar-benar berpadu selaras dengan kesenian China di sini," ujar Ahmad Sidiq, pengunjung asal Boyolali yang sengaja datang ke Solo.

Puncak acara yang dinanti adalah pembagian 5.000 kue keranjang. Gunungan yang tadinya diarak segera menjadi sasaran warga yang ingin mendapatkan "berkah" setahun sekali tersebut.

"Hujan-hujan tetap berburu kue keranjang. Ini pertama kalinya saya ikut rebutan dan dapat empat. Rencananya mau dibawa pulang untuk dimakan bersama keluarga," kata Vivian, warga Pasar Kliwon yang rela menembus hujan lebat demi tradisi ini.

Wakil Wali Kota Solo Astrid Widayani, yang saat ini menjabat sebagai pelaksana harian (plh) wali kota, memberikan apresiasi tinggi atas kesuksesan acara tersebut. Menurutnya, Grebeg Sudiro bukan sekadar pesta rakyat, melainkan cermin sejarah panjang Kampung Sudiroprajan.

"Grebeg Sudiro adalah wajah asli Solo dan Indonesia. Di sini kue keranjang berpadu dengan gunungan, barongsai berpadu dengan reog. Ini membuktikan bahwa keberagaman yang terjalin selama berabad-abad di Sudiroprajan tetap harmonis dan memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi UMKM," tegas Astrid Widayani.

Gelaran ini sekaligus menjadi salah satu rangkaian puncak Perayaan Imlek 2026 di Kota Solo, menegaskan posisi Kota Bengawan sebagai kota yang sangat toleran dan inklusif di mata internasional. (ves/bun)

 

Editor : Kabun Triyatno
#liong #reog #kirab budaya #grebeg sudiro #barongsai #pasar gede #tionghoa