RADARSOLO.COM– Tradisi budaya yang berpadu dengan nuansa religius kembali mewarnai peringatan Kirab Malam Selikuran bertepatan dengan 20 Ramadan 1447 Hijriah yang digelar Keraton Solo.
Adanya dualisme dalam internal Keraton Kasunanan membuat pelaksanaan kirab tahun ini sedikit berbeda karena berlangsung dalam dua versi.
Yakni versi KGPAA Hamangkunegoro Sudibya Rajaputra Narendra Mataram (Gusti Purbaya) dan versi KGPH Mangkubumi.
Pada versi Purbaya, kirab dimulai dari Kori Kamandungan Lor, kemudian bergerak menuju Sitihinggil Keraton Surakarta Hadiningrat dan berakhir di Kagungan Dalem Bon Raja Sriwedari, tepatnya di kawasan Kupel Segaran Taman Sriwedari.
“Jadi ini sebagai tanda syukur bahwa kita memasuki sepertiga terakhir dari bulan Ramadan, menanti turunnya Lailatul Qadar yang kita diperkirakan tiap malam ganjil," ujar KPH H. Dani Nur Adiningrat, perwakilan Purbaya.
"Jadi kita melaksanakan perayaan atau ritual kirab malam selikuran dari Keraton Kasunan Surakarta menuju Kagungan Dalem Bon Raja Sriwedari. Sinuhun hadir langsung menuju ke Taman Sriwedari, nanti di sana pengajian wilujengan dan lain sebagainya,” imbuhnya.
Sementara itu, pada versi Mangkubumi, kirab dimulai dari Kori Kamandungan dan memutari wilayah Baluwarti sebelum menuju Masjid Agung Surakarta.
Sayangnya, dalam kirab tersebut Mangkubumi tidak hadir karena sedang sakit.
Meski sempat diwarnai insiden mati lampu, prosesi kirab dari kedua versi tetap berlangsung khidmat.
Rombongan kirab diiringi berbagai lampion dengan beragam bentuk, seperti logo keraton, rojomolo, serta ornamen lainnya.
Di belakang barisan lampion, para abdi dalem berjalan membawa tumpeng sewu dan sekul wilujengan sebagai bagian dari rangkaian ritual.
Salah satu unsur utama dalam kirab tersebut adalah tumpeng sewu, yakni seribu tumpeng yang diusung para utusan dalem.
Tumpeng ini menjadi simbol penghormatan sekaligus ungkapan rasa syukur kepada Tuhan.
Selain itu, tumpeng sewu juga melambangkan harapan akan hadirnya malam yang penuh kemuliaan, yaitu Lailatul Qadar, malam yang diyakini memiliki keutamaan lebih baik daripada 1.000 bulan.
Ketua Eksekutif Lembaga Dewan Adat (LDA), KPH Eddy Wirabhumi menjelaskan, secara historis kirab Selikuran sebenarnya berakhir di Masjid Agung Surakarta.
Namun prosesi kirab kemudian diarahkan menuju Sriwedari setelah dibangunnya Kagungan Dalem Bon Raja di Sriwedari sebagai taman rakyat agar lebih semarak.
Terkait adanya perbedaan pelaksanaan kirab Selikuran, KPH Eddy Wirabhumi menilai hal tersebut bukan menjadi persoalan.
Menurutnya, versi yang dilaksanakan oleh Lembaga Dewan Adat justru berupaya mengembalikan tradisi tersebut pada ruh awalnya.
“Tidak apa-apa biar saja ke sana (Taman Srowedari). Kita justru mengambilkan lagi ruhnya karena sebelum ada Sriwedari memang juga datangnya malam selikuran itu di Masjid Agung. Terus ya itu karena PB X memandang bahwa ini bisa menjadi kegiatan yang meramaikan suasana zaman dulu,” ungkapnya.
Meski demikian, hal tersebut tidak mengurangi makna maupun kekhidmatan tradisi Malam Selikuran.
“Ya, sejak PB XIII kemudian ada perbedaan. Jadi satu di sana (Taman Srowedari) satu di sini (Masjid Agung Surakarta), tidak apa-apa. Semakin banyak sesuatu yang dibagi kepada masyarakat, menurut saya makin baik. Mudah-mudahan tumpengnya nanti membawa berkah,” kata Eddy. (hj)
Editor : Tri wahyu Cahyono