DIA langsung menjatuhkan badan di lapangan. Ini sebagai bentuk kegembiraan atas kemenangan yang diraih Alwi Farhan atas pebulu tangkis Ma Cheng-Yi dari Taiwan dengan 21-19, 21-16 pada pertandingan final Kejuaraan Bulu Tangkis Asia U-15 (di bawah usia 15 tahun) di GOR Sudirman, Surabaya, pada Minggu (15/12).
Dia kemudian berdiri dan menengadahkan tangan ke atas. Alwi tak menyangka dirinya bisa menjadi juara karena statusnya bukan unggulan teratas.
”Saya sangat bangga bisa menang di pertandingan final ini. Tak pernah terbayangkan bisa menjadi juara Asia,” ungkapnya usai pertandingan.
Dia mengaku karirnya bermain bulu tangkis dimulai beberapa kejuaraan di eks-Karesidenan Surakarta. Dia bergabung dengan sebuah klub di Cemani, Sukoharjo.
Kemauan keras dan usaha yang tak kenal menyerah, membuat Alwi mulai dipercaya tampil di berbagai turnamen. Bakatnya ini, ungkap bocah yang tinggal di Semanggi, Pasar Kliwon, tersebut dilirik oleh sebuah klub besar di Jakarta, Exist.
”Saya gabung Exist pada 2016. Awalnya, memang perlu adaptasi di klub besar, apalagi tinggal di Jakarta,” terang Alwi.
Di tangan pelatih Alex Chandra, kemampuan dan bakat yang dimiliki bocah kelahiran 12 Mei 2005 itu semakin terasah. Berbagai gelar sudah mampu diraih putra dari ayah bernama M. Anis tersebut.
Alwi menyebut gelar bergengsi yang pernah diraihnya adalah di tahun ini yakni juara U-15 atau kelompok pemula di Sirkuit Nasional (Sirnas) Premier Jakarta dan Pembangunan Jaya Raya GP yang juga dilaksanakan di ibu kota.
”Tapi, juara Asia ini yang paling bergengsi. Semoga gelar ini memacu semangat saya untuk terus berprestasi,” terang Alwi.
Diakuinya, pengalaman bertanding di beberapa negara ikut mempengaruhinya di lapangan. Alwi menyebut beberapa negara luar Indonesia yang pernah disingahinya antara lain Singapura dan Malaysia.
Hebatnya, sebelum dan sesudah pertandingan, dia selalu mengontak orang tuanya. Termasuk, usai menjadi juara Asia. (*/nik) Editor : Perdana Bayu Saputra