RADARSOLO.COM – Pemangkasan anggaran hibah KONI Kota Surakarta pada APBD 2026 menjadi ujian serius bagi dunia olahraga prestasi di Kota Bengawan.
Ketua KONI Kota Solo Her Suprabu secara terbuka mengakui bahwa efisiensi anggaran tersebut membuat persiapan menghadapi Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Tengah 2026 berjalan dalam tekanan dan penuh kehati-hatian.
Her menyebut, di satu sisi KONI memiliki kewajiban untuk tetap mengirim atlet ke ajang Porprov.
Namun di sisi lain, kemampuan anggaran yang tersedia jauh dari kondisi ideal, terlebih di tengah target besar mengembalikan prestasi Solo ke posisi runner up.
“Memang benar ada pemotongan anggaran hibah dari APBD 2026. Di saat bersamaan, kita menghadapi Porprov dan kewajiban KONI adalah mengirim atlet. Target kami jelas, ingin kembali duduk di posisi runner up,” ujar Her, Senin (29/12).
Dia mengakui target tersebut bukan tanpa dasar. Dalam beberapa edisi porprov terakhir, prestasi Solo mengalami penurunan dan harus puas finis di peringkat ketiga. Kondisi itu menjadi cambuk bagi KONI dan seluruh cabang olahraga untuk kembali bangkit.
“Beberapa tahun terakhir kita memang terpleset di posisi tiga. Itu yang membuat kami punya spirit untuk naik lagi ke peringkat kedua,” tegasnya.
Namun semangat tersebut kini harus berhadapan langsung dengan realitas keterbatasan anggaran. Pada APBD 2026, KONI Solo hanya menerima hibah sekitar Rp 8 miliar, turun signifikan dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp 11 miliar. Dari total tersebut, kebutuhan khusus untuk porprov saja diperkirakan menelan anggaran sekitar Rp 5 miliar.
“Kalau dilihat angkanya jelas berat. Tahun ini kita hanya dapat Rp 8 miliar, padahal tahun lalu sekitar Rp 11 miliar. Sementara porprov sendiri butuh sekitar Rp 5 miliar. Ini yang sedang kami hitung dengan sangat cermat,” ungkap Her.
Menurutnya, dampak efisiensi anggaran tidak hanya terasa pada satu sektor, melainkan merata hampir di seluruh lini pembinaan olahraga. Mulai dari dana intensif atlet dan pelatih, program pembinaan rutin, hingga kegiatan operasional cabang olahraga, semuanya terdampak.
“Otomatis semua lini kena. Intensif kena, pembinaan rutin kena, kegiatan pendukung juga kena. Kita tidak bisa menutup mata,” katanya.
Her menjelaskan, kondisi tersebut telah disampaikan secara terbuka kepada para pemangku kepentingan.
Dalam berbagai forum resmi, KONI Solo memaparkan secara apa adanya bahwa dengan struktur anggaran saat ini, pembinaan tidak bisa berjalan seideal tahun-tahun sebelumnya.
“Kami sudah paparan ke semua stakeholder. Kami sampaikan apa adanya, dengan anggaran seperti ini, memang berat. Mau tidak mau harus ada efisiensi di internal KONI,” jelasnya.
Meski demikian, KONI Solo belum sepenuhnya kehilangan harapan. Satu-satunya peluang yang masih bisa dioptimalkan adalah melalui APBD Perubahan 2026. Namun hingga kini, kepastian terkait tambahan hibah tersebut masih belum jelas.
“Kami berharap di anggaran perubahan nanti ada tambahan untuk Porprov. Tapi jujur saja, jawabannya masih abu-abu. Mudah-mudahan Mei atau Juni sudah ada kepastian,” ujarnya.
Ketidakpastian itu membuat waktu persiapan atlet semakin sempit. Pasalnya, KONI harus menyusun skema pembinaan dan penganggaran tanpa kepastian apakah akan ada tambahan dana atau tidak.
“Kalau ditanya apakah mepet, ya sangat mepet. Karena kami harus menyiapkan Porprov sambil menunggu kejelasan APBD Perubahan,” kata Her.
Untuk menyiasati kondisi tersebut, KONI Solo berencana memfokuskan anggaran yang tersedia terlebih dahulu pada persiapan Porprov.
Sementara program lain seperti bantuan alat dan operasional cabang olahraga kemungkinan baru bisa direalisasikan setelah Porprov melalui APBD Perubahan.
“Anggaran yang ada akan kami fokuskan dulu untuk porprov. Kegiatan lain kemungkinan baru bisa diberikan setelah porprov lewat APBD Perubahan,” jelasnya.
Her juga menyoroti dampak psikologis dari keterbatasan anggaran, terutama bagi atlet dan pelatih.
Dia menyadari, penurunan intensif dan keterbatasan pembinaan berpotensi menimbulkan keresahan di internal cabang olahraga.
“Saya yakin akan ada pertanyaan dari atlet dan pelatih, kenapa dananya berkurang. Secara psikologis pasti terdampak, itu tidak bisa dihindari,” ungkapnya.
Hingga kini, KONI Solo belum menyampaikan kondisi riil tersebut kepada seluruh cabang olahraga. Her mengatakan, pihaknya akan segera menggelar rapat evaluasi untuk mensimulasikan pembagian anggaran secara terbuka dan realisMoti
“Nanti setelah rapat evaluasi, baru kita sampaikan ke cabor. Kita simulasikan intensif berapa, pembinaan berapa, semuanya dibuka secara transparan,” katanya.
Dalam konteks porprov, Her menyebut KONI Solo tengah menyiapkan dua opsi strategis.
Opsi pertama, mengirim kontingen secara penuh sekira 600 orang, namun dengan konsekuensi dana intensif tidak bisa diberikan secara maksimal.
Opsi kedua, mempertahankan intensif penuh, tetapi jumlah kontingen yang diberangkatkan dikurangi hingga setengahnya.
“Ada dua opsi yang sedang kami kaji. Full tim tapi intensif tidak full, atau intensif full tapi kontingen setengah. Ini pilihan yang berat,” jelasnya.
Meski begitu, Her menegaskan harapan terbesar KONI Solo tetap bisa mengirimkan kontingen secara penuh dengan dukungan intensif yang layak.
“Harapan kami tentu berangkat full, dengan intensif yang juga full,” tegasnya.
Di akhir pernyataannya, Her Suprabu berharap Pemerintah Kota Surakarta memberi perhatian lebih terhadap sektor olahraga.
Menurutnya, olahraga bukan hanya soal prestasi, tetapi juga bagian dari identitas Kota Solo sebagai kota sport tourism.
“Mudah-mudahan olahraga benar-benar mendapat perhatian. Solo membawa slogan sport tourism, dan kita sudah dikenal sebagai tuan rumah event olahraga besar, bukan hanya nasional tapi juga internasional,” pungkasnya. (atn/nik)
Editor : Niko auglandy