alexametrics
32.3 C
Surakarta
Friday, 19 August 2022

Suntikan Motivasi dari Luar Arena Bagi Kontingen Indonesia di Ajang APG

SOLO – Keberhasilan para duta bangsa di ASEAN Para Games (APG) XI 2022, tak lepas dari peran pendukungnya. Didominasi para pelajar jenjang SD, SMP, dan SMA sederajat di Kota Bengawan. Hadirnya para pendukung yang terus bernyanyi di atas tribun, praktis membakar semangat para atlet yang bertanding.

Di setiap venue ASEAN Para Games pasti selalu ada suporter yang hadir. Ambil contoh cabor wheelchair basketball di Sritex Arena, Kamis (4/8). Tim putra Indonesia berhasil merebut perunggu, usai mengalahkan Kamboja, di bawah dukungan ribuan suporter.

“Kami bangga melihat perjuangan wakil Indonesia. Seru juga pertandingannya,” ujar Cindy Andriyani, pendukung dari salah satu SMP di Kota Solo tersebut.

Dukungan serupa juga hadir di GOR UTP, venue cabor voli duduk. Di mana tim putri Indonesia akhirnya meraih emas, usai mengalahkan Thailand di final. Termasuk di Lapangan Kota Barat, venue panahan.

“Ini pertama kalinya melihat pertandingan panahan. Saya juga dapat hadiah pin dari atlet Indonesia Ken Swagumilang. Teman-teman malah ada yang dapat dari atlet Thailand,” beber siswa SD Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat Surakarta Eaezya Aisy.

Selain itu, puluhan suporter juga memadati Lapangan Tenis Manahan, venue cabor wheelchair tennis. Termasuk sejumlah venue lainnya. Kecuali venue cabor catur di D’wangsa Lorin Hotel. Karena suporter dilarang masuk, supaya tidak mengganggu konsentrasi para atlet.

Solusinya, suporter yang datang, terutama dari keluarga dan pengurus National Paralympic Committee (NPC) Indonesia, disediakan enam unit TV untuk memantau pertandingan. Ditempatkan di samping ballroom, plus satu unit di area pintu masuk utama.

“Ditanya apa sensasinya, ya rasa tegangnya itu. Meskipun hanya melihat dari TV, tapi tetap tegang. Terutama saat melihat langkah demi langkah atlet Indonesia,” papar Agung, pendukung asal Solo.

Hal serupa dirasakan rekan Agung, Andi Putranto yang ikut memantau sejak hari pertama. Dia mengaku ketagihan melihat aksi para atlet Indonesia.

“Saya pikir catur ini sepi. Tidak ada dinamikanya. Ternyata saya salah. Malah ketegangannya lebih terasa. Satu langkah saja bisa menentukan hasil keseluruhan,” ungkapnya. (nik/fer)

SOLO – Keberhasilan para duta bangsa di ASEAN Para Games (APG) XI 2022, tak lepas dari peran pendukungnya. Didominasi para pelajar jenjang SD, SMP, dan SMA sederajat di Kota Bengawan. Hadirnya para pendukung yang terus bernyanyi di atas tribun, praktis membakar semangat para atlet yang bertanding.

Di setiap venue ASEAN Para Games pasti selalu ada suporter yang hadir. Ambil contoh cabor wheelchair basketball di Sritex Arena, Kamis (4/8). Tim putra Indonesia berhasil merebut perunggu, usai mengalahkan Kamboja, di bawah dukungan ribuan suporter.

“Kami bangga melihat perjuangan wakil Indonesia. Seru juga pertandingannya,” ujar Cindy Andriyani, pendukung dari salah satu SMP di Kota Solo tersebut.

Dukungan serupa juga hadir di GOR UTP, venue cabor voli duduk. Di mana tim putri Indonesia akhirnya meraih emas, usai mengalahkan Thailand di final. Termasuk di Lapangan Kota Barat, venue panahan.

“Ini pertama kalinya melihat pertandingan panahan. Saya juga dapat hadiah pin dari atlet Indonesia Ken Swagumilang. Teman-teman malah ada yang dapat dari atlet Thailand,” beber siswa SD Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat Surakarta Eaezya Aisy.

Selain itu, puluhan suporter juga memadati Lapangan Tenis Manahan, venue cabor wheelchair tennis. Termasuk sejumlah venue lainnya. Kecuali venue cabor catur di D’wangsa Lorin Hotel. Karena suporter dilarang masuk, supaya tidak mengganggu konsentrasi para atlet.

Solusinya, suporter yang datang, terutama dari keluarga dan pengurus National Paralympic Committee (NPC) Indonesia, disediakan enam unit TV untuk memantau pertandingan. Ditempatkan di samping ballroom, plus satu unit di area pintu masuk utama.

“Ditanya apa sensasinya, ya rasa tegangnya itu. Meskipun hanya melihat dari TV, tapi tetap tegang. Terutama saat melihat langkah demi langkah atlet Indonesia,” papar Agung, pendukung asal Solo.

Hal serupa dirasakan rekan Agung, Andi Putranto yang ikut memantau sejak hari pertama. Dia mengaku ketagihan melihat aksi para atlet Indonesia.

“Saya pikir catur ini sepi. Tidak ada dinamikanya. Ternyata saya salah. Malah ketegangannya lebih terasa. Satu langkah saja bisa menentukan hasil keseluruhan,” ungkapnya. (nik/fer)

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/