alexametrics
32.3 C
Surakarta
Friday, 19 August 2022

Pasca Penyalaan Flare di Stadion Manahan, Kelompok Suporter Meminta Maaf

SOLO – Pasca kasus menyalanya flare di Stadion Manahan di akhir babak kedua pertandingan antara Persis Solo melawan Persita Tangerang Senin (27/6) lalu, terdapat kelompok suporter yang meminta maaf. Hal ini diungkapkan Ketua Panitia Pelaksana (Panpel) Piala Presiden Stadion Manahan Ginda Ferachtriawan.

Ginda menuturkan permintaan ini diungkapkan melalui unggahan twiteer. Namun permintaan maaf itu tidak terkait penyalaan flare. “Hanya bentuk tulisan ya, namun intinya meminta maaf karena tidak bisa menjaga ketertiban pasca pertandingan terakhir itu,” katanya.

“Kita mengapresiasi hal tersebut. Namun kita tetap menunggu permintaan maaf terhadap penyalaan flare tersebut. Karena itu yang menjadi evaluasi dan catatan kita,” jelas Ginda.

Lebih lanjut Ginda mengatakan kalau sebenarnya dia juga sudah tahu siapa dan dari kelompok mana oknum yang menyalakan flare tersebut. “Namun sekali lagi, kami menunggu kedewasaan dari oknum tersebut. Berani berbuat harus berani bertanggung jawab,” tegas Ginda.

Disinggung soal bagaimana flare tersebut bisa masuk? Ginda mengatakan ada beberapa kemungkinan. Namun dia menduga flare tersebut dilempar dari bawah ke dalam stadion. “Karena kita sudah melaksanakan pemeriksaan secara ketat dipintu masuk. Jadi kemungkinan dari situ. Apalagi banyak penonton tak bertiket tetap masuk ke kawasan Manahan saat pertandingan,” ujarnya.

Hal ini, lanjut Ginda, akan menjadi evaluasi dari Panpel untuk event sepak bola kedepan. Mengingat stadion Manahan akan kembali dijadikan venue pertandingan sepakbola. Yaitu Liga 1 dan Piala Dunia U20. “Patroli akan kita tingkatkan lagi,” ujarnya.

“Tapi ya sekali lagi, saya minta benar kedewasaanya. Jangan sampai kejadian seperti di Bandung, karena ada kejadian akhirnya sekarang tiap pertandingan terselenggara tanpa penonton, kan eman-eman,” ujarnya.

Hal senada diungkapkan Wali Kota Surakarta Gibran Rakabuming Raka saat ditemui di kompleks DPRD Kota Surakarta Rabu (29/6) kemarin. Gibran menuturkan hal tersebut akan menjadi evaluasi. “Ojo koyo ngone meneh. Dilarang itu,” ucapnya.

“Apalagi kita Kedepan akan menyambut event olahraga yang lain. Sebentar lagi ada APG (Asean Para Games). Sudah siap kita sambut. Cuma kemaarin venue di De Tjolomadu saja  yang pindah,” pungkas Gibran. (atn/dam)

SOLO – Pasca kasus menyalanya flare di Stadion Manahan di akhir babak kedua pertandingan antara Persis Solo melawan Persita Tangerang Senin (27/6) lalu, terdapat kelompok suporter yang meminta maaf. Hal ini diungkapkan Ketua Panitia Pelaksana (Panpel) Piala Presiden Stadion Manahan Ginda Ferachtriawan.

Ginda menuturkan permintaan ini diungkapkan melalui unggahan twiteer. Namun permintaan maaf itu tidak terkait penyalaan flare. “Hanya bentuk tulisan ya, namun intinya meminta maaf karena tidak bisa menjaga ketertiban pasca pertandingan terakhir itu,” katanya.

“Kita mengapresiasi hal tersebut. Namun kita tetap menunggu permintaan maaf terhadap penyalaan flare tersebut. Karena itu yang menjadi evaluasi dan catatan kita,” jelas Ginda.

Lebih lanjut Ginda mengatakan kalau sebenarnya dia juga sudah tahu siapa dan dari kelompok mana oknum yang menyalakan flare tersebut. “Namun sekali lagi, kami menunggu kedewasaan dari oknum tersebut. Berani berbuat harus berani bertanggung jawab,” tegas Ginda.

Disinggung soal bagaimana flare tersebut bisa masuk? Ginda mengatakan ada beberapa kemungkinan. Namun dia menduga flare tersebut dilempar dari bawah ke dalam stadion. “Karena kita sudah melaksanakan pemeriksaan secara ketat dipintu masuk. Jadi kemungkinan dari situ. Apalagi banyak penonton tak bertiket tetap masuk ke kawasan Manahan saat pertandingan,” ujarnya.

Hal ini, lanjut Ginda, akan menjadi evaluasi dari Panpel untuk event sepak bola kedepan. Mengingat stadion Manahan akan kembali dijadikan venue pertandingan sepakbola. Yaitu Liga 1 dan Piala Dunia U20. “Patroli akan kita tingkatkan lagi,” ujarnya.

“Tapi ya sekali lagi, saya minta benar kedewasaanya. Jangan sampai kejadian seperti di Bandung, karena ada kejadian akhirnya sekarang tiap pertandingan terselenggara tanpa penonton, kan eman-eman,” ujarnya.

Hal senada diungkapkan Wali Kota Surakarta Gibran Rakabuming Raka saat ditemui di kompleks DPRD Kota Surakarta Rabu (29/6) kemarin. Gibran menuturkan hal tersebut akan menjadi evaluasi. “Ojo koyo ngone meneh. Dilarang itu,” ucapnya.

“Apalagi kita Kedepan akan menyambut event olahraga yang lain. Sebentar lagi ada APG (Asean Para Games). Sudah siap kita sambut. Cuma kemaarin venue di De Tjolomadu saja  yang pindah,” pungkas Gibran. (atn/dam)

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/