AHMAD KHAIRUDIN, Sragen, Radar Solo
Dua atlet peraih medali perak Sea Games 2021 tersebut adalah Muhammad Nizar Nayaruddin, 27; dan Guntur Sulistyo Ariwibowo,25. Di ajang tersebut, tim futsal Indonesia hanya kalah poin dari Thailand. Mereka pun mendapat uang dari Pemerintah Kabupaten Sragen, masing-masing Rp 10 juta.
Nizar yang berposisi sebagai kiper mengakui sebenarnya basic olahraga awal dari sepakbola. Pemuda dari Kleco Kulon, Desa Sidoharjo, Kecamatan Sidoharjo ini bahkan pernah masuk SSB Indonesia Muda (IM) Sragen.
Selanjutnya tergabung dalam PSISra Sragen Junior. Namun ketika kuliah di Jogja lebih menekuni futsal dan tergabung dengan klub asal Sleman. Saat ini dia tergabung dengan klub futsal asal Pontianak, Kalimantan Barat.
”Saya mengawali timnas di 2018 mengikuti seleknas. Baru di Piala AFF dan SEA Games ini saya tembus timnas,” ujarnya, kemarin (25/5).
Sedangkan Guntur yang berasal dari Desa Karangjati, Kecamatan Kalijambe sebelumnnya pernah masuk Persis Solo Junior. Sebelum akhirnya banting setir ke futsal.
”Saya di Persis Junior, ketika kuliah lebih ke futsal. Waktu PON juga ikut, bukan Jateng tapi ikut tim Kaltim,” terangnya saat menerima penghargaan di GOR Diponegoro Sragen.
Guntur berharap venue di GOR Diponegoro Sragen ini benar-benar menjadi wadah masyarakat untuk berolahraga. Bukan sekadar tempat olahraga biasa. Tetapi bisa menjadi lokasi menempa atlet-atlet di Sragen agar berprestasi.
Ketua KONI Sragen Subono menjelaskan, hadiah uang tunai itu langsung dari Bupati Sragen.
”Tali asih ini jumlahnya tidak seberapa, diambilkan dari anggaran KONI. Pemberian tali asih bagi atlet berprestasi itu wajib. Nanti foto mereka kami pasang di depan Kantor KONI Sragen sebagai wujud kepedulian dan juga bisa memotivasi atlet di Sragen,” ujarnya.
Soal prospek futsal, dia menilai sangat bagus dan berkembang. Hanya saja venue-nya belum dimiliki Pemkab Sragen. Lapangan futsal yang ada dikelola oleh perorangan atau swasta.
”Kemarin kami sampaikan pada bupati, penambahan venue Rp 5 miliar. Salah satunya venue futsal,” ujarnya.
Menurutnya, futsal berpotensi menjadi olahraga industri. Bisa berkembang untuk pembiayaan seperti voli. Karena jika mengadalkan anggaran kONI sangat terbatas. Sementara untuk membangun venue, dinas terkait hendaknya melibatkan cabor yang bersangkutan. Agar sesuai dengan ketentuan aturan.
”Jangan mubazir seperti kolam renang kartika. Karena saat diperiksa sebelum kejurda ukurannya kurang 11 cm,” ujarnya. (*/adi) Editor : Damianus Bram