RADARSOLO.COM – Tradisi masyarakat Jawa tak pernah lepas dari momen-momen penting, termasuk menjelang musim giling tebu.
Di sekitar Pabrik Gula (PG) Mojo, tradisi cembreng atau pasar malam bakal digelar untuk menyambut dimulainya produksi gula tahun ini. Rencananya, musim giling akan dimulai pada Mei mendatang.
Ketua Panitia Buka Giling PG Mojo, Sugiyanto, menjelaskan bahwa tradisi cembreng sudah melekat dan menjadi agenda tahunan yang tak pernah absen sebelum giling tebu dimulai.
“Namanya kepercayaan dan kebiasaan. Kalau tidak digelar, rasanya ada yang kurang,” ujar Sugiyanto, Jumat (29/3/2025).
Tak hanya di PG Mojo, tradisi serupa juga dilakukan di berbagai pabrik gula lain. Beberapa daerah menyebutnya “Bodo Pabrik” atau “Bakdo Pabrik”, yang berarti hari raya pabrik.
Meskipun namanya berbeda-beda, maknanya tetap sama: bentuk syukur dan harapan agar hasil produksi tahun ini melimpah.
Cembreng, Tradisi Sekaligus Perputaran Ekonomi
Di lingkungan PG Mojo, sebagian lahan pabrik dimanfaatkan untuk lokasi cembreng. Lahan ini disewakan kepada pihak ketiga dan hasilnya tidak dimasukkan sebagai profit perusahaan.
Dana sewa tersebut justru dikembalikan kepada masyarakat melalui program tanggung jawab sosial (CSR).
“Profit dari cembreng tidak kami masukkan sebagai keuntungan. Dana itu dikembalikan ke masyarakat dalam bentuk CSR, seperti untuk acara manten tebu, pertunjukan wayang kulit, hingga santunan anak yatim,” terang Sugiyanto.
Acara buka giling tahun ini akan kembali meriah dengan rangkaian kegiatan budaya seperti manten tebu dan wayangan dua malam.
Semua rangkaian tersebut merupakan bentuk kepedulian terhadap budaya lokal dan upaya memperkuat hubungan sosial antara perusahaan dan masyarakat.
Sugiyanto menegaskan bahwa keberadaan PG Mojo di tengah permukiman padat tidak hanya berdampak ekonomi, tetapi juga sosial budaya.
“Pada dasarnya kami tetap memperhatikan adat dan budaya setempat. Tapi di sisi lain, kami bisa menghimpun dana untuk dikembalikan kepada masyarakat sekitar,” tambahnya.
Cembreng juga sempat absen saat pandemi Covid-19 berlangsung, yang sempat menimbulkan kekecewaan di kalangan warga.
Kini, dengan kondisi yang berangsur normal, masyarakat kembali bisa menikmati suasana pasar malam sembari menanti momen buka giling tebu yang menjadi denyut ekonomi di Sragen. (din/nik)
Editor : Damianus Bram