RADARSOLO.COM – Wabah penyakit Chikungunya mulai meneror warga Nyawun, Desa Pagak, Kecamatan Sumberlawang, Sragen. Diduga puluhan warga di dua RT tumbang secara bergantian.
Mereka menuding pencemaran limbah pabrik pemotongan unggas dan kondisi embung yang terbengkalai sebagai biang keladi di balik ledakan populasi nyamuk di wilayah tersebut.
Ketua RT 6 Dukuh Nyawun Sutrisno menjelaskan, serangan penyakit yang melumpuhkan persendian ini menyasar hampir seluruh rumah di lingkungannya.
”Yang kena itu banyak, mas, hampir semua. Kalau 100 (orang) ada. Di tempat saya RT 7 itu satu rumah bisa tiga orang yang kena. Dari 31 rumah, hampir semuanya terdampak. Begitu juga di RT 6 yang ada 45 rumah, hampir separuhnya sudah kena,” ujar, Kamis (18/12/2025).
Warga mencium adanya ketidakberesan pada lingkungan mereka sejak beroperasinya pabrik pemotongan unggas di kawasan tersebut.
Sutrisno mengenang, sebelum ada pabrik, air di lingkungan mereka cukup bersih hingga bisa digunakan untuk mandi (ciblon).
Namun kini, kondisi berubah drastis. Air berubah menjadi hitam, berbau busuk setiap sore hari.
Selain itu memicu pertumbuhan rumput liar yang sangat cepat di area embung, sehingga menciptakan lingkungan yang sangat kumuh.
”Kami ingin Pemkab Sragen atau pihak manapun turun tangan. Bagaimana caranya Embung Nyawun tidak terkena limbah lagi. Kami butuh normalisasi karena warga dan pemerintah desa tidak mampu mengatasi kondisi embung yang sudah parah itu,” tegasnya.
Kepala Desa Pagak, Solekhan membenarkan adanya warga yang terjangkit Chikungunya. Namun dia menolak menyebut kondisi tersebut sebagai kejadian luar biasa (KLB).
Bahkan, Solekhan secara terang-terangan membantah keterkaitan antara limbah pabrik dengan wabah yang terjadi. Ia justru melimpahkan kesalahan pada pola hidup warga.
”Ndak ada itu kalau faktor limbah pabrik, cuma kebersihan warga yang kurang,” cetusnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sragen Udayanti Proborini mengaku baru menerima informasi terkait serangan Chikungunya.
Pihaknya berjanji akan segera berkoordinasi dengan Puskesmas Sumberlawang untuk melakukan pengecekan di lokasi.
”Ini baru tahu, coba nanti saya tanyakan ke Kepala Puskesmasnya untuk tindak lanjut,” kata Udayanti. (din/adi)
Editor : Adi Pras