Pantauan di Observatorium Pondok Pesantren Modern Islam (PPMI) Assalaam, Kartasura, Sukoharjo, Rabu (26/5) petang, fase totalitas gerhana secara teori maupun praktik terbukti. Kepala Observatorium PPMI Assalaam Sugeng Riyadi mengaku terlihat ada bulatan warna kemerahan di ujung.
"Sekitar pukul 18.25, bulan semakin terang di sebelah utara. Sedangkan separo bagian selatan masih gelap. Artinya, masyarakat Kota Solo dan sekitarnya hanya kebagian sedikit fase parsial sebelum masuk ke gerhana total. Untungnya, fase totalitas yang berjalan sekitar 15 menit masih bisa diamati," ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Solo.
Sugeng menambahkan, sekitar pukul 19.54, fase parsial sudah habis. Bulan semakin terang dan membulat. Namun, sesuai perhitungan, ini termasuk gerhana bulan penumbra atau samar.
"Mendekati pukul 20.00 sudah kembali purnama. Kemudian pukul 21.00 ke atas sudah dipastikan purnama total. Artinya, bayangan bumi sudah tidak menutupi bulan sama sekali alias gerhana selesai," imbuhnya.
Menurut perhitungan, sekitar pukul 20.54 merupakan akhir dari fenomena gerhana alias penumbra penutup. "Di awal itu, penumbra masuk. Kemudian masuk ke fase parsial. Lalu masuk total. Keluar lagi ke parsial. Akhirnya keluar penumbra lagi. Masyarakat di Solo masih beruntung. Karena dapat mengamati parsial awal, totalitas, parsial akhir, sampai penumbra akhir," ungkapnya.
Sementara itu, Sugeng memprediksi fenomena super blood moon kembali terulang tahun depan. Bahkan dalam waktu dekat ini, akan ada gerhana bulan parsial atau sebagian.
"Di wilayah Indonesia bagian timur, bisa melihat gerhana lebih banyak. Bahkan bisa sampai gerhana total. Untuk wilayah Solo, mungkin hanya kebagian tujuh menit. Kalau parsial itu, pandangan bulan seperti purnama biasa. Bisa dilihat dengan mata telanjang, pakai kamera, atau teleskop," bebernya. (nis/fer/bun/dam) Editor : Perdana Bayu Saputra