Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Kisah Relawan PMI Sukoharjo Aris Diyanto, Rela Terabas Lumpur Dan Longsor Sibolga Demi Mendata Korban Bencana

Iwan Kawul • Rabu, 24 Desember 2025 | 18:11 WIB
Aris Diyanto (kiri), relawan Palang Merah Indonesia (PMI) Sukoharjo saat bertugas di Sumatera Utara.
Aris Diyanto (kiri), relawan Palang Merah Indonesia (PMI) Sukoharjo saat bertugas di Sumatera Utara.

RADARSOLO.COM – Perjalanan kemanusiaan Aris Diyanto, relawan Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Sukoharjo, bukan sekadar tugas biasa..

Selama hampir satu bulan penuh di Desember 2025, ia menembus lumpur, longsor, dan jalanan yang berubah menjadi sungai demi satu tujuan: memastikan para penyintas bencana di Tapanuli Tengah dan Kota Sibolga tetap terdata dan terbantu, meski dalam keterbatasan yang menyayat hati.

Aris berangkat dari PMI Sukoharjo pada 1 Desember 2025 bersama rekannya, Andie Suryo Saputro. Dari Jawa Tengah, para relawan terlebih dahulu berkumpul di Jakarta sebelum bergerak menuju Sumatera.

Ia dan tim menumpang satu kapal kargo bermuatan logistik kemanusiaan. Rombongan relawan PMI yang bertugas di wilayah Sumatera Barat dan Sumatera Utara itu tiba di Pelabuhan Belawan, Medan, pada 10 Desember 2025.

Perjalanan belum berakhir. Dari Belawan menuju Sibolga, Tapanuli Tengah, yang normalnya hanya memakan waktu sekitar 10 jam, berubah menjadi perjalanan satu hari satu malam.

Akses jalan banyak terputus akibat longsor dan banjir. Di kiri kanan jalan, tebing runtuh dan jurang menganga, membuat setiap kilometer terasa seperti pertaruhan nyawa.

“Kondisinya berat. Banyak titik longsoran. Jalan kanan-kiri longsor dan jurang. Tapi kami tetap jalan karena kebutuhan di lokasi sangat mendesak,” tutur Aris, Rabu (24/12).

Aris tergabung dalam tim besar PMI yang mengoperasikan armada truk tangki air bersih. Total ada 60 truk tangki, dengan 20 unit sudah lebih dulu berada di lokasi bencana.

Sementara 40 truk lainnya diberangkatkan dari Tanjung Priok dan dibagi ke wilayah Sumatera Utara serta Sumatera Barat. Dari Jawa Tengah sendiri terdapat sembilan truk tangki dengan total 18 personel, di mana satu truk dioperasikan dua orang.

Aris Diyanto, relawan Palang Merah Indonesia (PMI) Sukoharjo dropping air bersih ke dapur umum korban bencana di Sumatera Utara.
Aris Diyanto, relawan Palang Merah Indonesia (PMI) Sukoharjo dropping air bersih ke dapur umum korban bencana di Sumatera Utara.

Penugasan sejatinya berlangsung sekitar 20 hari hingga satu bulan penuh sepanjang Desember. Namun, Aris dan 12 personel lainnya sempat pulang ke Sukoharjo pada Senin (21/12) malam untuk jeda singkat sebelum kembali melanjutkan misi.

Dari 18 personel Jawa Tengah, 13 orang pulang sementara, dan lima orang tetap bertahan di lokasi bencana.

“Tankinya masih di sana. Pelayanan PMI di lokasi direncanakan sampai satu tahun sesuai arahan Ketua PMI Pak Jusuf Kalla. Nanti tinggal pergantian personel, dua minggu atau satu bulan sekali,” jelasnya.

Di lapangan, Aris ditugaskan sebagai petugas asesmen dan pendataan di wilayah Tapanuli Tengah dan Kota Sibolga. Tugas ini menjadi salah satu yang paling berat.

Banyak wilayah administrasi praktis hilang. Kantor desa dan kecamatan terdampak, bahkan ada kelurahan yang lenyap tersapu longsor.

“Di sana tidak ada RT/RW, yang ada hanya kepala lingkungan atau kapling. Banyak kantor hilang. Data sangat sulit. Asesmen kebutuhan dasar belum bisa maksimal,” ungkap Aris lirih.

Kondisi lingkungan di sejumlah titik benar-benar memprihatinkan. Lumpur setinggi 3–4 meter menutup permukiman.

Beberapa rumah hanya menyisakan atap yang terlihat di permukaan. Wilayah Sibolga dan Tapanuli Tengah yang secara geografis berupa dataran tinggi dan pegunungan membuat medan semakin berat. Cuaca dingin menusuk, sementara jalanan naik-turun dengan kondisi rusak parah.

“Jalan sudah jadi sungai. Truk tangki kami lewat sungai. Kalau di camp pengungsian masih enak untuk droping air bersih. Tapi banyak warga bertahan di rumahnya yang sudah rata dengan lumpur, bikin tenda seadanya. Itu yang menyulitkan,” katanya.

Di tengah kehancuran, aroma lumpur bercampur bau tidak sedap dari bangkai yang tertimbun longsor kerap tercium. Rumah-rumah terkubur, lingkungan porak-poranda, dan suasana duka menyelimuti hampir setiap sudut lokasi bencana.

Namun di balik semua keterbatasan itu, Aris menyimpan satu keyakinan yang terus menguatkannya.

“Pengalaman paling berharga adalah bisa membantu. Walaupun sekecil apa pun, pasti dihargai oleh warga. Walaupun sebanyak apa pun bantuan, rasanya tetap kurang. Tapi kehadiran kami, itu yang mereka tunggu,” ucapnya.

Bagi Aris Diyanto dan relawan PMI lainnya, misi kemanusiaan ini bukan hanya soal logistik, air bersih, atau data. Ini tentang menemani para penyintas berdiri kembali di atas lumpur, memastikan mereka tidak sendirian menghadapi bencana yang merenggut rumah, lingkungan, bahkan identitas wilayah mereka. (kwl/fer)

Editor : fery ardi susanto
#Relawan PMI Sukoharjo #relawan bencana Sumatera Utara #PMI Sukoharjo #Kisah relawan Sukoharjo di Sumatera Utara