RADARSOLO.COM – Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) Kabupaten Sukoharjo di 2025 tembus angka 69,77. Capaian tersebut menunjukkan tren peningkatan signifikan dalam empat tahun terakhir.
Ini sinyal positif, karena kualitas udara Sukoharjo sangat bagus. Buah dari upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan yang dilakukan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sukoharjo.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sukoharjo Agus Suprapto menjelaskan, kenaikan nilai IKLH menjadi indikator nyata membaiknya kualitas lingkungan di Kota Makmur.
Angka ini tertinggi dalam kurun empat tahun terakhir.
“Alhamdulillah nilai IKLH terus menunjukkan tren peningkatan dari tahun ke tahun," ujar Agus, Senin (23/2).
Agus menjelaskan, di 2022 nilai IKLH mencapai 61,44. Kemudian di 2023 naik jadi 62,03. Lalu 2024 kembali naik menjadi 63,59. Sedangkan di 2025 mencapai 69,77.
Menurut Agus, capaian di 2025 tak lepas dari berbagai program pengendalian pencemaran lingkungan.
Di antanya pengelolaan sampah, pengawasan kegiatan usaha, serta edukasi masyarakat terkait pelestarian lingkungan.
“IKLH merupakan indikator utama yang dipakai Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), untuk mengukur efektivitas perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup di daerah,” beber Agus.
Nilai IKLH merupakan gabungan dari tiga komponen utama. Mulai dari indeks kualitas udara (IKU), indeks kualitas air (IKA), dan indeks kualitas tutupan lahan (IKTL).
Di 2025, komponen IKU Sukoharjo mencapai 89,85. Angka ini menunjukkan kondisi udara ambien yang sangat baik. Serta menjadi keunggulan utama dalam struktur penilaian IKLH daerah.
“Kualitas udara Sukoharjo sangat baik. Ini dipengaruhi pengendalian emisi, pemantauan rutin kualitas udara, serta terjaganya ruang terbuka hijau di beberapa wilayah,” jelas Agus.
Sayangnya, nilai IKA jauh di bawah harapan, yakni 53,75. Agus mengakui, kualitas air masih menjadi perhatian. Terutama terkait pencemaran domestik dan limbah kegiatan usaha.
“Kualitas air masih perlu diperbaiki. Kami terus melakukan pengawasan terhadap pelaku usaha, untuj mendorong pengelolaan limbah yang lebih baik. Termasuk edukasi kepada masyarakat agar tidak membuang sampah ke sungai,” ujarnya.
Terakhir, IKTL tercatat sebesar 32,67. Komponen ini menjadi tantangan terbesar, karena berkaitan dengan perubahan fungsi lahan, alih fungsi pertanian, serta kebutuhan pembangunan yang terus meningkat.
“Tutupan lahan juga menjadi tantangan besar. Ke depan, kami akan memperkuat program penghijauan, penanaman pohon, serta mendorong perlindungan kawasan resapan air dan ruang terbuka hijau,” tegasnya.
Menurut Agus, IKLH 2025 diharapkan menjadi pijakan untuk meningkatkan skor di tahun-tahun mendatang. DLH mematok target optimalisasi perlindungan lingkungan secara berkelanjutan, melalui kolaborasi lintas sektor.
“Kualitas lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga masyarakat dan dunia usaha. Dengan kolaborasi yang kuat, kami optimistis nilai IKLH Sukoharjo bisa terus meningkat,” paparnta. (kwl/fer)
Editor : fery ardi susanto