alexametrics
31.1 C
Surakarta
Friday, 12 August 2022

CEO Mercedes-Benz Prediksi Krisis Chip Global Berlangsung sampai 2023

RADARSOLO.ID – CEO Mercedes-Benz Ola Kaellenius memprediksi, kekurangan chip secara global masih akan berlangsung sepanjang tahun ini hingga 2023.

“Situasi semikonduktor benar-benar masih ada, dan akan menjadi tantangan bagi industri sepanjang tahun ini dan tahun depan,” kata Kaellenius pada konferensi Reuters Automotive Europe di Munich, dikutip Sabtu (2/7).

Namun, dia mengatakan, meski ada volatilitas pasar, pembuat mobil masih memiliki backlog pesanan yang kuat.

Sebagai informasi, volatilitas adalah ukuran perubahan statistik suatu harga sekuritas dalam periode tertentu.

“Kami belum melihat tanda-tanda bahwa permintaan akan bergerak ke arah sana (negatif),” ungkap Kaellenius.

Lebih lanjut, dia mengungkapkan, ketika industri otomotif melakukan transisi ke kendaraan listrik (EV), Mercedes-Benz akan memainkan “peran yang lebih aktif” di seluruh rantai pasokannya sampai ke tempat penambangan bahan baku.

“Kami tidak berhenti di pabrik sel baterai… kami harus melalui seluruh rantai nilai di sini karena ada begitu banyak yang bergerak,” ucap Kaellenius.

Dia menambahkan, akan membutuhkan setidaknya satu dekade untuk mentransisikan pabrik mesin pembuat mobil bertenaga bahan bakar fosil untuk menjadi pabrik yang membuat mobil listrik sepenuhnya (full electric). Kaellenius yakin transisi tersebut dapat dikelola secara teratur nantinya. (Antara)

RADARSOLO.ID – CEO Mercedes-Benz Ola Kaellenius memprediksi, kekurangan chip secara global masih akan berlangsung sepanjang tahun ini hingga 2023.

“Situasi semikonduktor benar-benar masih ada, dan akan menjadi tantangan bagi industri sepanjang tahun ini dan tahun depan,” kata Kaellenius pada konferensi Reuters Automotive Europe di Munich, dikutip Sabtu (2/7).

Namun, dia mengatakan, meski ada volatilitas pasar, pembuat mobil masih memiliki backlog pesanan yang kuat.

Sebagai informasi, volatilitas adalah ukuran perubahan statistik suatu harga sekuritas dalam periode tertentu.

“Kami belum melihat tanda-tanda bahwa permintaan akan bergerak ke arah sana (negatif),” ungkap Kaellenius.

Lebih lanjut, dia mengungkapkan, ketika industri otomotif melakukan transisi ke kendaraan listrik (EV), Mercedes-Benz akan memainkan “peran yang lebih aktif” di seluruh rantai pasokannya sampai ke tempat penambangan bahan baku.

“Kami tidak berhenti di pabrik sel baterai… kami harus melalui seluruh rantai nilai di sini karena ada begitu banyak yang bergerak,” ucap Kaellenius.

Dia menambahkan, akan membutuhkan setidaknya satu dekade untuk mentransisikan pabrik mesin pembuat mobil bertenaga bahan bakar fosil untuk menjadi pabrik yang membuat mobil listrik sepenuhnya (full electric). Kaellenius yakin transisi tersebut dapat dikelola secara teratur nantinya. (Antara)

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/