alexametrics
32.3 C
Surakarta
Friday, 19 August 2022

Terinspirasi dari Petani Lebah, Mahasiswa Ini Membuat Mesin Pasteurisasi Madu

SOLO – Di eks Karesidenan Surakarta, betebaran peternak lebah madu. Sayangnya, madu yang produksi diklaim masih tradisional dan kurang higienis. Membantu meningkatkan produksi madu, sejumlah mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta membuat mesin pasteurisasi madu.

Madu yang diproduksi para petani lebah di Indonesia, diakui menggunakan cara konvensional. Setelah sarang lebah dipanen, madu yang dihasilkan hanya diperas. Imbasnya, ampas atau kotoran sarang lebah ikut tercampur. Sehingga produksinya kurang mampu bersaing di pasar internasional.

Inilah yang mematik kepedulian dua mahasiswa Fakultas Teknik UNS Daniel Bani Bayu Aji dan Muhammad Dani Setiawan. Mereka membuat mesin pasteurisasi madu, berbasis teknologi 30K high voltage pulsed generator.

Mesin pasteurisasi ini dilengkapi proses induksi panas, serta pulsed electric field (PEF). Inovasi teknologi tepat guna tersbut, hanya untuk mengembangkan produksi madu. Diklaim mampu mengolah madu yang tahan lama alias anti-kedaluwarsa.

“Alat ini kami kembangkan sejak setahun yang lalu. Pasteurisasi madu berbasis teknologi 30K high voltage pulsed generator ini, bisa menghasilkan madu yang lebih higienis. Bahkan membantu mengurangi kadar air di dalam madu. Jadi madu yang dihasilkan benar-benar murni,” ujar Daniel, kemarin (5/8).

Daniel menjelaskan, semakin sedikitnya kandungan air dalam madu, bisa meminimalkan perkembangan bakteri. Selain itu, proses induksi panas yang dihasilkan mesin tersebut, juga mampu membunuh bakteri yang ada dalam madu.

“Indonesia kan musimnya tropis. Sedangkan standar madu internasinal itu, berkaca dari Eropa yang musimnya dingin. Maka kualitas madu Indonesia jauh lebih encer. Maka dengan inovasi mesin ini, bisa meningkatkan kualitas madu para petani lokal,” imbuhnya.

Mesin pasteurisasi madu ini terbagi menjadi tiga rangkaian. Pertama, bagian tabung yang dibuat double layer. Di mana antar-layer itu terdapat oli sebagai pemanas. Kedua, bagian kerangka mesin yang menggunakan stainless steel 304. Ketiga, bagian mesin yang berisi dinamo, PEF, dan komponen-komponen kelistrikan lainnya.

Terkait daya tampung madu yang diolah, sekitar 70 liter. Setelah madu dimasukkan, pertama-tama mesin akan mendeteksi kadar air di dalamnya. Rata-rata kadarnya sekitar 65 persen. Masih sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI), yang mensyaratkan kadar air di bawah 65 persen.

“Setelah diolah pakai mesin ini, peternak lebah bisa menjual madu hasil panen dengan harga tinggi. Selain itu, petani lebah lokal juga bisa bersaing secara kualitas, serta memenuhi SNI dan ISO,” bebernya.

Daniel mengklaim mesin pasteurisasi bikinannya jauh lebih unggul, dibandingkan buatan pabrikan. Salah satunya durasi waktu yang lebih singkat, yakni sekitar 4 jam untuk sekali olah. Bandingkan dengan buatan pabrikan, yang butuh waktu lebih lama.

“Dikombinasikan dengan proses induksi panas dan pulsed electric field, madu yang dihasilkan kualitasnya jauh lebih bagus. Mampu membunuh mikroba yang ada dalam madu. Peternak lebah diuntungkan dari sisi efisiensi waktu dan tenaga” katanya.

Berbasis PEF, pengguna akan mudah mengatur suhu panas yang diinginkan. Standar yang biasa digunakan untuk membunuh mikroba pada madu, maksimal 70 derajat Celcius. Setelah itu, madu masuk proses pendinginan.

“Pada proses pendinginan, juga dipasteurisasi lagi. Madu yang dihasilkan jauh lebih kental, karena kandungan airnya berkurang. Jika biasanya madu hanya tahan tiga bulan, dengan mesin ini bisa awet tanpa kedaluwarsa,” tandasnya. (ian/fer)

SOLO – Di eks Karesidenan Surakarta, betebaran peternak lebah madu. Sayangnya, madu yang produksi diklaim masih tradisional dan kurang higienis. Membantu meningkatkan produksi madu, sejumlah mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta membuat mesin pasteurisasi madu.

Madu yang diproduksi para petani lebah di Indonesia, diakui menggunakan cara konvensional. Setelah sarang lebah dipanen, madu yang dihasilkan hanya diperas. Imbasnya, ampas atau kotoran sarang lebah ikut tercampur. Sehingga produksinya kurang mampu bersaing di pasar internasional.

Inilah yang mematik kepedulian dua mahasiswa Fakultas Teknik UNS Daniel Bani Bayu Aji dan Muhammad Dani Setiawan. Mereka membuat mesin pasteurisasi madu, berbasis teknologi 30K high voltage pulsed generator.

Mesin pasteurisasi ini dilengkapi proses induksi panas, serta pulsed electric field (PEF). Inovasi teknologi tepat guna tersbut, hanya untuk mengembangkan produksi madu. Diklaim mampu mengolah madu yang tahan lama alias anti-kedaluwarsa.

“Alat ini kami kembangkan sejak setahun yang lalu. Pasteurisasi madu berbasis teknologi 30K high voltage pulsed generator ini, bisa menghasilkan madu yang lebih higienis. Bahkan membantu mengurangi kadar air di dalam madu. Jadi madu yang dihasilkan benar-benar murni,” ujar Daniel, kemarin (5/8).

Daniel menjelaskan, semakin sedikitnya kandungan air dalam madu, bisa meminimalkan perkembangan bakteri. Selain itu, proses induksi panas yang dihasilkan mesin tersebut, juga mampu membunuh bakteri yang ada dalam madu.

“Indonesia kan musimnya tropis. Sedangkan standar madu internasinal itu, berkaca dari Eropa yang musimnya dingin. Maka kualitas madu Indonesia jauh lebih encer. Maka dengan inovasi mesin ini, bisa meningkatkan kualitas madu para petani lokal,” imbuhnya.

Mesin pasteurisasi madu ini terbagi menjadi tiga rangkaian. Pertama, bagian tabung yang dibuat double layer. Di mana antar-layer itu terdapat oli sebagai pemanas. Kedua, bagian kerangka mesin yang menggunakan stainless steel 304. Ketiga, bagian mesin yang berisi dinamo, PEF, dan komponen-komponen kelistrikan lainnya.

Terkait daya tampung madu yang diolah, sekitar 70 liter. Setelah madu dimasukkan, pertama-tama mesin akan mendeteksi kadar air di dalamnya. Rata-rata kadarnya sekitar 65 persen. Masih sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI), yang mensyaratkan kadar air di bawah 65 persen.

“Setelah diolah pakai mesin ini, peternak lebah bisa menjual madu hasil panen dengan harga tinggi. Selain itu, petani lebah lokal juga bisa bersaing secara kualitas, serta memenuhi SNI dan ISO,” bebernya.

Daniel mengklaim mesin pasteurisasi bikinannya jauh lebih unggul, dibandingkan buatan pabrikan. Salah satunya durasi waktu yang lebih singkat, yakni sekitar 4 jam untuk sekali olah. Bandingkan dengan buatan pabrikan, yang butuh waktu lebih lama.

“Dikombinasikan dengan proses induksi panas dan pulsed electric field, madu yang dihasilkan kualitasnya jauh lebih bagus. Mampu membunuh mikroba yang ada dalam madu. Peternak lebah diuntungkan dari sisi efisiensi waktu dan tenaga” katanya.

Berbasis PEF, pengguna akan mudah mengatur suhu panas yang diinginkan. Standar yang biasa digunakan untuk membunuh mikroba pada madu, maksimal 70 derajat Celcius. Setelah itu, madu masuk proses pendinginan.

“Pada proses pendinginan, juga dipasteurisasi lagi. Madu yang dihasilkan jauh lebih kental, karena kandungan airnya berkurang. Jika biasanya madu hanya tahan tiga bulan, dengan mesin ini bisa awet tanpa kedaluwarsa,” tandasnya. (ian/fer)

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/