alexametrics
21.2 C
Surakarta
Wednesday, 28 July 2021

Tepung Gaplek Naik Kelas, Jadi Brownies Kukus hingga Kue Sus

TEPUNG gaplek yang berasal dari singkong kerap diolah menjadi tiwul. Namun ternyata, tepung gaplek juga bisa menjadi bahan baku kue yang tak kalah dengan tepung terigu.

Dari tangan Arin Herlawati Wijaya, 45, warga Dusun Brubuh, RT 04 RW 01, Desa Ngadirojo Lor, Kecamatan Ngadirojo, tepung gaplek disulap menjadi aneka makanan.

Ide itu bermula dari keinginannya membuat makanan dari tepung gaplek untuk anak-anaknya. Apabila diolah menjadi nasi tiwul, terkadang anaknya ogahogahan memakannya.

Karena itulah dia memutar otak agar olahan gaplek yang juga khas dari Kota Sukses tak hanya bisa dinikmati oleh orang-orang berumur. Dia ikut berharap semua umur bisa menikmati olahan makanan dari tepung gaplek tersebut.

Dia memulai dengan membuat brownies kukus dengan bahan baku tepung gaplek, ternyata anaknya doyan dengan kue brownies buatannya tersebut.

“Akhirnya saya kepikiran untuk menjualnya, sejak dua tahun lalu. Tapi proses trial and error-nya juga cukup lama, enam bulan sampai nemu racikan yang pas. Karena bahannya tepung gaplek, nama brand-nya Brownies Thiiwool,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Solo, Jumat (9/7).

Brownies kukus pun akhirnya diproduksi untuk dijual. Awalnya Arin hanya membagikan sampel di acara arisan. Orang yang mencobanya, awalnya tak percaya bahwa brownies itu dibuat dari tepung gaplek. Banyak yang mengira brownies itu dibuat dari tepung terigu. Pasalnya, apabila tak tepat mengolah adonan tepung gaplek maka hasilnya akan bantet alias tidak mengembang sempurna.

Ternyata, ada tips khusus agar adonan tepung gaplek dan bahan baku lain bisa mengembang saat dikukus. Kuncinya ada pada mixer yang digunakan untuk mengaduk tepung, telur dan bahan-bahan brownies lainnya.

“Kalau mixer rumahan biasa kurang maksimal, bisa bantet. Harus pakai mixer yang putarannya lebih kencang. Jadi nanti hasilnya bisa maksimal,” beber Arin.

Selain diolah menjadi brownies kukus, tepung gaplek buatannya juga terus dikembangkan, Mulai jadi bisa diolah menjadi brownies kering, brownies oven, hingga kue sus. Bahkan, topping brownies pun bermacam-macam, mulai dari meses, keju hingga chocochips. Tepung gaplek yang notabene dikenal bahan baku nasi tiwul pun dianggapnya naik kelas. Kini kawula muda pun lebih melirik produk itu.

Mayoritas pangsa pasar aneka makanan dengan bahan baku tepung gaplek itu adalah para kaum boro dari kota besar, seperti Jakarta yang pulang kampung. Mereka membawa makanan khas ini ke perantauannya sebagai oleh-oleh. Selain ini, Arin juga menitipkan produknya ke sejumlah toserba dan toko oleh-oleh di Wonogiri. Dia juga memaksimalkan produknya melalui media sosial, seperti lewat Facebook dan WhatsApp. Dia juga memiliki reseller, hingga yang berada di area Pantai Klayar Pacitan.

Namun, pandemi Covid-19 ikut berimbas terhadap penjualan produknya. Dia sering merugi. Pasalnya, brownies kukus yang dititipkan di sejumlah toko diretur.

“Minim yang beli mungkin karena faktor kondisi lagi susah. Kalau brownies kukus kan tahan tiga hari, soalnya tidak pakai pengawet. Kalau brownies kering bisa tahan satu bulan,” kata dia.

Dia menceritakan, sebelum pandemi, produknya kebanjiran order dari berbagai acara. Mulai dari pertemuan dinas dan juga hajatan warga. Namun, Covid-19 memangkas omzetnya dalam-dalam.

“Kalau dulu omzet sebulan bisa mencapai Rp 30 juta, sekarang cari 30 persennya saja susah minta ampun,” kata dia.

Atas kondisi itu, dia lebih memilih memaksimalkan produk kering yang lebih tahan lama. Stok brownies kukus pun dibuat lebih minim dibandingkan sebelum pandemi. Dulu, Arin bisa menyiapkan 15 boks brownies kukus setiap pagi, namun sekarang dia lebih memilih untuk menyiapkan lima boks. Khawatir brownies itu basi sebelum laku. Selain itu, produk seperti brownies kering dan kue sus juga lebih aman saat dikirim ke luar kota. Pelanggan tetapnya yang terjauh berada di Pulau Bali.

Arin berharap pandemi bisa segera berakhir. Dengan begitu, kehidupan bisa kembali berjalan seperti sebelumnya. Harapan besarnya yang lain adalah agar semua instansi dan elemen bisa menggunakan produk-produk berbahan lokal seperti tepung gaplek.

“Misalnya saat rapat instansi kan ada konsumsi, harapannya ya makanan itu pakai produk yang asli Indonesia. Kalau tepung terigu kan biasanya dari luar. Kalau bisa produk Indonesia yang go internasional,” kata dia. (al/nik)

 


TEPUNG gaplek yang berasal dari singkong kerap diolah menjadi tiwul. Namun ternyata, tepung gaplek juga bisa menjadi bahan baku kue yang tak kalah dengan tepung terigu.

Dari tangan Arin Herlawati Wijaya, 45, warga Dusun Brubuh, RT 04 RW 01, Desa Ngadirojo Lor, Kecamatan Ngadirojo, tepung gaplek disulap menjadi aneka makanan.

Ide itu bermula dari keinginannya membuat makanan dari tepung gaplek untuk anak-anaknya. Apabila diolah menjadi nasi tiwul, terkadang anaknya ogahogahan memakannya.

Karena itulah dia memutar otak agar olahan gaplek yang juga khas dari Kota Sukses tak hanya bisa dinikmati oleh orang-orang berumur. Dia ikut berharap semua umur bisa menikmati olahan makanan dari tepung gaplek tersebut.

Dia memulai dengan membuat brownies kukus dengan bahan baku tepung gaplek, ternyata anaknya doyan dengan kue brownies buatannya tersebut.

“Akhirnya saya kepikiran untuk menjualnya, sejak dua tahun lalu. Tapi proses trial and error-nya juga cukup lama, enam bulan sampai nemu racikan yang pas. Karena bahannya tepung gaplek, nama brand-nya Brownies Thiiwool,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Solo, Jumat (9/7).

Brownies kukus pun akhirnya diproduksi untuk dijual. Awalnya Arin hanya membagikan sampel di acara arisan. Orang yang mencobanya, awalnya tak percaya bahwa brownies itu dibuat dari tepung gaplek. Banyak yang mengira brownies itu dibuat dari tepung terigu. Pasalnya, apabila tak tepat mengolah adonan tepung gaplek maka hasilnya akan bantet alias tidak mengembang sempurna.

Ternyata, ada tips khusus agar adonan tepung gaplek dan bahan baku lain bisa mengembang saat dikukus. Kuncinya ada pada mixer yang digunakan untuk mengaduk tepung, telur dan bahan-bahan brownies lainnya.

“Kalau mixer rumahan biasa kurang maksimal, bisa bantet. Harus pakai mixer yang putarannya lebih kencang. Jadi nanti hasilnya bisa maksimal,” beber Arin.

Selain diolah menjadi brownies kukus, tepung gaplek buatannya juga terus dikembangkan, Mulai jadi bisa diolah menjadi brownies kering, brownies oven, hingga kue sus. Bahkan, topping brownies pun bermacam-macam, mulai dari meses, keju hingga chocochips. Tepung gaplek yang notabene dikenal bahan baku nasi tiwul pun dianggapnya naik kelas. Kini kawula muda pun lebih melirik produk itu.

Mayoritas pangsa pasar aneka makanan dengan bahan baku tepung gaplek itu adalah para kaum boro dari kota besar, seperti Jakarta yang pulang kampung. Mereka membawa makanan khas ini ke perantauannya sebagai oleh-oleh. Selain ini, Arin juga menitipkan produknya ke sejumlah toserba dan toko oleh-oleh di Wonogiri. Dia juga memaksimalkan produknya melalui media sosial, seperti lewat Facebook dan WhatsApp. Dia juga memiliki reseller, hingga yang berada di area Pantai Klayar Pacitan.

Namun, pandemi Covid-19 ikut berimbas terhadap penjualan produknya. Dia sering merugi. Pasalnya, brownies kukus yang dititipkan di sejumlah toko diretur.

“Minim yang beli mungkin karena faktor kondisi lagi susah. Kalau brownies kukus kan tahan tiga hari, soalnya tidak pakai pengawet. Kalau brownies kering bisa tahan satu bulan,” kata dia.

Dia menceritakan, sebelum pandemi, produknya kebanjiran order dari berbagai acara. Mulai dari pertemuan dinas dan juga hajatan warga. Namun, Covid-19 memangkas omzetnya dalam-dalam.

“Kalau dulu omzet sebulan bisa mencapai Rp 30 juta, sekarang cari 30 persennya saja susah minta ampun,” kata dia.

Atas kondisi itu, dia lebih memilih memaksimalkan produk kering yang lebih tahan lama. Stok brownies kukus pun dibuat lebih minim dibandingkan sebelum pandemi. Dulu, Arin bisa menyiapkan 15 boks brownies kukus setiap pagi, namun sekarang dia lebih memilih untuk menyiapkan lima boks. Khawatir brownies itu basi sebelum laku. Selain itu, produk seperti brownies kering dan kue sus juga lebih aman saat dikirim ke luar kota. Pelanggan tetapnya yang terjauh berada di Pulau Bali.

Arin berharap pandemi bisa segera berakhir. Dengan begitu, kehidupan bisa kembali berjalan seperti sebelumnya. Harapan besarnya yang lain adalah agar semua instansi dan elemen bisa menggunakan produk-produk berbahan lokal seperti tepung gaplek.

“Misalnya saat rapat instansi kan ada konsumsi, harapannya ya makanan itu pakai produk yang asli Indonesia. Kalau tepung terigu kan biasanya dari luar. Kalau bisa produk Indonesia yang go internasional,” kata dia. (al/nik)

 

Populer

Berita Terbaru