Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Inilah 5 Tradisi di Boyolali yang Wajib Anda Ketahui

Andi Aris Widiyanto • Rabu, 13 September 2023 | 23:27 WIB

MERIAH: Warga dari tiga Desa di Kecamatan Cepogo tumpah ruah di tradisi sadranan yang digelar kembali di Makam Puroloyo, Minggu (20/3). Kegiatan khas Boyolali ini tak digelar selama dua tahun karena adanya pandemi. (RAGIL LISTIYO/RADAR SOLO)
MERIAH: Warga dari tiga Desa di Kecamatan Cepogo tumpah ruah di tradisi sadranan yang digelar kembali di Makam Puroloyo, Minggu (20/3). Kegiatan khas Boyolali ini tak digelar selama dua tahun karena adanya pandemi. (RAGIL LISTIYO/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM - Tradisi budaya adalah warisan berharga yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Setiap tradisi memiliki cerita, nilai, dan makna tersendiri yang menghubungkan kita dengan akar-akar budaya nenek moyang kita. Melalui tradisi budaya, kita bisa memahami sejarah, identitas, dan kedalaman peradaban manusia.

Boyolali yang sekarang merupakan kota modern ternyata memiliki banyak acara tradisi seni dan budaya yang masih dilestarikan hingga saat ini. Tradisi yang sudah diwariskan dari leluhur masih dijaga hingga saat ini. Warga Boyolali masih setia melangsungkan acara tradisi ini agar tidak hilang ditelan oleh zaman. Ada beberapa tradisi yang memiliki usia menembus ratusan tahun.

Baca Juga: Kiai Bonggol Jati, Penyebar Islam Utusan Demak yang Lahirkan Tradisi Sadranan di Cepogoo

Berikut beberapa tradisi yang mesti anda ketahui asli Boyolali:

Kirab Budaya

Menjadi satu tradisi yang mana disetiap tanggal 1 pada bulan Muharram masyarakat di lereng gunung merapi dan merbabu menggelar Tradisi Kirab Budaya. Tepatnya di Dukuh Ngagklik dan Pojok di Desa Samiran Kecamatan Selo. Tradisi ini dilakukan sebagai rasa syukur masyarakat setempat terhadap Tuhan Yang Maha Esa karena telah memberikan berbagai kenikmatan hidup dan rejeki.

Acara utama dalam tradisi ini adalah menyatukan air yang bersumber dari gunung merapi dan merbabu. Harapanya dengan menyatunya kedua sumber air tersebut akan bersatu rasa gotong royong dan kekompakan masyarakat yang berada di lereng kedua gunung tersebut.

Acara yang dimulai dengan wilujengan atau yang memanjatkan doa dan harapan agar acara yang digelar berjalan dengan lancar dan dilanjutkan dengan pembuatan tumpeng besar dari hasil bumi. Dimulai dari rumah masing-masing, masyarakat kemudian berjalan menuju Simpang Paku Buwono IX karena disana menjadi pusat kegiatan Tradisi Kirab Budaya ini.

Di lokasi tersebut akan diadakan sebuah ritual sakral yaitu penyatuan air dari kedua sumber dari gunung merapi dan merbabu. Sebelum air disatukan akan ada perwakilan pasrah untuk penyerahan air dari gunung merapi dan merbabu kepada sesepuh desa yang nantinya akan mencampurkan air tersebut.

Setelah air disatukan, air akan disimpah dan diletakan di pesanggrahan di Dukuh Pojok yang bernama Pesanggrahan Kebokanigoro. Setelah ritual selesai dilakukan, para masyarakat dan pengunjung dapat mengambil hasil bumi dari tumpeng besar yang telah diarak oleh masyarakat setempat.

Biasanya dalam rangkaian acara penutupan Kirab Budaya ini akan ditutup oleh pentas kesenian yang ada seperti reog, sholawatan ataupun wayang.

Sadranan

Sadranan merupakan kegiatan yang paling dikenal oleh masyarakat Boyolali maupun luar Boyolali. Tradisi ini merupakan kegiatan bersih makam leluhur dan ziarah kubur dengan proses penyampaian doa dan keduri. Tradisi yang biasanya dilakukan pada pertengahan bulan ruwah (penanggalan jawa) atau menjelang datangnya bulan ramadhan yang biasa disebut oleh Nyadran masih terjaga dan terus berlangsung hingga saat ini.

Layaknya lebaran, bagi masyarakat kecamatan Cepogo tradisi Nyadran memiliki kedudukan yang sangat penting, biasanya warga perantauan juga akan pulang kampung untuk mengikuti tradisi ini.

Tradisi Nyadran biasanya dilakukan pada pagi hari dengan berziarah sambil membawa tenong (penyimpan makanan) dari anyaman bambu. Lalu dilanjutkan doa untuk para leluhur yang biasanya dipimpin oleh sesepuh desa atau pemimpin desa. Kemudian dilanjutkan dengan makan bersama, setiap masyarakat yang mengikuti tradisi ini dipersilakan untuk mengambil makanan yang sudah disediakan di tenong.

Ada sebagian masyarakat yang percaya, jika tenong mereka habis disantap oleh warga maka rejeki ditahun depan akan semakin lancar dan berkah.

Tradisi Saparan

Memasuki bulan Sapar, masyarakat Boyolali akan menggelar tradisi Saparan. Tradisi ini identik dengan prosesi arak-arakan apem keong mas dari kantor kecamatan Banyudono dan dibagikan oleh masyarakat di kawasan Masjid Ciptomulyo. Gunungan apem dengan tinggi 2,5 meter ini selalu habis diburu oleh masyarakat.

Tradisi yang telah berumur ratusan tahun memiliki sejarahnya pada masa pemerintahan Paku Buwono II di Keraton Surakarta. Konon katanya, dulu terdapat wabah hama keong emas yang menyerang tanaman warga. Sehingga Sang Raja memerintahkan untuk memasak keong mas itu dengan cara dikukus dan dibalut janur yaitu daun kelapa yang masih muda.

Setelah wabah hilang, masyarakat memanjatkan rasa syukur dengan cara membuat apem yang kemudian dibagikan oleh masyarakat luas. Sebelum acara ini dimulai biasanya akan diadakan malam tirakatan dan talil serta doa bersama. Tradisi ini merupakan simbol kebersamaan antar warga, saling bergotong royong dan menjalin persatuab antar warga.

Baca Juga: Antusias Warga Desa Sido Rejo Merawat Tradisi Sadranan

Tradisi Padusan

Setiap menjelang Ramadan biasanya warga Boyolali akan melakukan tradisi untuk menyucikan diri sebelum menjalankan ibadah puasa yang biasa disebut padusan.

Tradisi yang sudah berkembang pada masa hindu ini merupakan tradisi warisan dari para leluhur yang pada awalnya dilakukan dengan cara kungkum atau berendam di sebuah umbul. Tradisi padusan ini sudah ada sejak zaman Wali Songo pada abad 15 dan 16.

Tradisi ini dimaksudkan agar orang-orang dapat merenung dan merefleksikan diri dari kesalahan-kesalahan di masa lalu sehingga dapat memperbaiki hubungan dengan Tuhan. Tradisi Padusan juga  mengajarkan nilai-nilai keagamaan, kebersamaan, dan kepedulian sosial, sambil memperkaya dan memperkuat identitas budaya mereka.

Biasanya masyarakat Boyolali akan mengunjungi beberapa umbul untuk melakukan tradisi ini seperti, Umbul Pengging, Umbul Tlatar, Umbul Tirto Mulyo dan umbul-umbul yang lainnya.

Kirab Bakdo Sapi

Kirab Bakdo Sapi biasanya dilaksanakan dalam rangka memperingati hari-hari besar keagamaan atau sebagai bagian dari perayaan budaya, lebih tepatnya di hari kedelapan bulan Syawal. Acara ini melibatkan sapi-sapi yang dihias dengan bakdo, yaitu rakit tradisional yang digunakan untuk mengangkut barang atau hasil pertanian. Bakdo tersebut dihiasi dengan berbagai hiasan yang indah dan warna-warni, menjadikannya pemandangan yang memukau.

Sebelum kirab dimulai, sapi-sapi yang akan berpartisipasi dalam acara tersebut dipersiapkan dengan baik. Mereka dibersihkan, dihias, dan diberi perawatan khusus untuk tampil prima dalam perarakan. Selain sapi, turut serta masyarakat setempat yang mengenakan pakaian adat, membawa sesajen, dan alat musik tradisional.

Kirab ini bukan hanya sekadar perayaan visual yang indah, tetapi juga memiliki makna yang dalam. Tradisi ini mencerminkan rasa syukur masyarakat atas hasil pertanian dan kesejahteraan yang mereka nikmati. Selain itu, kirab ini juga menjadi momen untuk mempererat tali persaudaraan antarwarga dan menjaga kelestarian budaya lokal.

Baca Juga: Hujan Abu Vulkanis Tak Halangi Tradisi Sadranan di Kecamatan Cepogo

Dalam kirab tersebut, sapi-sapi yang dihiasi dengan bakdo akan diarak keliling desa atau kota, sambil ditemani oleh musik tradisional yang mengiringi perjalanan mereka. Prosesi ini biasanya disambut meriah oleh warga yang berkumpul di pinggir jalan untuk menyaksikan dan ikut merayakan. Tarian-tarian tradisional juga seringkali menghiasi acara ini, menambah kesan megah dan meriah.

Kirab Bakdo Sapi bukan hanya menjadi bagian penting dalam identitas budaya mereka, tetapi juga menjadi daya tarik wisata yang menarik banyak pengunjung. (mg6/an)

 

Editor : Andi Aris Widiyanto
#Boyolali #merbabu #warga boyolali #merapi #budaya #tradisi #lereng