alexametrics
25.5 C
Surakarta
Monday, 25 October 2021

Bisnis Jamu Menyasar Milenial, Racikan ala Coffe Shop

KETIKA kita bicara minuman jamu, tentu kesan kuno dan tak dilirik kaum milenial kadang bisa saja tersirat. Tapi di tangan-tangan muda sosok yang mau mengembangkannya, ternyata minuman menyehatkan ini bisa sangat cocok untuk dikonsumsi di segala umur, dan tentunya di segala momen.

Dari perwajahannya ada yang mengira minuman-minuman ini adalah jus buah, kopi ataupun mocktail, anda salah. Toping yang menggugah selera hingga penyajian khas yang layaknya seperti di kafe-kafe hotel mewah. Tapi, minuman ini adalah jamu.

Ya, Setyo Ebnu Saleh, 39 warga Jl Pemuda, Kelurahan Jetis, Kecamatan Sukoharjo menggeluti bisnis minuman ini, dan mengeksplorasinya agar semakin banyak pihak yang mau mencobanya.

Selain kopi, minuman yang jadi populer saat ini adalah minuman jamu. Minuman tradisional Indonesia  in bahkan berkembang di Sukoharjo.

Diracik dengan rempah-rempah, jamu tak hanya menyegarkan, tapi juga menyehatkan untuk tubuh. Jika mungkin dulu hanya bisa menikmatinya saat pagi dan sore hari dari penjual jamu gendong, kini minuman tradisional ini sudah jadi tren bisnis yang banyak diminati.

MINUMAN KESEHATAN: Toko jamu milik Setyo Ebnu Saleh di Sukoharjo kota yang menjual berbagai varian jamu dengan cara penyajian yang lebih kekinian. (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)

“Sejak Juni 2020 kami mulai usaha ini. Embrionya, gagasannya sudah sejak lama. Tapi baru bisa eksekusi saat awal-awal pandemi Covid-19. Gasss saja deh pokoknya. Toh ini jamu, dianggap cocok untuk terapi mengantisipasi korona juga,” ungkapnya saat berbincang dengan koran ini di kafe jamunya di kawasan Sukoharjo Kota.

Kafe jamu miliknya dikonsep kekinian. Yakni dengan beragam resep jamu, dipadukan bahan-bahan dasar seperti rempah, buah, bunga, empon-empon, kopi, dan bahkan susu. Pangsa pasar yang dibidik adalah kalangan milenial, anak-anak muda, hingga eksekutif muda.

“Kami  mencoba mengubah mindset. Semula jamu kan identik dengan orang-orang tua. Kenapa sih jamu tidak bisa diminum anak muda, diminum dengan cara anak muda,” ungkapnya.

Dengan bantuan kawan, sahabat dan kolega, akhirnya dia belajar membuat campuran minuman berbahan dasar jamu. Bukan saja tentang rasa dan khasiat, tapi juga tentang tampilan sajian jamu dalam gelas dan cangkir.

“Tampilan minumannya kita sesuaikan dengan pasar yakni milenial. Ada layer-layer atau lapis-lapis warna, ada topingnya. Sekilas seperti minuman-minuman kopi di Coffee shop, tapi ini jamu. Aromanya kuat sekali rempah-rempahnya,” ujarnya.

Dengan lima basic rasa, yakni beras kencur, kunir asem, temulawak, gula asam, dan jahe jawa. Namun, dapat dikembangkan, diracik, hingga menjadi 60 resep minuman barbahan jamu yang bisa disajikan dingin maupun panas.

“Yang kita keluarkan saat ada 30an resep, tapi total yang sudah ketemu resepnya sudah ada 60an,” katanya.

Minuman jamu yang paling best seller, adalah resep minuman jamu yang diberi nama Rujak. Merupakan mixing antara gula asam, cabai segar, jeruk nipis, dan mentimun. Selain itu juga ada jamu susu kopi, dimana jamunya bisa memilih jenisnya. Ada juga Javanese Aromatic Coffee yang terdiri beras kencur, kopi kremer, susu cair.

“Basicnya lima, tinggal pembeli jamunya memilih kunir, temulawak, jahe, gula asam atau beras kencur,” katanya.

Untuk melayani pelanggan pesan antar, Ebnu sudah menyiapkan kemasan cup dan juga botol. Hanya saja, saat ini baru melayani pemesanan dalam kota Sukoharjo saja. Untuk pemesanan luar kota atau luar negeri, masih diperlukan riset yang mendalam pengemasan hingga pendistribusiannya menurutnya.

“Kalau pesanan dalam kota bisa. Kalau luar belum. Apalagi yang pakai susu, jelas tidak awet,” katanya.

Saat ini, pihaknya juga baru mendesain kafe jamu yang keliling. Rencananya akan menggunakan sepeda, sehingga berkeliling ke tempat-tempat keramaian dan modal usahanya murah. Namun, konsepnya tetap sama yakni jamu untuk milenial, yang bisa dinikmati dengan cara kekinian. (kwl/nik)

KETIKA kita bicara minuman jamu, tentu kesan kuno dan tak dilirik kaum milenial kadang bisa saja tersirat. Tapi di tangan-tangan muda sosok yang mau mengembangkannya, ternyata minuman menyehatkan ini bisa sangat cocok untuk dikonsumsi di segala umur, dan tentunya di segala momen.

Dari perwajahannya ada yang mengira minuman-minuman ini adalah jus buah, kopi ataupun mocktail, anda salah. Toping yang menggugah selera hingga penyajian khas yang layaknya seperti di kafe-kafe hotel mewah. Tapi, minuman ini adalah jamu.

Ya, Setyo Ebnu Saleh, 39 warga Jl Pemuda, Kelurahan Jetis, Kecamatan Sukoharjo menggeluti bisnis minuman ini, dan mengeksplorasinya agar semakin banyak pihak yang mau mencobanya.

Selain kopi, minuman yang jadi populer saat ini adalah minuman jamu. Minuman tradisional Indonesia  in bahkan berkembang di Sukoharjo.

Diracik dengan rempah-rempah, jamu tak hanya menyegarkan, tapi juga menyehatkan untuk tubuh. Jika mungkin dulu hanya bisa menikmatinya saat pagi dan sore hari dari penjual jamu gendong, kini minuman tradisional ini sudah jadi tren bisnis yang banyak diminati.

MINUMAN KESEHATAN: Toko jamu milik Setyo Ebnu Saleh di Sukoharjo kota yang menjual berbagai varian jamu dengan cara penyajian yang lebih kekinian. (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)

“Sejak Juni 2020 kami mulai usaha ini. Embrionya, gagasannya sudah sejak lama. Tapi baru bisa eksekusi saat awal-awal pandemi Covid-19. Gasss saja deh pokoknya. Toh ini jamu, dianggap cocok untuk terapi mengantisipasi korona juga,” ungkapnya saat berbincang dengan koran ini di kafe jamunya di kawasan Sukoharjo Kota.

Kafe jamu miliknya dikonsep kekinian. Yakni dengan beragam resep jamu, dipadukan bahan-bahan dasar seperti rempah, buah, bunga, empon-empon, kopi, dan bahkan susu. Pangsa pasar yang dibidik adalah kalangan milenial, anak-anak muda, hingga eksekutif muda.

“Kami  mencoba mengubah mindset. Semula jamu kan identik dengan orang-orang tua. Kenapa sih jamu tidak bisa diminum anak muda, diminum dengan cara anak muda,” ungkapnya.

Dengan bantuan kawan, sahabat dan kolega, akhirnya dia belajar membuat campuran minuman berbahan dasar jamu. Bukan saja tentang rasa dan khasiat, tapi juga tentang tampilan sajian jamu dalam gelas dan cangkir.

“Tampilan minumannya kita sesuaikan dengan pasar yakni milenial. Ada layer-layer atau lapis-lapis warna, ada topingnya. Sekilas seperti minuman-minuman kopi di Coffee shop, tapi ini jamu. Aromanya kuat sekali rempah-rempahnya,” ujarnya.

Dengan lima basic rasa, yakni beras kencur, kunir asem, temulawak, gula asam, dan jahe jawa. Namun, dapat dikembangkan, diracik, hingga menjadi 60 resep minuman barbahan jamu yang bisa disajikan dingin maupun panas.

“Yang kita keluarkan saat ada 30an resep, tapi total yang sudah ketemu resepnya sudah ada 60an,” katanya.

Minuman jamu yang paling best seller, adalah resep minuman jamu yang diberi nama Rujak. Merupakan mixing antara gula asam, cabai segar, jeruk nipis, dan mentimun. Selain itu juga ada jamu susu kopi, dimana jamunya bisa memilih jenisnya. Ada juga Javanese Aromatic Coffee yang terdiri beras kencur, kopi kremer, susu cair.

“Basicnya lima, tinggal pembeli jamunya memilih kunir, temulawak, jahe, gula asam atau beras kencur,” katanya.

Untuk melayani pelanggan pesan antar, Ebnu sudah menyiapkan kemasan cup dan juga botol. Hanya saja, saat ini baru melayani pemesanan dalam kota Sukoharjo saja. Untuk pemesanan luar kota atau luar negeri, masih diperlukan riset yang mendalam pengemasan hingga pendistribusiannya menurutnya.

“Kalau pesanan dalam kota bisa. Kalau luar belum. Apalagi yang pakai susu, jelas tidak awet,” katanya.

Saat ini, pihaknya juga baru mendesain kafe jamu yang keliling. Rencananya akan menggunakan sepeda, sehingga berkeliling ke tempat-tempat keramaian dan modal usahanya murah. Namun, konsepnya tetap sama yakni jamu untuk milenial, yang bisa dinikmati dengan cara kekinian. (kwl/nik)

Populer

Berita Terbaru