alexametrics
23.7 C
Surakarta
Tuesday, 24 May 2022

Sentra Produksi Gempol Pleret Karangwuni, Tetap Bertahan hingga Tiga Generasi

MEMANFAATKAN bahan dan bumbu sederhana, leluhur bangsa ini mampu menciptakan makanan lezat, yang bahkan kini jadi legenda. Salah satunya gempol pleret. Memadukan tepung beras, dibumbui sedikit garam, gula merah, dan daun pandan, jadilah menu khas. Menariknya lagi, meski hanya dijajakan di pinggir jalan, kuliner ini mampu bertahan tiga generasi.

Banyak klaim tentang asal usul gempol pleret dengan rasa gurih ini. Mulai dari Semarang, Jepara, Solo, dan Sukoharjo. Itu tak jadi soal. Di Sukoharjo, gempol pleret menjadi komoditas utama warga Desa Karangwuni, Kecamatan Polokarto. Resepnya turun temurun sejak Indonesia merdeka.

“Beberapa warga di Karangwuni mulai memproduksi dan menjual gempol pleret sejak 1970-an,” kata Kepala Desa (Kades) Karangwuni Hartono.

Penjualan gempol pleret dari Kararangwuni diawali dengan dijajakan keliling dari kampung ke kampung, hingga merantau ke kota-kota besar di Pulau Jawa. Antara lain Semarang dan Kota Solo.

Diterangkan Hartono, pembuatan gempol pleret dibagi menjadi beberapa bagian. Ada warga yang hanya memproduksi gempol pleret atau memproduksi sekaligus menjualnya dalam sajian es dawet. Ada pula reseller gempol pleret.

Warga yang sudah sepuh dan tak kuat berjualan keliling, umumnya fokus menjual gempol pleret. Kemudian yang lebih muda, berjualan es dawet gempol pleret, di samping memproduksi gempol pleret.

Lalu generasi milenial melakukan perannya menjual secara online, baik melalui media sosial maupun berbagai platform jual beli online.

“Saat ini ada sekitar sembilan warga Karangwuni menjadi produsen gempol pleret dan sekitar 15 orang produsen sekaligus menjual es gempol pleret. Penjual es gempol pleret lebih banyak lagi. Termasuk reseller gempol pleret,” ungkap kades.

Hanya saja, kata Hartono, potensi gempol pleret sebagai produk unggulan Desa Karangwuni belum tergarap maksimal oleh pemerintah desa terdahulu. Produknya belum dilengkapi produk industri rumah tangga (PIRT). Pengemasan juga masih sangat sederhana, sehingga kurang bertahan lama.

Hartono menyebut, baru pada kepemimpinannya, gempol pleret dijadikan produk unggulan khas Sukoharjo. “PIRT belum ke arah situ, tapi sudah dimulai didampingi BUMDes. Cara pengemasan diperbaiki agar konsumen lebih tertarik. Yang sudah dilakukan saat ini adalah pemasaran lewat sosial media oleh pemerintah desa,” bebernya. (kwl/wa/ria)

 






Reporter: Iwan Kawul

MEMANFAATKAN bahan dan bumbu sederhana, leluhur bangsa ini mampu menciptakan makanan lezat, yang bahkan kini jadi legenda. Salah satunya gempol pleret. Memadukan tepung beras, dibumbui sedikit garam, gula merah, dan daun pandan, jadilah menu khas. Menariknya lagi, meski hanya dijajakan di pinggir jalan, kuliner ini mampu bertahan tiga generasi.

Banyak klaim tentang asal usul gempol pleret dengan rasa gurih ini. Mulai dari Semarang, Jepara, Solo, dan Sukoharjo. Itu tak jadi soal. Di Sukoharjo, gempol pleret menjadi komoditas utama warga Desa Karangwuni, Kecamatan Polokarto. Resepnya turun temurun sejak Indonesia merdeka.

“Beberapa warga di Karangwuni mulai memproduksi dan menjual gempol pleret sejak 1970-an,” kata Kepala Desa (Kades) Karangwuni Hartono.

Penjualan gempol pleret dari Kararangwuni diawali dengan dijajakan keliling dari kampung ke kampung, hingga merantau ke kota-kota besar di Pulau Jawa. Antara lain Semarang dan Kota Solo.

Diterangkan Hartono, pembuatan gempol pleret dibagi menjadi beberapa bagian. Ada warga yang hanya memproduksi gempol pleret atau memproduksi sekaligus menjualnya dalam sajian es dawet. Ada pula reseller gempol pleret.

Warga yang sudah sepuh dan tak kuat berjualan keliling, umumnya fokus menjual gempol pleret. Kemudian yang lebih muda, berjualan es dawet gempol pleret, di samping memproduksi gempol pleret.

Lalu generasi milenial melakukan perannya menjual secara online, baik melalui media sosial maupun berbagai platform jual beli online.

“Saat ini ada sekitar sembilan warga Karangwuni menjadi produsen gempol pleret dan sekitar 15 orang produsen sekaligus menjual es gempol pleret. Penjual es gempol pleret lebih banyak lagi. Termasuk reseller gempol pleret,” ungkap kades.

Hanya saja, kata Hartono, potensi gempol pleret sebagai produk unggulan Desa Karangwuni belum tergarap maksimal oleh pemerintah desa terdahulu. Produknya belum dilengkapi produk industri rumah tangga (PIRT). Pengemasan juga masih sangat sederhana, sehingga kurang bertahan lama.

Hartono menyebut, baru pada kepemimpinannya, gempol pleret dijadikan produk unggulan khas Sukoharjo. “PIRT belum ke arah situ, tapi sudah dimulai didampingi BUMDes. Cara pengemasan diperbaiki agar konsumen lebih tertarik. Yang sudah dilakukan saat ini adalah pemasaran lewat sosial media oleh pemerintah desa,” bebernya. (kwl/wa/ria)

 






Reporter: Iwan Kawul

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/