alexametrics
33.5 C
Surakarta
Friday, 12 August 2022

Meracik Kopi agar Lebih Nikmat: Ekstrasi Menentukan Cita Rasa

RADARSOLO.ID – Banyaknya coffeeshop di Kota Bengawan, memberikan variasi pilihan bagi pecinta kopi. Tapi, pernahkah terpikir bagaimana caranya satu coffeeshop satu dengan lainnya punya cita rasa kopi yang berbeda? Padahal sama-sama punya andalan kopi.

Perbedaan cita rasa kopi ini bisa disebabkan penggunaan biji kopi dan cara pengolahannya. Daerah penghasil biji kopi punya karakter yang berbeda. Dari Sumatera sampai Papua hampir semuanya punya biji kopi dengan karakteristik tertentu.

“Misalnya pakai biji kopi Gayo. Single origin tapi dipakai buat espresso. Ada beberapa coffeeshop yang sama-sama pakai biji kopi Gayo. Tapi kalau pengolahannya berbeda, maka karakter kopi yang didapatkan pun hasilnya berbeda. Nah, tugas coffeeshop bikin karakter biji kopi itu untuk membedakan kopi specialty coffeeshop itu,” ujar coffee enthusiast Bagus Cakti.

Artinya, ada kemungkinan beberapa coffeeshop yang memakai biji kopi yang sama punya cita rasa kopi yang mirip? Belum tentu. Proses pengolahan kopi tiap coffeeshop pasti berbeda. Hasil proses inilah yang nantinya bakal membuat beda. Ada yang namanya triangulasi ekstraksi. Yakni, dosis atau jumlah gram kopi yang dipakai, berapa lama proses ekstraksinya, dan hasil ekstraksinya seperti apa.

Bagus mengatakan, kopi espresso rata-rata teorinya satu banding dua. Jadi misalnya, satu gram kopi dilarutkan dalam dua gram air. Nah, yang membedakan rasanya itu waktu ekstraksinya.

“Mau dibikin panjang atau pendek. Kalau pendek, kopi akan lebih asam sampai kecut. Bahkan kalau ekstraksinya cuma 20 detik, ada rasa asin muncul. Semakin panjang ekstraksinya, semakin intens rasa pahitnya,” bebernya.

Bagus menegaskan, itu tugas coffeeshop mau dibawa kemana karakter kopinya. Tergantung ekstraksinya. Tapi, ekstraksi paling ideal, adalah yang balance antara rasa pahit dan asamnya. Itu yang membedakan coffeeshop satu sama lain.

“Kalau mau dibikin sama karakternya, harus ada banyak faktor. Selain dari teknis ekstraksi, penggunaan mesin kopi juga membedakan hasil. Ada pengaruh suhu dan tekanan. Bahkan triangulasinya sama pun, kalau mesinnya beda, rasa kopinya tetap beda,” sambungnya.

Tak kalah menarik, pemakaian ukuran gelas dalam penyajian kopi juga berpengaruh dalam cita rasa. Karena dengan larutan kopi dan es yang sama, jika ukuran gelas lebih besar, membuat campuran susu lebih banyak. Nah, ini membuat rasa susunya lebih intens. Sehingga berpengaruh pada cita rasa kopi itu.

“Khusus kopi filter, atau kopi single origin, penggunaan gelas juga bermacam-macam. Ada gelas aromatik. Saat barista cupping biji kopi, ketahuan biji kopinya wangi, maka serving-nya lebih cocok pakai gelas aromatik.

“Gelas ini bentuknya moncong naik. Saat minum, hidung akan tertutup moncong. Sehingga aroma kopinya langsung masuk ke hidung. Memberi kesan kopi ini harum,” terangnya.

Beda lagi kalau biji kopinya punya karakter manis. Body gelas yang digunakan lebih tebal di ujung gelas. Sehingga saat kopi masuk ke mulut, kopi langsung menyebar ke lidah. Memberikan kesan manis di lidah.

“Ini juga memengaruhi karakter coffeeshop. Mau sejauh mana coffeeshop itu membawa produknya,” ujarnya. (aya/bun) 

RADARSOLO.ID – Banyaknya coffeeshop di Kota Bengawan, memberikan variasi pilihan bagi pecinta kopi. Tapi, pernahkah terpikir bagaimana caranya satu coffeeshop satu dengan lainnya punya cita rasa kopi yang berbeda? Padahal sama-sama punya andalan kopi.

Perbedaan cita rasa kopi ini bisa disebabkan penggunaan biji kopi dan cara pengolahannya. Daerah penghasil biji kopi punya karakter yang berbeda. Dari Sumatera sampai Papua hampir semuanya punya biji kopi dengan karakteristik tertentu.

“Misalnya pakai biji kopi Gayo. Single origin tapi dipakai buat espresso. Ada beberapa coffeeshop yang sama-sama pakai biji kopi Gayo. Tapi kalau pengolahannya berbeda, maka karakter kopi yang didapatkan pun hasilnya berbeda. Nah, tugas coffeeshop bikin karakter biji kopi itu untuk membedakan kopi specialty coffeeshop itu,” ujar coffee enthusiast Bagus Cakti.

Artinya, ada kemungkinan beberapa coffeeshop yang memakai biji kopi yang sama punya cita rasa kopi yang mirip? Belum tentu. Proses pengolahan kopi tiap coffeeshop pasti berbeda. Hasil proses inilah yang nantinya bakal membuat beda. Ada yang namanya triangulasi ekstraksi. Yakni, dosis atau jumlah gram kopi yang dipakai, berapa lama proses ekstraksinya, dan hasil ekstraksinya seperti apa.

Bagus mengatakan, kopi espresso rata-rata teorinya satu banding dua. Jadi misalnya, satu gram kopi dilarutkan dalam dua gram air. Nah, yang membedakan rasanya itu waktu ekstraksinya.

“Mau dibikin panjang atau pendek. Kalau pendek, kopi akan lebih asam sampai kecut. Bahkan kalau ekstraksinya cuma 20 detik, ada rasa asin muncul. Semakin panjang ekstraksinya, semakin intens rasa pahitnya,” bebernya.

Bagus menegaskan, itu tugas coffeeshop mau dibawa kemana karakter kopinya. Tergantung ekstraksinya. Tapi, ekstraksi paling ideal, adalah yang balance antara rasa pahit dan asamnya. Itu yang membedakan coffeeshop satu sama lain.

“Kalau mau dibikin sama karakternya, harus ada banyak faktor. Selain dari teknis ekstraksi, penggunaan mesin kopi juga membedakan hasil. Ada pengaruh suhu dan tekanan. Bahkan triangulasinya sama pun, kalau mesinnya beda, rasa kopinya tetap beda,” sambungnya.

Tak kalah menarik, pemakaian ukuran gelas dalam penyajian kopi juga berpengaruh dalam cita rasa. Karena dengan larutan kopi dan es yang sama, jika ukuran gelas lebih besar, membuat campuran susu lebih banyak. Nah, ini membuat rasa susunya lebih intens. Sehingga berpengaruh pada cita rasa kopi itu.

“Khusus kopi filter, atau kopi single origin, penggunaan gelas juga bermacam-macam. Ada gelas aromatik. Saat barista cupping biji kopi, ketahuan biji kopinya wangi, maka serving-nya lebih cocok pakai gelas aromatik.

“Gelas ini bentuknya moncong naik. Saat minum, hidung akan tertutup moncong. Sehingga aroma kopinya langsung masuk ke hidung. Memberi kesan kopi ini harum,” terangnya.

Beda lagi kalau biji kopinya punya karakter manis. Body gelas yang digunakan lebih tebal di ujung gelas. Sehingga saat kopi masuk ke mulut, kopi langsung menyebar ke lidah. Memberikan kesan manis di lidah.

“Ini juga memengaruhi karakter coffeeshop. Mau sejauh mana coffeeshop itu membawa produknya,” ujarnya. (aya/bun) 

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/