alexametrics
27.1 C
Surakarta
Monday, 25 October 2021

Mi Mocaf Ramah Disabilitas: Jerih Payah Cari Komposisi Terbayarkan

RADARSOLO.ID – Saat kawannya yang memiliki anak disabilitas autis mengalami kesulitan dalam mengonsumsi mi, banyak yang alergi terhadap kandungan gluten. Saat mengonsumsi mi berbahan terigu, kandungan gluten tinggi membuat anak autis terangsang lebih aktif. Keresahannya ini membuat Hendarti Sri Kristiyaningsih memiliki ide membuat mi tanpa kandungan gluten. Akhirnya ditemukan pada bahan singkong.

Aroma singkong menguap saat memasuki rumah Hendarti Sri Kristiyaningsih, 56, di Singkil, Boyolali Kota. Saat bertandang di produksi olahan singkong (POS) ini, Hendarti tengah sibuk menyiapkan bahan mi mocaf dengan bahan dasar tepung singkong.

Ketika mencicipi mi mocaf goreng dengan keju buatannya, tekstur mi justru mirip dengan spageti. Bahkan lebih gurih dan sudah terasa asin. Penyajian mi mocaf bisa dibuat tiga versi, yakni mi goreng, mi dengan kuah, dan mi goreng kerupuk. Semuanya nikmat mengugah selera.

Siang itu, Hendarti tengah disibukan dengan mengolah tepung dan mengoperasi mesin. Sebanyak 1 kilogram tepung dengan komposisi tepung mocaf dan campuran maizena diaduk dalam mesin pengulen adonan. Ditambahkan telur, mesin terus berputar. Tak berselang lama, adonan dimasukan ke mesin pemipih. Berulang-ulang, hingga adonan berbentuk memanjang sempurna. Butiran tepung mocaf dibalurkan di tiap sisi adonan pipih ini.

“Setelah ini masuk ke mesin pencetak mi. Kalau sudah dicetak harus langsung ditimbang dan direbus. Kalau kena angin bisa hancur,” jelasnya sembari merapikan mi dalam wadah cetakan.

Mi mocaf ini dirintisnya sejak 2018. Awalnya dia dibantu peneliti asal lembaga ilmu pengetahuan Indonesia (LIPI). Hendarti akhirnya membuat sendiri tepung mocaf yang kaya beta-karoten. Baru uji coba pembuatan mi dimulai.

“Satu tahun saya utak-atik menakar komposisi yang pas. Tiap hari saya coba 10 komposisi berbeda dengan bahan tepung mocaf. Mulai dari campuran terigu dan maizena sampai akhirnya nemu tarakan pas. Bahan dasar mocaf dan sedikit maizena. Ratusan kali itu saya gagal, kalau ditaksir Rp 200 juta ada untuk uji coba ini,” bebernya.

MULAI LARIS DIPASARAN: Mi Mocaf buatan Hendarti Sri Kristiyaningsih. (RAGIL LISTYO/RADAR SOLO)

Kini, mi mocaf dengan merek Hend’s ini mampu merajai pasar. Setiap hari, Hendarti mampu memproduksi 300 bungkus. Dia juga menyediakan ruang pengeringan berukuran 3×5 meter persegi. Adanya ruang tersebut yang memudahkan proses pengeringan sebelum masuk pengemasan.

Satu bungkus berisi tiga keping mi mocaf. Dia juga mencantumkan saran penyajian. Saat ini, produksi dan pengemasan mi mocaf dibantu dua pegawainya. Penjualan mi mocaf juga terus berkembang, mulai dari marketplace, reseller, hingga sampai di beberapa restoran. Pemesan berasal dari seluruh Indonesia hingga luar negeri.

“Untuk satu bungkus mi mocaf seharga Rp 14.500 dengan tiga varian, original, brokoli dan wortel. Dalam sebulan saya bisa menjual sampai 1.000 bungkus. Kalau omzetnya ya sekitar Rp 14,5 juta perbulan,” terangnya. (rgl/nik/dam)

RADARSOLO.ID – Saat kawannya yang memiliki anak disabilitas autis mengalami kesulitan dalam mengonsumsi mi, banyak yang alergi terhadap kandungan gluten. Saat mengonsumsi mi berbahan terigu, kandungan gluten tinggi membuat anak autis terangsang lebih aktif. Keresahannya ini membuat Hendarti Sri Kristiyaningsih memiliki ide membuat mi tanpa kandungan gluten. Akhirnya ditemukan pada bahan singkong.

Aroma singkong menguap saat memasuki rumah Hendarti Sri Kristiyaningsih, 56, di Singkil, Boyolali Kota. Saat bertandang di produksi olahan singkong (POS) ini, Hendarti tengah sibuk menyiapkan bahan mi mocaf dengan bahan dasar tepung singkong.

Ketika mencicipi mi mocaf goreng dengan keju buatannya, tekstur mi justru mirip dengan spageti. Bahkan lebih gurih dan sudah terasa asin. Penyajian mi mocaf bisa dibuat tiga versi, yakni mi goreng, mi dengan kuah, dan mi goreng kerupuk. Semuanya nikmat mengugah selera.

Siang itu, Hendarti tengah disibukan dengan mengolah tepung dan mengoperasi mesin. Sebanyak 1 kilogram tepung dengan komposisi tepung mocaf dan campuran maizena diaduk dalam mesin pengulen adonan. Ditambahkan telur, mesin terus berputar. Tak berselang lama, adonan dimasukan ke mesin pemipih. Berulang-ulang, hingga adonan berbentuk memanjang sempurna. Butiran tepung mocaf dibalurkan di tiap sisi adonan pipih ini.

“Setelah ini masuk ke mesin pencetak mi. Kalau sudah dicetak harus langsung ditimbang dan direbus. Kalau kena angin bisa hancur,” jelasnya sembari merapikan mi dalam wadah cetakan.

Mi mocaf ini dirintisnya sejak 2018. Awalnya dia dibantu peneliti asal lembaga ilmu pengetahuan Indonesia (LIPI). Hendarti akhirnya membuat sendiri tepung mocaf yang kaya beta-karoten. Baru uji coba pembuatan mi dimulai.

“Satu tahun saya utak-atik menakar komposisi yang pas. Tiap hari saya coba 10 komposisi berbeda dengan bahan tepung mocaf. Mulai dari campuran terigu dan maizena sampai akhirnya nemu tarakan pas. Bahan dasar mocaf dan sedikit maizena. Ratusan kali itu saya gagal, kalau ditaksir Rp 200 juta ada untuk uji coba ini,” bebernya.

MULAI LARIS DIPASARAN: Mi Mocaf buatan Hendarti Sri Kristiyaningsih. (RAGIL LISTYO/RADAR SOLO)

Kini, mi mocaf dengan merek Hend’s ini mampu merajai pasar. Setiap hari, Hendarti mampu memproduksi 300 bungkus. Dia juga menyediakan ruang pengeringan berukuran 3×5 meter persegi. Adanya ruang tersebut yang memudahkan proses pengeringan sebelum masuk pengemasan.

Satu bungkus berisi tiga keping mi mocaf. Dia juga mencantumkan saran penyajian. Saat ini, produksi dan pengemasan mi mocaf dibantu dua pegawainya. Penjualan mi mocaf juga terus berkembang, mulai dari marketplace, reseller, hingga sampai di beberapa restoran. Pemesan berasal dari seluruh Indonesia hingga luar negeri.

“Untuk satu bungkus mi mocaf seharga Rp 14.500 dengan tiga varian, original, brokoli dan wortel. Dalam sebulan saya bisa menjual sampai 1.000 bungkus. Kalau omzetnya ya sekitar Rp 14,5 juta perbulan,” terangnya. (rgl/nik/dam)

Populer

Berita Terbaru