alexametrics
21.5 C
Surakarta
Thursday, 30 June 2022

Nasi Dibentuk Bola, hanya Buka Malam Kliwon

Sego Kuning Legendaris khas Giriwoyo, Wonogiri: Nasi Disiram Sayur Kuning

WONOGIRI – Sego kuning Mbok Sriwi di Dusun Saratan, Desa Sejati, Kecamatan Giriwoyo, Wonogiri ini berbeda dengan nasi kuning pada umumnya. Bukan nasinya yang kuning, tapi penyajiannya yang disiram sayur kuning kental. Seperti apa rasanya?

Dalam tradisi masyarakat Jawa, sego kuning biasa dibikin saat acara tertentu seperti syukuran, pernikahan maupun acara adat lainnya. Warna kuningnya berasal dari pewarna alami kunyit. Sementara sego kuning Mbok Sriwi ini warna nasinya putih. Nah, warna kuningnya itu karena disiram sayur kuning.

Pemilik warung, Sriwi, 67, mengatakan, sayur kuning itu dibuat dari bahan dasar pepaya muda, lalu ada tambahan kunir. Sehingga warnaya menjadi kuning. Selain sego kuning, ada sejumlah menu tradisional yang bisa dipesan. Seperti gudangan, krengseng hingga gorengan hangat.

Dalam satu porsi sego kuning, pengunjung bisa memilih lauk ayam kampung atau telur. Keunikan lainnya adalah nasi yang disajikan dikepal sebesar bola tenis. Ada empat buah glindingan bola nasi di setiap porsinya.

”Memang sejak awal dulu nasinya dibuat seperti ini, glindingan. Tujuannya biar nasinya padat dan pulen, kan jadi beda,” kata dia.

Sementara lauknya bisa tahu, tempe goreng, plus sambal bawang. Pesan juga krengseng dan gudangan. Piring yang digunakan dilembari daun jati dan daun pisang.

”Sekali buka bisa menghabiskan tujuh ayam kampung Jawa dan delapan kilogram telur ayam,” beber Sriwi.

Selain itu cara memasaknya masih tradisional. Yakni dengan dandang dan kukusan bambu. Bahan bakarnya dari kayu.

Namun, pecinta kuliner tak bisa datang begitu saja jika ingin mencicipi sego kuning itu. Pasalnya, warung tersebut hanya buka di pasaran tertentu, yakni malem Kliwon atau pasaran Wage sekitar pukul 16.00.

Alasan dipilihnya waktu buka karena Pasar Giriwoyo dulunya ramai saat pasaran Kliwon, itu juga sampai saat ini. Nah, jika dagangannya tak habis saat malem Kliwon, sego kuning bisa dijual di pasar.

”Kalau di pasar jam 06.00 juga sudah habis terjual. Sering sudah habis sejak malam dan tidak sempat ke pasar,” ujar dia.

Warung itu sudah dikelola turun-temurun sejak 1965. Dulunya dikelola oleh orang tuanya dan kini masih diurus dia bersama keluarganya. Lokasinya juga asri. Di tengah perkampungan, yang tak lain rumahnya sendiri. Pembeli bisa menyantap makanan di dalam maupun teras rumah dengan bangunan kayu dan lantainya masih tegel.

Soal harga, satu porsi sego kuning dengan lauk ayam dibanderol Rp 15.000. Sementara untuk sego kuning dengan lauk telur dibanderol Rp 8.000. Jika memesan gudangan atau krengseng tentunya harga bertambah.

Camat Giriwoyo Fuad Wahyu Pratama mengaku sudah kerap menyantap sego kuning di warung itu. Diakui dia, rasa sego kuning mantap.

”Di Giriwoyo sebenarnya banyak kuliner legendaris, ini salah satunya. Misalnya sego kuning Yu Parti, tiwul Mbah Sembkeng dan lain-lain,” kata dia. (al/adi/dam)

WONOGIRI – Sego kuning Mbok Sriwi di Dusun Saratan, Desa Sejati, Kecamatan Giriwoyo, Wonogiri ini berbeda dengan nasi kuning pada umumnya. Bukan nasinya yang kuning, tapi penyajiannya yang disiram sayur kuning kental. Seperti apa rasanya?

Dalam tradisi masyarakat Jawa, sego kuning biasa dibikin saat acara tertentu seperti syukuran, pernikahan maupun acara adat lainnya. Warna kuningnya berasal dari pewarna alami kunyit. Sementara sego kuning Mbok Sriwi ini warna nasinya putih. Nah, warna kuningnya itu karena disiram sayur kuning.

Pemilik warung, Sriwi, 67, mengatakan, sayur kuning itu dibuat dari bahan dasar pepaya muda, lalu ada tambahan kunir. Sehingga warnaya menjadi kuning. Selain sego kuning, ada sejumlah menu tradisional yang bisa dipesan. Seperti gudangan, krengseng hingga gorengan hangat.

Dalam satu porsi sego kuning, pengunjung bisa memilih lauk ayam kampung atau telur. Keunikan lainnya adalah nasi yang disajikan dikepal sebesar bola tenis. Ada empat buah glindingan bola nasi di setiap porsinya.

”Memang sejak awal dulu nasinya dibuat seperti ini, glindingan. Tujuannya biar nasinya padat dan pulen, kan jadi beda,” kata dia.

Sementara lauknya bisa tahu, tempe goreng, plus sambal bawang. Pesan juga krengseng dan gudangan. Piring yang digunakan dilembari daun jati dan daun pisang.

”Sekali buka bisa menghabiskan tujuh ayam kampung Jawa dan delapan kilogram telur ayam,” beber Sriwi.

Selain itu cara memasaknya masih tradisional. Yakni dengan dandang dan kukusan bambu. Bahan bakarnya dari kayu.

Namun, pecinta kuliner tak bisa datang begitu saja jika ingin mencicipi sego kuning itu. Pasalnya, warung tersebut hanya buka di pasaran tertentu, yakni malem Kliwon atau pasaran Wage sekitar pukul 16.00.

Alasan dipilihnya waktu buka karena Pasar Giriwoyo dulunya ramai saat pasaran Kliwon, itu juga sampai saat ini. Nah, jika dagangannya tak habis saat malem Kliwon, sego kuning bisa dijual di pasar.

”Kalau di pasar jam 06.00 juga sudah habis terjual. Sering sudah habis sejak malam dan tidak sempat ke pasar,” ujar dia.

Warung itu sudah dikelola turun-temurun sejak 1965. Dulunya dikelola oleh orang tuanya dan kini masih diurus dia bersama keluarganya. Lokasinya juga asri. Di tengah perkampungan, yang tak lain rumahnya sendiri. Pembeli bisa menyantap makanan di dalam maupun teras rumah dengan bangunan kayu dan lantainya masih tegel.

Soal harga, satu porsi sego kuning dengan lauk ayam dibanderol Rp 15.000. Sementara untuk sego kuning dengan lauk telur dibanderol Rp 8.000. Jika memesan gudangan atau krengseng tentunya harga bertambah.

Camat Giriwoyo Fuad Wahyu Pratama mengaku sudah kerap menyantap sego kuning di warung itu. Diakui dia, rasa sego kuning mantap.

”Di Giriwoyo sebenarnya banyak kuliner legendaris, ini salah satunya. Misalnya sego kuning Yu Parti, tiwul Mbah Sembkeng dan lain-lain,” kata dia. (al/adi/dam)

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/