alexametrics
24.5 C
Surakarta
Tuesday, 28 September 2021

Produk olahan dari singkong dan Ubi, Terinspirasi dari Letusan Merapi

RADARSOLO.ID – Bisnis kuliner dengan bahan dasar singkong jadi salah satu makanan yang cukup digemari. Hal inilah yang mendasari banyaknya pengusaha muda yang ingin mengembangkan berbagai menu singkong, namun tentu dengan rasa yang dikembangkan tentunya.

Singkong goreng sering kali jadi camilan yang dinikmati dengan ditemani teh hangat maupun kopi. Apalagi sangat cocok jika disantap ketika musim penghujan tiba.

Untuk mengolah singkong menjadi empuk, pulen, dan gurih serta merekah saat digoreng tidaklah perkara mudah. Tetapi di tangan Ariyo Hantoro, 35, bisa jadi produk singkong keju yang begitu nikmat.

Dia mengembangkan produk singkong kejunya yang dinamainya merek “Meletus”. Ternyata ada hal menarik atas lahirnya nama tersebut. Ariyo memulai usahanya saat masih kuliah semester 5 di Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta pada 2006. Saat itu ternyata momennya bertepatan dengan peristiwa meletusnya Gunung Merapi. Situasi itulah yang mengilhami nama produk singkong buatannya.

Usahanya diawali dengan memiliki sejumlah outlet dengan konsep street food yang menjajakan singkong goreng dengan parutan keju diatasnya di Kota Jogja. Hingga akhirnya berkembang hingga ke sejumlah daerah, seperti di Karawang, Cikarang,Tangerang, dan Klaten.

“Apalagi pada saat itu di sekitar tempat tinggal saya di Desa Mranggen, Kecamatan Jatinom Klaten untuk harga singkong sangat murah, sehingga hanya digunakan untuk pakan ternak saja. Kami mencoba untuk membeli dengan harga yang lebih tinggi dari awalnya Rp 500 per kg sekarang menjadi Rp 3.000 per kg,” ucap Ariyo saat ditemui di rumah produksinya di Desa Mranggen, Kecamatan Jatinom beberapa waktu lalu.

Dalam menghasilkan produk, Singkong Keju Meletus sesuai standarisasi yang ditetapkannya. Ariyo memang terlibat dari mulai penanaman, hingga mengolahnya menjadi siap disantap. Apalagi saat ini dirinya telah menyewa lahan 10 patok khusus untuk ditanami singkong jenis cemani. Hal itu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan bahan bakunya.

Diakuinya memang tidak mudah dalam mengembangkan usahanya yang sudah ditekuni selama 15 tahun itu. Apalagi dihadapkan pada petani yang sudah lanjut usia dan enggan menanam singkong karena harganya yang murah. Ditambah usia panen yang tidak sesuai diharapkan sehingga dia terjun ke lapangan untuk melakukan pembinaan terhadap petani pula.

”Kalau mindset pembeli kan singkong itu harganya murah, maka itu kami coba angkat dengan mengolahnya menjadi sejumlah produk olahan singkong. Di samping singkong keju meletus, singkong krez, singkong ekonomis, gethuk dan tela-tela. Kita terus melakukan inovasi dengan terus melakukan tes pasar,” ucapnya.

Bahkan Ariyo tidak hanya melirik singkong saja, tetapi juga ubi yang diolah menjadi sejumlah produk. Seperti ubi lumer, timus dan gemblong untuk melengkapi pilihan. Seluruh produk diperjualbelikan dalam bentuk siap saji maupun frozen sehingga bisa dikirimkan ke sejumlah kota besar di Indonesia.

Untuk di Klaten sendiri, Ariyo memiliki empat outlet yang siap memanjakan lidah pelanggannya dengan berbagai produk olahan singkong dan ubi. Dia juga melakukan pengembangan usaha dengan sistem partnership maupun reseller. Disamping melayani penjualan secara langsung juga dengan online melalui media sosial.

Soal harga masih cukup terjangkau disesuaikan dengan beratnya yang sudah dalam kemasan. Seperti singkong premium dengan berat 500-600 gram  Rp 12.000. Sedangkan singkong krez dengan berat 450-500 gram dibandrol dengan harga Rp 10.000. Sementara itu pada masa pandemi kali ini, dirinya mengeluarkan singkong ekonomis yang memiliki berat 400-450 gram dijual dengan harga Rp 7.000.

”Dalam mengembangkan usaha ini saya melibatkan ibu-ibu rumah tangga di sekitar rumah produksi. Ada pula yang kami tempatkan untuk memiliki tanggungjawab pada lahan yang kami tanami singkong cemani. Termasuk di bagian pengemasan dan pengiriman produk singkong ke luar kota juga,” ucapnya.

Diakuinya, permintaan pasar cukup tinggi, tetapi terkendala dengan ketersediaan bahan baku. Meski begitu, dia tidak ingin gegabah untuk memenuhi permintaan tetapi memilih mengembangkannya secara bertahap. Apalagi dari usaha yang dijalaninya itu sudah mampu mengantongi omset Rp 100 juta per bulan.

“Disamping penjualan secara reguler di outletoutlet, juga kita targetkan ada penjualan di luar itu setiap harinya. Terutama untuk pengiriman ke luar kota dalam bentuk frozen,” pungkasnya. (ren/nik)


RADARSOLO.ID – Bisnis kuliner dengan bahan dasar singkong jadi salah satu makanan yang cukup digemari. Hal inilah yang mendasari banyaknya pengusaha muda yang ingin mengembangkan berbagai menu singkong, namun tentu dengan rasa yang dikembangkan tentunya.

Singkong goreng sering kali jadi camilan yang dinikmati dengan ditemani teh hangat maupun kopi. Apalagi sangat cocok jika disantap ketika musim penghujan tiba.

Untuk mengolah singkong menjadi empuk, pulen, dan gurih serta merekah saat digoreng tidaklah perkara mudah. Tetapi di tangan Ariyo Hantoro, 35, bisa jadi produk singkong keju yang begitu nikmat.

Dia mengembangkan produk singkong kejunya yang dinamainya merek “Meletus”. Ternyata ada hal menarik atas lahirnya nama tersebut. Ariyo memulai usahanya saat masih kuliah semester 5 di Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta pada 2006. Saat itu ternyata momennya bertepatan dengan peristiwa meletusnya Gunung Merapi. Situasi itulah yang mengilhami nama produk singkong buatannya.

Usahanya diawali dengan memiliki sejumlah outlet dengan konsep street food yang menjajakan singkong goreng dengan parutan keju diatasnya di Kota Jogja. Hingga akhirnya berkembang hingga ke sejumlah daerah, seperti di Karawang, Cikarang,Tangerang, dan Klaten.

“Apalagi pada saat itu di sekitar tempat tinggal saya di Desa Mranggen, Kecamatan Jatinom Klaten untuk harga singkong sangat murah, sehingga hanya digunakan untuk pakan ternak saja. Kami mencoba untuk membeli dengan harga yang lebih tinggi dari awalnya Rp 500 per kg sekarang menjadi Rp 3.000 per kg,” ucap Ariyo saat ditemui di rumah produksinya di Desa Mranggen, Kecamatan Jatinom beberapa waktu lalu.

Dalam menghasilkan produk, Singkong Keju Meletus sesuai standarisasi yang ditetapkannya. Ariyo memang terlibat dari mulai penanaman, hingga mengolahnya menjadi siap disantap. Apalagi saat ini dirinya telah menyewa lahan 10 patok khusus untuk ditanami singkong jenis cemani. Hal itu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan bahan bakunya.

Diakuinya memang tidak mudah dalam mengembangkan usahanya yang sudah ditekuni selama 15 tahun itu. Apalagi dihadapkan pada petani yang sudah lanjut usia dan enggan menanam singkong karena harganya yang murah. Ditambah usia panen yang tidak sesuai diharapkan sehingga dia terjun ke lapangan untuk melakukan pembinaan terhadap petani pula.

”Kalau mindset pembeli kan singkong itu harganya murah, maka itu kami coba angkat dengan mengolahnya menjadi sejumlah produk olahan singkong. Di samping singkong keju meletus, singkong krez, singkong ekonomis, gethuk dan tela-tela. Kita terus melakukan inovasi dengan terus melakukan tes pasar,” ucapnya.

Bahkan Ariyo tidak hanya melirik singkong saja, tetapi juga ubi yang diolah menjadi sejumlah produk. Seperti ubi lumer, timus dan gemblong untuk melengkapi pilihan. Seluruh produk diperjualbelikan dalam bentuk siap saji maupun frozen sehingga bisa dikirimkan ke sejumlah kota besar di Indonesia.

Untuk di Klaten sendiri, Ariyo memiliki empat outlet yang siap memanjakan lidah pelanggannya dengan berbagai produk olahan singkong dan ubi. Dia juga melakukan pengembangan usaha dengan sistem partnership maupun reseller. Disamping melayani penjualan secara langsung juga dengan online melalui media sosial.

Soal harga masih cukup terjangkau disesuaikan dengan beratnya yang sudah dalam kemasan. Seperti singkong premium dengan berat 500-600 gram  Rp 12.000. Sedangkan singkong krez dengan berat 450-500 gram dibandrol dengan harga Rp 10.000. Sementara itu pada masa pandemi kali ini, dirinya mengeluarkan singkong ekonomis yang memiliki berat 400-450 gram dijual dengan harga Rp 7.000.

”Dalam mengembangkan usaha ini saya melibatkan ibu-ibu rumah tangga di sekitar rumah produksi. Ada pula yang kami tempatkan untuk memiliki tanggungjawab pada lahan yang kami tanami singkong cemani. Termasuk di bagian pengemasan dan pengiriman produk singkong ke luar kota juga,” ucapnya.

Diakuinya, permintaan pasar cukup tinggi, tetapi terkendala dengan ketersediaan bahan baku. Meski begitu, dia tidak ingin gegabah untuk memenuhi permintaan tetapi memilih mengembangkannya secara bertahap. Apalagi dari usaha yang dijalaninya itu sudah mampu mengantongi omset Rp 100 juta per bulan.

“Disamping penjualan secara reguler di outletoutlet, juga kita targetkan ada penjualan di luar itu setiap harinya. Terutama untuk pengiriman ke luar kota dalam bentuk frozen,” pungkasnya. (ren/nik)

Populer

Berita Terbaru