25 C
Surakarta
Sunday, 4 December 2022

Ayam Panggang Bu Bari, Karangtengah:  Paling Enak Makan Langsung di Dapur

RADARSOLO.ID – Jauh dari wilayah perkotaan Wonogiri, Kecamatan Karangtengah  menyimpan banyak hidden gem. Tak hanya potensi wisata, namun juga kuliner legendaris ada disana. Salah satunya ayam panggang Bu Bari.

Warung ayam panggang Bu Bari terletak di Dusun Timbangan RT 03 RW 01 Desa/Kecamatan Karangtengah, Wonogiri. Warung itu telah berdiri sejak 1996. Berkat cita rasanya yang masih terjaga, warung itu terus bertahan hingga saat ini.

Warung ini milik Suparmi, 67. Dia mengaku awalnya hanya berjualan ayam panggang dengan jumlah yang masih sedikit. Hanya dua sampai lima ekor ayam yang dimasak per harinya. Namun kian lama, jumlah peminat ayam panggang bikinannya terus bertambah.

“Sebelum ada pandemi Covid-19, sehari bisa memasak 25 sampai 30 ekor. Tapi setelah ada pandemic Covid-19 mungkin 20 an ekor saja. Kecuali kalau ada pesanan,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Solo belum lama ini.

Suparmi menuturkan, ayam panggang bikinannya diolah dengan cara sederhana. Bumbunya antara lain bawang merah, bawang putih, laos, tumbar, dan lain sebagainya. Ayam yang digunakan adalah ayam jawa. Prosesnya adalah ayam dipanggang sebentar, lalu diungkep. Kemudian saat akan disajikan, harus dipanggang di tungku terlebih dahulu.

“Diungkep secukupnya. Paling tidak dua jam. Dengan begitu bumbunya bisa meresap,” ucap Suparmi.

YUMMY: Ayam panggang Bu Bari Karangtengah. (IWAN ADI LUHUNG/RADAR SOLO)

Pelanggan ayam panggang tak hanya warga sekitar Kecamatan Karangtengah saja. Namun ada juga yang berasal dari Wonogiri Kota, bahkan luar Kota Sukses juga cukup banyak yang penasaran akan masaknya.

Tak hanya masyarakat biasa, ayam panggang Bu Bari juga digemari oleh sejumlah pejabat. Salah satunya Bupati Wonogiri Joko Sutopo. Bahkan, ayam panggang Bu Bari juga pernah dipesan kapolda Jawa Tengah. Sederet nama pejabat lain juga pernah mencicipi nikmatnya ayam panggang itu.

“Kalau dapat komentar mungkin ya enak begitu katanya. Bupati Pacitan juga pernah kesini,” ungkapnya.

Di warung tersebut, papar Suparmi, pelanggan malah lebih suka makan langsung di dapur. Meski sudah disediakan tempat di bagian depan warung. Pelanggan memilih turun ke bawah dan memakan pesanannya langsung di dapur.

”Pelanggan katanya ingin bisa mencium aroma masakan di tempat memasaknya, dan ingin melihat proses memasak ayam panggang ini,” paparnya.

Jika dapur penuh, pelanggan memilih untuk memakan pesanannya di dalam rumah Suparmi meski disediakan tempat lain. Dan itu sudah menjadi hal lumrah disana.

Satu porsi ayam panggang di warung ini dibanderol Rp 30 ribu hingga Rp 35 ribu, tergantung ukuran dagingnya. Itu sudah satu paket dengan nasi, minum, lalapan, sambal, gudangan, hingga oseng yang disajikan kepada pelanggan. Untuk ayam panggang utuh dihargai Rp 90 ribu sampai Rp 110 ribu.

Soal rasanya tak perlu ditanya lagi. Cukup istimewa. Bumbu neresap hingga bagian terdalam daging. Dan tentu, hidung dimanjakan dengan aroma ayam yang sedang dipanggang di dapur. (al/nik/dam)

RADARSOLO.ID – Jauh dari wilayah perkotaan Wonogiri, Kecamatan Karangtengah  menyimpan banyak hidden gem. Tak hanya potensi wisata, namun juga kuliner legendaris ada disana. Salah satunya ayam panggang Bu Bari.

Warung ayam panggang Bu Bari terletak di Dusun Timbangan RT 03 RW 01 Desa/Kecamatan Karangtengah, Wonogiri. Warung itu telah berdiri sejak 1996. Berkat cita rasanya yang masih terjaga, warung itu terus bertahan hingga saat ini.

Warung ini milik Suparmi, 67. Dia mengaku awalnya hanya berjualan ayam panggang dengan jumlah yang masih sedikit. Hanya dua sampai lima ekor ayam yang dimasak per harinya. Namun kian lama, jumlah peminat ayam panggang bikinannya terus bertambah.

“Sebelum ada pandemi Covid-19, sehari bisa memasak 25 sampai 30 ekor. Tapi setelah ada pandemic Covid-19 mungkin 20 an ekor saja. Kecuali kalau ada pesanan,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Solo belum lama ini.

Suparmi menuturkan, ayam panggang bikinannya diolah dengan cara sederhana. Bumbunya antara lain bawang merah, bawang putih, laos, tumbar, dan lain sebagainya. Ayam yang digunakan adalah ayam jawa. Prosesnya adalah ayam dipanggang sebentar, lalu diungkep. Kemudian saat akan disajikan, harus dipanggang di tungku terlebih dahulu.

“Diungkep secukupnya. Paling tidak dua jam. Dengan begitu bumbunya bisa meresap,” ucap Suparmi.

YUMMY: Ayam panggang Bu Bari Karangtengah. (IWAN ADI LUHUNG/RADAR SOLO)

Pelanggan ayam panggang tak hanya warga sekitar Kecamatan Karangtengah saja. Namun ada juga yang berasal dari Wonogiri Kota, bahkan luar Kota Sukses juga cukup banyak yang penasaran akan masaknya.

Tak hanya masyarakat biasa, ayam panggang Bu Bari juga digemari oleh sejumlah pejabat. Salah satunya Bupati Wonogiri Joko Sutopo. Bahkan, ayam panggang Bu Bari juga pernah dipesan kapolda Jawa Tengah. Sederet nama pejabat lain juga pernah mencicipi nikmatnya ayam panggang itu.

“Kalau dapat komentar mungkin ya enak begitu katanya. Bupati Pacitan juga pernah kesini,” ungkapnya.

Di warung tersebut, papar Suparmi, pelanggan malah lebih suka makan langsung di dapur. Meski sudah disediakan tempat di bagian depan warung. Pelanggan memilih turun ke bawah dan memakan pesanannya langsung di dapur.

”Pelanggan katanya ingin bisa mencium aroma masakan di tempat memasaknya, dan ingin melihat proses memasak ayam panggang ini,” paparnya.

Jika dapur penuh, pelanggan memilih untuk memakan pesanannya di dalam rumah Suparmi meski disediakan tempat lain. Dan itu sudah menjadi hal lumrah disana.

Satu porsi ayam panggang di warung ini dibanderol Rp 30 ribu hingga Rp 35 ribu, tergantung ukuran dagingnya. Itu sudah satu paket dengan nasi, minum, lalapan, sambal, gudangan, hingga oseng yang disajikan kepada pelanggan. Untuk ayam panggang utuh dihargai Rp 90 ribu sampai Rp 110 ribu.

Soal rasanya tak perlu ditanya lagi. Cukup istimewa. Bumbu neresap hingga bagian terdalam daging. Dan tentu, hidung dimanjakan dengan aroma ayam yang sedang dipanggang di dapur. (al/nik/dam)

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/