alexametrics
21.5 C
Surakarta
Thursday, 30 June 2022

Belajar Menyeduh Kopi Lewat Coffee Class for Media

Pandemi Covid-19, Konsumsi Kopi Justru Meningkat Tajam

SOLO – Konsumsi kopi selama pandemi Covid-19 terus meningkat. Kebijakan work from home yang sempat diterapkan di awal pandemi justru semakin menumbuhkan awareness masyarakat terhadap kopi. Kondisi ini membuat kopi semakin populer. Sekaligus menciptakan semakin banyak pecinta kopi.

Awareness masyarakat soal kopi ini berbanding lurus dengan tingkat penjualan yang terus meningkat. Kami mencatat selama masa pandemi, permintaan produk kopi kami terus bertumbuh. Ini menunjukkan peminat kopi naik. Peningkatannya signifikan, terutama pembelian secara online,” beber Head of Corporate Communication PT Kapal Api Global, Pangesti Boedhiman kepada Jawa Pos Radar Solo usai Coffee Class for Media di Excelso Solo Paragon Lifestyle Mall, Selasa (7/6).

Cici, sapaan akrab Pangesti, mengaku pihaknya tak gentar dengan gempuran menjamurnya coffeeshop lokal di Kota Bengawan. Fenomena ini semakin membuktikan bahwa kopi sudah semakin diterima berbagai kalangan masyarakat. Mulai dari kopi klasik sampai kopi olahan kekinian punya pangsa pasarnya masing-masing.

“Kami menghadapi coffeeshop lokal dengan persaingan sehat. Karena tujuannya kan coffee for all. Kopi untuk semua orang. Bisa kopi warung sampai kopi di kedai yang high end. Maka kami harus menunjukkan unique selling produk kami. Selama ini kami mengenalkan dan mengunggulkan kopi terbaik di Indonesia. Kopi Luwak dan Kalosi Toraja andalannya, karena dihasilkan kebun kami sendiri,” jelasnya.

Sementara itu, dalam sesi kelas kopi, sejumlah wartawan di Kota Bengawan berkesempatan belajar tentang tiga cara penyeduhan kopi. Dipandu oleh Supervisor Excelso Solo Paragon Lifestyle Mall, Beni Pamungkas, para wartawan dikenalkan cara penyeduhan menggunakan metode Coffee Press, Coffee Machine, dan Syphon Brew. Dengan tiga jenis varian kopi single origin khas Indonesia Kalosi Toraja, Sumatera Mandheling, dan Luwak Toraja.

“Kita coba untuk mengenali aroma setiap jenis kopi sebelum diseduh dengan mengendus aromanya ketika masih dalam bentuk bubuk. Setelah itu baru kita seduh dan kita hirup lagi aromanya. Idealnya aroma kopi tersebut saat masih dalam bentuk bubuk, akan menghasilkan aroma yang sama setelah diseduh,” ujar Beni.

Beni juga menjelaskan arti istilah single origin yang sangat identik dengan era gelombang kopi ketiga atau third wave coffee. Single origin adalah asal mula atau tempat pertama kopi itu berasal. Biasanya, single origin mengacu kepada satu wilayah, tempat, atau daerah spesifik dan tak bisa direkayasa.

“Kalosi Toraja ini misalnya, diproduksi dari biji kopi dari perkebunan di Toraja. Bila bibitnya dipindah ke daerah lain, maka aroma kopi yang dihasilkan tidak akan sama. Dengan teknologi menyeduh kopi yang berbeda, satu jenis kopi yang sama akan menghasilkan aroma, acidity, dan body yang berbeda,” terangnya. (aya/dam)

SOLO – Konsumsi kopi selama pandemi Covid-19 terus meningkat. Kebijakan work from home yang sempat diterapkan di awal pandemi justru semakin menumbuhkan awareness masyarakat terhadap kopi. Kondisi ini membuat kopi semakin populer. Sekaligus menciptakan semakin banyak pecinta kopi.

Awareness masyarakat soal kopi ini berbanding lurus dengan tingkat penjualan yang terus meningkat. Kami mencatat selama masa pandemi, permintaan produk kopi kami terus bertumbuh. Ini menunjukkan peminat kopi naik. Peningkatannya signifikan, terutama pembelian secara online,” beber Head of Corporate Communication PT Kapal Api Global, Pangesti Boedhiman kepada Jawa Pos Radar Solo usai Coffee Class for Media di Excelso Solo Paragon Lifestyle Mall, Selasa (7/6).

Cici, sapaan akrab Pangesti, mengaku pihaknya tak gentar dengan gempuran menjamurnya coffeeshop lokal di Kota Bengawan. Fenomena ini semakin membuktikan bahwa kopi sudah semakin diterima berbagai kalangan masyarakat. Mulai dari kopi klasik sampai kopi olahan kekinian punya pangsa pasarnya masing-masing.

“Kami menghadapi coffeeshop lokal dengan persaingan sehat. Karena tujuannya kan coffee for all. Kopi untuk semua orang. Bisa kopi warung sampai kopi di kedai yang high end. Maka kami harus menunjukkan unique selling produk kami. Selama ini kami mengenalkan dan mengunggulkan kopi terbaik di Indonesia. Kopi Luwak dan Kalosi Toraja andalannya, karena dihasilkan kebun kami sendiri,” jelasnya.

Sementara itu, dalam sesi kelas kopi, sejumlah wartawan di Kota Bengawan berkesempatan belajar tentang tiga cara penyeduhan kopi. Dipandu oleh Supervisor Excelso Solo Paragon Lifestyle Mall, Beni Pamungkas, para wartawan dikenalkan cara penyeduhan menggunakan metode Coffee Press, Coffee Machine, dan Syphon Brew. Dengan tiga jenis varian kopi single origin khas Indonesia Kalosi Toraja, Sumatera Mandheling, dan Luwak Toraja.

“Kita coba untuk mengenali aroma setiap jenis kopi sebelum diseduh dengan mengendus aromanya ketika masih dalam bentuk bubuk. Setelah itu baru kita seduh dan kita hirup lagi aromanya. Idealnya aroma kopi tersebut saat masih dalam bentuk bubuk, akan menghasilkan aroma yang sama setelah diseduh,” ujar Beni.

Beni juga menjelaskan arti istilah single origin yang sangat identik dengan era gelombang kopi ketiga atau third wave coffee. Single origin adalah asal mula atau tempat pertama kopi itu berasal. Biasanya, single origin mengacu kepada satu wilayah, tempat, atau daerah spesifik dan tak bisa direkayasa.

“Kalosi Toraja ini misalnya, diproduksi dari biji kopi dari perkebunan di Toraja. Bila bibitnya dipindah ke daerah lain, maka aroma kopi yang dihasilkan tidak akan sama. Dengan teknologi menyeduh kopi yang berbeda, satu jenis kopi yang sama akan menghasilkan aroma, acidity, dan body yang berbeda,” terangnya. (aya/dam)

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/