alexametrics
24.1 C
Surakarta
Wednesday, 26 January 2022

Aneka Olahan Ikan Segar Waduk Kedung Ombo, Dibakar atau Dipepes Tetap Nikmat

RADARSOLO.ID – Waduk Kedung Ombo (WKO) dikenal dengan surganya ikan air tawar. Apalagi jika dimasak dengan cara dibakar, lalu dinikmati sambil melihat keindahan alam di sekitarnya.

Melimpahnya hasil ikan ini membangkitkan cita rasa kuliner di kawasan itu. Mulai dari ikan nila, wader, tombro, dan sebagainya. Belasan warung makan yang menghidangkan khusus ikan bakar dapat ditemui di sepanjang jalan Kedungombo-Monggot tepi hutan Gundi.

Kebetulan lokasinya tidak jauh dari WKO, sehingga ikan nila yang didapatkan masih sangat segar dan menggiurkan. Ditambah asap putih tebal di pinggir jalan saat penjual tengah membakar ikan semakin menggugah selera. Sehingga banyak disinggahi pembeli, baik dari warga sekitar maupun para pelancong yang melintasi kawasan tersebut.

Selain itu jika berminat, para pembeli juga diperbolehkan membakar sendiri ikan pesanannya. Tentu penjual membantu untuk membersihkan ikan tersebut agar higienis dan lebih nikmat. Selain itu, daging ikan WKO teksturnya lembut dan gurih. Ketika dinikmati bersama nasi putih dan sambal semakin menambah selera.

Salah seorang penjual ikan bakar WKO Sulasih, 45, menyampaikan, ikan WKO punya cita rasa yang khas. Relatif tidak terlalu amis dibanding ikan yang dibeli dari tempat lain. Padahal dalam mengolah hanya menggunakan resep tradisional seperti bawang merah, cabe rawit, kecap, dan sebagainya. Namun mampu memanjakan lidah bagi para penikmatnya.

”Kalau dirasakan dengan ikan dari luar WKO, rasanya berbeda, pelanggan pun juga merasakan demikian,” ujarnya.

Selain menyediakan ikan bakar, pihaknya juga membuat pepes ikan dan pepes jerohan ikan sebagai pelengkap. Saat mencoba pepes buatannya, rasannya cukup pedas di lidah, namun tetap mengundang selera makan.

Dia mengaku sudah menjual ikan bakar WKO di tepi Hutan Gundi, sekitar 8 tahun lalu. Pada awalnya memang sepi pembeli. Tapi seiring berjalannya waktu, penjualan bisa 15-25 kilogram ikan. Apalagi saat akhir pekan, lebih banyak pelanggan yang berburu ikan bakar WKO.

Warga Bulakmanyar, Desa Ngargosari, Kecamatan Sumberlawang ini menyampaikan yang menjadi primadona yakni ikan nila bakar. Sebenarnya juga ada ikan tombro, namun peminatnya tidak terlalu banyak. Sedangkan pepes jerohan ikan diambil dari bagian hati ikan.

Harganya tergantung besar-kecil ikan. Cukup terjangkau kadang kurang dari Rp 20 ribu per ikan. Sedangkan untuk pepes Rp 7 ribu per porsi. Dia memastikan pedagang menjual sesuai harga dan kualitas. Tidak ”ngepruk” sehingga pelanggan tidak kecewa dan kembali menikmati kuliner khas WKO. (din/adi/dam)

RADARSOLO.ID – Waduk Kedung Ombo (WKO) dikenal dengan surganya ikan air tawar. Apalagi jika dimasak dengan cara dibakar, lalu dinikmati sambil melihat keindahan alam di sekitarnya.

Melimpahnya hasil ikan ini membangkitkan cita rasa kuliner di kawasan itu. Mulai dari ikan nila, wader, tombro, dan sebagainya. Belasan warung makan yang menghidangkan khusus ikan bakar dapat ditemui di sepanjang jalan Kedungombo-Monggot tepi hutan Gundi.

Kebetulan lokasinya tidak jauh dari WKO, sehingga ikan nila yang didapatkan masih sangat segar dan menggiurkan. Ditambah asap putih tebal di pinggir jalan saat penjual tengah membakar ikan semakin menggugah selera. Sehingga banyak disinggahi pembeli, baik dari warga sekitar maupun para pelancong yang melintasi kawasan tersebut.

Selain itu jika berminat, para pembeli juga diperbolehkan membakar sendiri ikan pesanannya. Tentu penjual membantu untuk membersihkan ikan tersebut agar higienis dan lebih nikmat. Selain itu, daging ikan WKO teksturnya lembut dan gurih. Ketika dinikmati bersama nasi putih dan sambal semakin menambah selera.

Salah seorang penjual ikan bakar WKO Sulasih, 45, menyampaikan, ikan WKO punya cita rasa yang khas. Relatif tidak terlalu amis dibanding ikan yang dibeli dari tempat lain. Padahal dalam mengolah hanya menggunakan resep tradisional seperti bawang merah, cabe rawit, kecap, dan sebagainya. Namun mampu memanjakan lidah bagi para penikmatnya.

”Kalau dirasakan dengan ikan dari luar WKO, rasanya berbeda, pelanggan pun juga merasakan demikian,” ujarnya.

Selain menyediakan ikan bakar, pihaknya juga membuat pepes ikan dan pepes jerohan ikan sebagai pelengkap. Saat mencoba pepes buatannya, rasannya cukup pedas di lidah, namun tetap mengundang selera makan.

Dia mengaku sudah menjual ikan bakar WKO di tepi Hutan Gundi, sekitar 8 tahun lalu. Pada awalnya memang sepi pembeli. Tapi seiring berjalannya waktu, penjualan bisa 15-25 kilogram ikan. Apalagi saat akhir pekan, lebih banyak pelanggan yang berburu ikan bakar WKO.

Warga Bulakmanyar, Desa Ngargosari, Kecamatan Sumberlawang ini menyampaikan yang menjadi primadona yakni ikan nila bakar. Sebenarnya juga ada ikan tombro, namun peminatnya tidak terlalu banyak. Sedangkan pepes jerohan ikan diambil dari bagian hati ikan.

Harganya tergantung besar-kecil ikan. Cukup terjangkau kadang kurang dari Rp 20 ribu per ikan. Sedangkan untuk pepes Rp 7 ribu per porsi. Dia memastikan pedagang menjual sesuai harga dan kualitas. Tidak ”ngepruk” sehingga pelanggan tidak kecewa dan kembali menikmati kuliner khas WKO. (din/adi/dam)

Populer

Berita Terbaru