alexametrics
24.5 C
Surakarta
Tuesday, 24 May 2022

Sate Kelinci Tawangmangu, Banyak Diburu Wanita Hamil

KARANGANYAR – Selain alamnya yang indah, Tawangmangu memiliki kuliner khas sate kelinci. Dagingnya mampu menghangatkan tubuh, sementawa otaknya dipercaya meningkatkan kesuburan wanita.

Kuliner sate kelinci mudah ditemukan di sepanjang jalan Tawangmangu. Bahkan menjamur di pintu masuk hingga kawasan objek wisata Grojogan Sewu. Sekilas, sate kelinci memiliki tampilan yang tidak beda jauh dengan sate ayam atau sate lainnya. Namun aromanya khas dan rasanya lebih empuk.

Dalam penyajiannya, sate kelinci Tawangmangu dipotong lebih kecil. Kemudian disajikan dengan saus kacang yang dilumuri kecap bersama potongan bawang dan cabe rawit. Selain itu ditambah lontong atau nasi yang bikin perut cepat kenyang. Untuk menyantapnya cocok dengan minuman hangat seperti jahe, teh atau minuman khas tradisional seperti secang.

Penjual sate kelinci Ridwan Nur Hadiyanto, 38 mengaku membuka usahanya sejak 2000. Dia mengakui, penikmat sate kelinci mulai dari anak-anak, dewasa maupun orang tua.

Namun kebanyakan saat ini sate kelinci banyak diburu oleh kalangan ibu hamil. Lantaran organ bagian kepala dan dalam seperti hati maupun paru dipercaya mampu menguatkan kandungan. Selain itu penangkal penyakit asma.

”Ya kalau dagingnya memang sebagai penghangat. Apalagi di wilayah Tawangmangu seperti ini. Tapi untuk saat ini yang sedang diburu warga itu adalah bagian kepala dan organ dalam. Olahan otak kelinci untuk kekuatan rahim. Kemudian bagian organ dalamnya untuk mengurangi penyakit asma,” kata Ridwan ditemui di kiosnya wilayah Desa Plumbon, Tawangmangu.

Bersama sang istri, Amin Sulistuowati, dia membuka usahanya karena ingin mengikuti kesuksesan pedagang-pedagang sate kelinci di Air Terjun Grojogan Sewu. Ridwan mengatakan, sebenarnya sate kelinci hanya sebagai pelengkap dan pengganti sate ayam.

”Dulu itu awalnya memang sate ayam, kelinci hanya sebagai pengganti saja. Tapi karena banyak yang tanya dan rasanya tidak kalah dengan sate ayam, kemudian pedagang mengembangkan sate tersebut. Beberapa warga mencoba ternak kelinci, kemudian mulai membuat sate itu,” terangnya.

Untuk harga, sangat terjangkau. Satu porsi hanya Rp 20.000, sedangkan olahan lainnya seperti rica-rica seharga Rp 17.000. (rud/adi/dam)

KARANGANYAR – Selain alamnya yang indah, Tawangmangu memiliki kuliner khas sate kelinci. Dagingnya mampu menghangatkan tubuh, sementawa otaknya dipercaya meningkatkan kesuburan wanita.

Kuliner sate kelinci mudah ditemukan di sepanjang jalan Tawangmangu. Bahkan menjamur di pintu masuk hingga kawasan objek wisata Grojogan Sewu. Sekilas, sate kelinci memiliki tampilan yang tidak beda jauh dengan sate ayam atau sate lainnya. Namun aromanya khas dan rasanya lebih empuk.

Dalam penyajiannya, sate kelinci Tawangmangu dipotong lebih kecil. Kemudian disajikan dengan saus kacang yang dilumuri kecap bersama potongan bawang dan cabe rawit. Selain itu ditambah lontong atau nasi yang bikin perut cepat kenyang. Untuk menyantapnya cocok dengan minuman hangat seperti jahe, teh atau minuman khas tradisional seperti secang.

Penjual sate kelinci Ridwan Nur Hadiyanto, 38 mengaku membuka usahanya sejak 2000. Dia mengakui, penikmat sate kelinci mulai dari anak-anak, dewasa maupun orang tua.

Namun kebanyakan saat ini sate kelinci banyak diburu oleh kalangan ibu hamil. Lantaran organ bagian kepala dan dalam seperti hati maupun paru dipercaya mampu menguatkan kandungan. Selain itu penangkal penyakit asma.

”Ya kalau dagingnya memang sebagai penghangat. Apalagi di wilayah Tawangmangu seperti ini. Tapi untuk saat ini yang sedang diburu warga itu adalah bagian kepala dan organ dalam. Olahan otak kelinci untuk kekuatan rahim. Kemudian bagian organ dalamnya untuk mengurangi penyakit asma,” kata Ridwan ditemui di kiosnya wilayah Desa Plumbon, Tawangmangu.

Bersama sang istri, Amin Sulistuowati, dia membuka usahanya karena ingin mengikuti kesuksesan pedagang-pedagang sate kelinci di Air Terjun Grojogan Sewu. Ridwan mengatakan, sebenarnya sate kelinci hanya sebagai pelengkap dan pengganti sate ayam.

”Dulu itu awalnya memang sate ayam, kelinci hanya sebagai pengganti saja. Tapi karena banyak yang tanya dan rasanya tidak kalah dengan sate ayam, kemudian pedagang mengembangkan sate tersebut. Beberapa warga mencoba ternak kelinci, kemudian mulai membuat sate itu,” terangnya.

Untuk harga, sangat terjangkau. Satu porsi hanya Rp 20.000, sedangkan olahan lainnya seperti rica-rica seharga Rp 17.000. (rud/adi/dam)

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/